fbpx
Profesor UB Manfaatkan Tanaman Refugia untuk Habitat Arthropoda dan Pupuk Pestisida Hayati
Malanginspirasi.com, Universitas Brawijaya – Arthropoda merupakan komponen biologi yang memiliki peranan sangat penting dalam agroekosistem. Diantaranya sebagai musuh alami hama, penyerbuk, pengurai dan peran sebagai bioindikator.

Untuk lebih meningkatkan peran Arthropoda, Profesor dalam bidang ilmu entomologi dan ekologi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Brawijaya (UB), Prof. Amin Setyo Leksono, S.Si., M.Si., Ph.D, melakukan inovasi kombinasi rekayasa habitat untuk pupuk dan pestisida hayati cair dengan memanfaatkan potensi lokal, termasuk tanaman refugia.

“Rekayasa habitat perlu dilakukan sebagai upaya untuk menciptakan habitat alternatif bagi arthopoda. Sebagai tempat untuk berlindung, berteduh, mencari makan, istirahat dan bereproduksi,” sebutnya di Gedung Rektorat UB beberapa waktu lalu.

Rekayasa habitat dapat dilakukan dengan menanam tanaman refugia di tepian kebun maupun pematang sawah menggunakan ajir tunggal dan ajir ganda. Tanaman refugia sendiri merupakan tumbuhan-tumbuhan yang sering kali dianggap sebagai tumbuhan liar.

“Beberapa jenis tumbuhan refugia yang kami tanam diantaranya babandotan, kenikir, marigold, bawangan. Dan sebagian lain adalah tumbuhan budidaya seperti kacang panjang, gambas, cabai, dan tomat,” terangnya.

Menurutnya, desain rekayasa habitat dengan ajir tunggal disukai oleh kumbang kubah, kupu-kupu dan capung. Sedangkan desain ganda disukai semut, kumbang kubah dan laba-laba. Adanya ajir ganda menyebabkan laba-laba mudah membuat jaring untuk menangkap mangsa.

Selain melakukan rekayasa habitat, Prof. Amin juga melakukan inovasi dengan membuat pupuk pestisida hayati cair (Biocombat) yang berasal dari bahan alami lokal seperti empon-empon, gadung, buah maja, dicampur dengan air cucian beras, air kelapa, gula dan terasi. Bahan-bahan ini mudah di dapatkan disekitar lahan budidaya karena memang berasal dari bahan lokal sehingga petani sebenarnya bisa membuatnya sendiri.

“Saya sudah seringkali memberikan sosialisasi mengenai cara pembuata pupuk dan pestisida hayati ini mulai dari Pacitan, Trenggalek, Malang selatan, Pujon sampai keluar jawa seperti di Palangkaraya maupun di Kalimantan Barat,” ujarnya.

Tanaman Refugia
(Sering dianggap sebagai tumbuhan liar, tanaman bunga refugia dapat dimanfaatkan untuk habitat arthopoda seperti laba-laba sebagai predator alami hama pengganggu tanaman. Foto : Ist)

Baca Juga : Siswi MTsN1 Malang Manfaatkan Ganyong dan Bayam Jadi Beras Analog LOGAN

Sementara itu dari apa yang sudah pernah ia praktekkan di lahan pertanian apel, pengaplikasian pupuk pestisida hayati cair ternyata mampu meningkatkan dari kadar gula, kadar vitamin c, kadar kalium, serta kualitas tanah.

“Kualitas tanahnya juga mengalami peningkatan dengan aplikasi ini. Tapi tentu saja ini bukan satu-satunya, karena tanaman budidaya harus tetap diberikan pupuk organik. Jadi selain diberikan pupuk organik maka diberikan juga apa yang dikenal sebagai pupuk pestisida hayati,” ungkapnya.

Pengaplikasian pupuk pestisida hayati ini bisa dilakukan dengan cara melarutkan 10 ml biocombat untuk 1 liter air, semprotkan pada tanaman pada saat pagi atau sore hari. Lakukan penyemprotan tersebut secara rutin 1 minggu sekali.

“Sejauh ini Biocombat memang belum sampai ke dunia industri, karena kita masih coba terus meningkatkan kualitasnya dari sisi komponen biologisnya. Saat ini kami sedang meneliti kandungan dari jenis-jenis bakteri atau jamur yang ada di dalamnya yang memberikan manfaat positif bagi lahan budidaya,” pungkasnya.