fbpx
Dua Pemuda Tuban Sulap Lahan Kosong Jadi Kebun Organik Di Bumiayu Malang
Malanginspirasi.com, Bumiayu, Kedungkandang – Milenial mana yang mau pegang pacul? Pertanyaan itu rupanya tidak berlaku untuk dua pemuda di Bumiayu, Kota Malang ini. Keseharian mereka berjibaku dengan dunia pertanian organik, yang mutlak butuh kemauan keras dan harus mau pegang pacul. Mereka bekerja secara mandiri mendirikan kebun organik di Bumiayu, Kecamatan Kedungkandang, Kota Malang.

Mereka adalah Jasmito dan Junaidi. Pemuda asal Tuban yang tinggal di Jalan Bayam 2 No 4, Kelurahan Bumiayu, Kecamatan Kedungkandang, Kota Malang.

Dengan modal ketelatenan, mereka membudidayakan berbagai jenis sayur. Beberapa di antaranya adalah pakcoy, sawi caisim, buncis, dan berbagai sayuran lokal lainnya.

Bahkan tak tanggung-tanggung, saat ini sudah merambah ke sayur impor. Seperti kale, romaine, arugula, pakcoy ungu, dan berbagai jenis sayur impor lainnya.

“Sampai sejauh ini, sayur yang berhasil kami budidaya adalah jenis kale. Ada tiga jenis kale yang kami tanam dan sudah beberapa kali panen hingga terjual,” ungkap Jasmito yang juga merangkap bagian pemasaran.

Lebih lanjut ia menjelaskan, tiga jenis kale yang dikembangkan tersebut adalah kale red russian, nero, dan curly.

Ada pun sayur impor lainnya, masih diujicobakan. Hal ini demi mempelajari cara menanam yang efektif, pengenalan hama utamanya, dan berbagai kendala lain dalam budidaya.

“Beberapa waktu lalu kami menanam horenzo dan romaine. Tapi tidak ada yang tumbuh,” ungkap Junaidi.

Baca Juga : Menengok Kebun Sayur Organik di Baran Agro

Sejak saat itu, mereka mencoba lagi menyemai di polibag dan ditaruh di atas rak, tidak langsung menyemai di tanah bedengan. Hasilnya memang tumbuh jauh lebih baik dibanding langsung di tanah bedengan.

Jasmito dan Mahasiswa UB
(Jasmito dan seorang mahasiswa Universitas Brawijaya saat mengambil data penelitian. Foto : Ito/Malang Inspirasi)

Hasil kebun organik tersebut diperjual belikan. Bahkan Jasmito mengaku sudah melalui penjualan sayur beberapa tahun yang lalu menggunakan petani mitra di beberapa tempat. Sementara untuk sisa sayur yang tidak terserap pasar, dikonsumsi sendiri dan dibagikan ke beberapa saudara serta tetangga sekitar.

Sistem penjualan mereka mengikuti tren milenial, yakni menggunakan sosial media seperti instagram, google bisnis, whatsapp, facebook, dan website orgomedia.com. Memanfaatkan jaringan sosial dianggap yang paling murah dan minim resiko kerugian.

Dengan berbekal lahan kosong milik warga luar Malang, mereka berdua dengan cekatan mengubah lahan tersebut jadi kebun organik di Bumiayu.

Baca Juga : Kopi ‘KKN’ Wadahi Anak Muda Belajar Berbisnis Kopi

Kegiatan tersebut dilakukan mulai bulan Oktober lalu atas inisiatif Jasmito yang sudah mulai 2008 tinggal di Malang. Dia melihat potensi usaha organik masih terbuka lebar, terlebih jika mau budidaya sayur impor organik.

Junaidi Bersama Mahasiswa STPP
(Junaidi bersama mahasiswi Sekolah Tinggi Penyuluh Pertanian (STPP) Malang. Foto : Ito/Malang Inspirasi)

“Peminat sayur impor sangat tinggi. Sampai sejauh ini belum ada di kota Malang yang mengembangkan sayur impor. Paling hanya sayur lokal seperti kangkung, bayam, sawi-sawian, buncis yang sudah banyak,” tuturnya.

Sedangkan Junaidi mulai tertarik ikut jejak Jasmito sejak mengikuti workshop yang ada kaitannya dengan budidaya organik di Malang beberapa bulan yang lalu.