fbpx
55 Tahun YPTB Malang, Perjalanan Luar Biasa Sekolah untuk Anak Berkebutuhan Khusus

Malanginspirasi.com  – Bertepatan dengan Hari Pahlawan tanggal 10 November 2019, Yayasan Pendidikan Tunas Bangsa (YPTB) Malang berulang tahun ke-55. Perjalanan yang panjang nan luar biasa mengiringi yayasan pendidikan yang didirikan untuk sekolah anak berkebutuhan khusus ini.

Pada mulanya, akronim awal dari yayasan ini adalah Yayasan Pendidikan Tulis Bisu. Pendirinya adalah Muhammad. Sun’an, Bupati Malang kala itu, di tahun 1964. Namun penyelenggaraan SLB-B (TK dan SD) baru benar-benar efektif setahun setelahnya.

Uniknya, empat murid pertamanya adalah putra putri dari Bupati Malang itu sendiri. Mereka dibimbing oleh Djabir Tjiptoutomo yang dibantu istrinya, Hudawati Tjiptoutomo. Untuk kelas belajarnya, dilakukan di salah satu ruangan rumah dinas Bupati Malang.

Seiring perkembangan waktu, sekolah khusus untuk anak-anak tuna rungu ini mulai menerima banyak murid dari luar. Di tahun 1972, kegiatan belajar mengajar dipindah ke Jl. Brigjen Slamet Riyadi No. 126, Kelurahan Oro-oro Dowo, Kecamatan Klojen, Kota Malang.

Di tahun 1984, SLB-B YPTB Malang memperoleh Status Terdaftar di Departemen PDK (Pendidikan dan Kebudayaan) Provinsi Jawa Timur. Selang dua tahun kemudian, tepatnya 1 Maret 1986, yayasan resmi menyandang perubahan nama menjadi Yayasan Pendidikan Tunas Bangsa. Hudawati Tjiptoutomo atau yang kerap disapa Bu Cip, menjadi Kepala SLB-B hingga pensiun di tahun 1999.

Para alumni sekolah anak berkebutuhan khusus (YPTB) dengan Bu Cip
Para alumni bersama dengan sesepuh YPTB, Bu Cip.  (Ist/YPTB Malang)

Meski sudah berusia 55 tahun, YPTB Malang hanya tiga kali mengalami pergantian nakhoda. Periode awal dipimpin oleh Dr. Ibnu Mahoen (almarhum), kemudian H. Abdurochim (almarhum) dan Cholis Idham hingga sekarang. Di antaranya masih memiliki hubungan darah dekat. Sebagai informasi, putra Dr. Ibnu Mahoen sendiri juga menderita tuna rungu.

Menurut Ketua YPTB Malang, Cholis Idham, yayasan memang dikelola oleh keluarga demi melanjutkan amanah dari pendirinya. Meski demikian, pihak yayasan menerima dengan tangan terbuka tenaga pengajar dari luar. Beberapa di antaranya bahkan ada yang diperbantukan dari Dinas Pendikan Kota Malang.

“Kebutuhan untuk pengajar memang sangat vital. Sebab tidak seperti sekolah pada umumnya, sekolah untuk anak berkebutuhan khusus ini rasionya maksimal 1 banding 4. 1 Guru untuk 4 siswa. Lebih dari itu, proses belajar mengajar tidak akan efektif,” tutur Cholis.

Para Pengurus Yayasan untuk Sekolah Anak Berkebutuhan Khusus
Cholis Idham, paling kanan, bersama pengurus yayasan lainnya. (Ist/YPTB Malang)

Karena itu, lanjutnya, pihak yayasan mengandalkan tenaga pengajar yang diperbantukan agar sekolah untuk anak-anak tuna rungu ini tetap dapat beraktivitas normal. Sementara untuk menggaji guru-guru rekrutan sendiri, cukup berat bagi yayasan.

“Mereka kan harus digaji, setidaknya sesuai UMR (Upah Minimun Regional). Padahal biaya operasional yayasan ini nyaris bergantung sepenuhnya pada para donatur. Apalagi selain biaya operasional rutin, kami juga harus berbagi perhatian untuk pembenahan bangunan fisik sekolah. Jadi sangat berat bagi kami jika harus bergantung seratus persen pada guru-guru swasta,” ujarnya.

Mengenai adanya kemungkinan tenaga pengajar yang diperbantukan suatu saat akan ditarik kembali oleh Dinas Pendidikan, Cholis hanya pasrah.

“Kalau itu yang terjadi, ya bisa saja kami serahkan yayasan ini untuk sekalian dikelola sepenuhnya oleh pemerintah. Apa boleh buat. Yang penting anak-anak tetap dapat bersekolah di tempat yang sesuai dengan kebutuhan mereka,” jelasnya.

Namun Cholis Idham optimis dengan tekad keras seluruh pengurus serta kedermawanan para donatur, YPTB Malang tetap dapat bertahan.

Sementara itu, memperingati HUT-nya yang ke-55, segenap pengurus, pensiunan pengajar, guru-guru serta sebagian murid dan para alumni, menyempatkan berziarah ke makam pendiri yayasan, Jumat (8/11).

Jelang Berangkat Ziarah
Jelang berangkat ziarah dari sekolah. (Ist/YTPB Malang)
Tabur Bunga
Tabur bunga dan berdoa di makam pendiri yayasan. (Ist/YPTB Malang)
Di depan Makam Dr. Ibnu Mahoen
Di makam Dr. Ibnu Mahoen di TMP Malang. (Ist/YPTB Malang)
Pose Bareng di Makam
Pengurus berpose bareng bersama para staf pengajar di makam. (Ist/YPTB Malang)

Selepas Sholat Jumat, mereka kemudian berlanjut bersilaturahim dan saling melepas kangen di RM Mbok Dower di Jalan Simpang Balapan.