fbpx
Nasi Goreng Kambing
Malanginspirasi.com, Kayutangan – Nasi goreng merupakan salah satu jenis kuliner yang sangat mudah dijumpai. Mulai dari yang sekelas mi dugdug, warung pinggir jalan hingga disajikan di hotel bintang lima. Juga jamak mendapati nasi goreng menjadi menu andalan restoran-restoran Indonesia di luar negeri. Bahkan di antara sedikit kata dalam bahasa Indonesia yang diingat betul mantan Presiden AS, Barack Obama, selain bakso dan sate… nasi goreng!

Hebatnya lagi, masakan ini kembangannya bisa ratusan. Baik itu cara penyajian maupun bahan baku utama pendampingnya seperti udang, teri, kepiting, daging ayam, sapi, babi, dlsb. Ada pula yang diberi tambahan daging kambing atau yang dikenal nasi goreng kambing.

Meski tak sepopuler nasi goreng daging ayam, misalnya, namun nasi goreng kambing memiliki penggemar fanatik sendiri.

“Di Kampung Kauman banyak yang kulinernya menggunakan daging kambing. Contohnya nasi dengan campuran daging kambing yang kita kenal sebagai nasi kebuli. Sebenarnya ada kemiripan dengan nasi goreng daging kambing. Bedanya nasi kebuli diolah dengan rempah-rempah khas Arab atau India, sementara nasi goreng kambing dimasak dengan bumbu-bumbu layaknya nasi goreng biasa,” ujar Irene Triasning Putri ketika ditemui di Kayutangan, Ahad (8/12).

Menurutnya nasi goreng dengan campuran daging kambing termasuk kuliner yang jarang masuk dalam daftar menu di rumah makan. Bisa jadi karena tak semua orang menyukai aroma daging kambing yang agak menyengat. Apalagi daging kambing selama ini diidentikan dengan pemicu penyakit darah tinggi dan kolestrol.

“Padahal jika diolah dengan racikan bumbu yang tepat, nasi goreng ini (kambing, red) rasanya tak kalah lezat dibanding nasi goreng-nasi goreng lainnya. Kalau soal penyakit, apa pun yang berlebihan pasti tidak baik,” tutur Irene.

Ia mengingat awal ketertarikannya dengan nasi goreng kambing adalah ketika masih SMP dan tinggal di Jakarta. Suatu ketika orang tuanya mengajak singgah di sebuah warung makan yang ngetop dengan menu nasi goreng kambingnya.

Cita rasa yang unik sempat membuatnya ketagihan sekaligus penasaran kala itu. Sewaktu kuliah di Surabaya, ia terkadang berkeliling menjajal berbagai rumah makan yang memiliki aneka menu nasi goreng. Begitu juga nasi goreng kambing. Akan tetapi rasanya tak ada yang semaknyus yang di Jakarta.

“Karena hobi masak, saya coba-coba berkreasi membuatnya sendiri di rumah. Kemudian saya suguhkan ke kerabat atau teman-teman. Banyak yang bilang enak. Malah ada yang nyarankan untuk dikomersialkan (dijual, red),” kata ibu tiga orang anak ini.

Baca Juga : Peluang Usaha Kuliner Olahan Bandeng Masih Terbuka Lebar

Tak berhenti sampai di situ, bersama Komunitas Bianglala, komunitas emak-emak penggiat UMKM, ia ikut lomba masak di acara “Uklam-uklam Heritage nang Kajoetangan” yang digelar Transmart dan difasilitasi Pemerintah Kota Malang akhir Agustus lalu. Tak dinyana, masakannya menyabet juara II di acara tersebut.

Irene dkk di Uklam2 Malang
(Irene dengan para emak-emak lainnya di acara “Uklam-uklam Heritage nang Kajoetangan”. Image : Ist)

”Motor dari Komunitas Bianglala adalah Mbak Hani Anissa. Kebetulan Mbak Hani punya seorang kakak yang mau mendirikan kedai kopi di daerah Kayutangan. Konsepnya bukan sekedar kedai kopi. Tapi kedai kopi bernuansa jadul dengan variasi makanan pendamping yang istimewa. Mbak Hani mengajak saya ketemu dengan Pak Cholis Idham, kakaknya,” ucap Irene.

Juara II di Acara Lomba Masak Pemkot
(Irene Triasning Putri (memegang piala) saat meraih juara II di acara lomba masak yang digelar Transmart di Kayutangan akhir Agustus 2019. Image : Ist)

Bertemulah ia kemudian dengan Cholis Idham, pemilik Griyo Kopi de Kajoetangan yang berlokasi di Jl. Jend. Basuki Rahmad VI/962.

Omong punya omong, ngalor nyambung ngidul, ide ketemu ide, tak butuh waktu lama bagi Irene untuk mengiyakan tawaran bekerjasama menyediakan sejumlah makanan pendamping di kedai kopi yang terletak di perkampungan Kayutangan yang legendaris itu.

Suasana di Acara Uklam2 Malang Sekaligus Memperkenalkan Masakan Nasi Goreng Kambing
(Suasana di acara “Uklam-uklam Heritage nang Kajoetangan”. Di acara tersebut, Irene sekaligus mengenalkan masakan nasi goreng kambingnya. Image : Ist)

Cholis Idham sendiri membebaskannya untuk secara bertahap memperbanyak jenis makanan yang disajikan, mulai dari makanan ringan (kletikan) sampai makanan “kelas berat” seperti nasi goreng kambing.

Pun demikian dengan varian minuman kopinya.

“Saat ini kami tengah mengenalkan SKMJ, Susu Kopi Madu Jahe. Beda dengan STMJ, karena telurnya diganti kopi. Minuman ini bisa disajikan dalam bentuk wedang (panas) maupun dingin dicampur es batu. Tapi dua-duanya tetap terasa sensasi kopinya,” kata jebolan UPN Veteran Surabaya ini.

Baca Juga : Griyo Kopi de Kajoetangan, Tawarkan Tempat Ngopi Bernuansa Jadul di Kampoeng Heritage

Khusus untuk menu nasi goreng kambing, sebagian bumbu dan bahan bakunya sudah ia siapkan di rumahnya di kawasan Sawojajar. Hal ini semata demi memudahkan proses penyajian ketika ada yang memesannya.

“Takaran bumbu dan daging kambingnya tetap sama. Di sini tinggal meraciknya ketika ada yang pesan,” ujarnya.

Menyiapkan Kletikan
(Tak hanya makanan berat, Irene juga menyajikan makanan ringan di kedai kopi milik Cholis Idham di Kayutangan. Image : Ist/Malang Inspirasi)

Disinggung apakah tak takut sepi peminat mengingat nasi goreng dengan taburan daging kambing tak sepopuler nasi goreng lainnya, Irene menjawab diplomatis.

“Orang tahunya masakan daging kambing memang sangat terbatas. Paling tak jauh-jauh dari krengsengan, sate atau gule. Tapi balik lagi ke cara mengolahnya. Kalau pas, daging kambing pun bisa dibuat menjadi macam-macam masakan yang nikmat. Termasuk nasi goreng. Monggo kalau ingin mencobanya,” pungkas Irene.