fbpx
7 Komoditas Perkebunan Jadi Prioritas Peningkatan Ekspor
Malanginspirasi.com, Singosari – Melalui Program Gerakan Tiga Kali Ekspor (Gratieks), Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo menargetkan peningkatan tiga kali lipat ekspor pertanian. Khusus untuk subsektor perkebunan, prioritas peningkatan ekspor akan difokuskan pada tujuh komoditas.

Demikian dinyatakan Dirjen Perkebunan, Kasdi Subagyono, saat membuka peringatan Hari Perkebunan di Polbangtan Singosari, Kabupaten Malang, Selasa (10/12).

“Pak Mentan meminta kami menyeleksi komoditas yang akan menjadi fokus untuk peningkatan ekspor perkebunan. Dari 137 komoditas kami seleksi menjadi 10 komoditas. Lalu kami pilih lagi hingga menjadi tujuh komoditas, yaitu kopi, kakao, kelapa, jambu mete, lada, pala, dan vanili. Ketujuh komoditas ini dipilih karena dinilai paling strategis untuk diakselerasi,” ujar Subagyono.

Menurut Kasdi, pengembangan komoditas-komoditas perkebunan strategis tersebut akan dikoordinasikan dalam kerangka program Gerakan Peningkatan Produksi, Nilai Tambah dan Daya Saing Perkebunan (Grasida).

Dalam pelaksanaan program ini, Kementan akan merangkul berbagai pihak, termasuk BUMN dan swasta.

“Sesuai dengan arahan Pak Menteri, tidak boleh ada yang bekerja sendiri. Kalau mau pertanian kita hebat, semua pihak harus bersinergi. Begitupun dengan korporasi petani yang saat ini kita bangun, petani harus ada mitra di sisinya. Swasta dan BUMN harus berperan sebagai mitra petani dan turut membantu petani agar terangkat pendapatan dan kesejahteraannya,” ucapnya.

Baca Juga : Belum, Kopi Dampit Belum Miliki Indikasi Geografis

Khusus untuk pembiayaan, Kementan tidak hanya akan mengandalkan anggaran pendapatan belanja negara (APBN). Kasdi menyebutkan pihaknya akan menggandeng perbankan.

Kasdi Subagyono
(Kasdi Subagyono, Dirjen Perkebunan Kementan RI)

“Kita tidak bisa hanya mengandalkan APBN dan APBD (anggaran pendapatan belanja daerah.red). APBN dan APBD hanya stimulan. Kita butuh instrumen perbankan untuk pembiayaan pertanian, termasuk perkebunan,” terang Kasdi.

Salah satu instrumen perbankan yang akan diperkuat adalah Kredit Usaha Rakyat (KUR). Pertanian disebut akan mendapatkan alokasi sebesar Rp 50 triliun.

Subsektor perkebunan hingga saat ini memang masih salah satu penyumbang terbesar pertumbuhan perekonomian nasional. Jika dilihat dari sumbangan terhadap produk domestik bruto (PDB) pertanian, komoditas perkebunan berkontribusi sebesar 34% atau senilai 429,68 triliun rupiah.

Angka ini lebih besar bila dibandingkan dengan kontribusi Minyak dan Gas terhadap PDB Nasional yang hanya sebesar 369,35 triliun rupiah.

Sebagai informasi, 70 persen perkebunan Indonesia adalah perkebunan rakyat.