Malanginspirasi.com, Pasar Madyopuro – Tak ada pekerjaan yang hina. Sepanjang dikerjakan dengan sungguh-sungguh dan bermanfaat bagi masyarakat, niscaya akan mendatangkan keberkahan. Sekali pun pekerjaan itu mungkin dipandang sebelah mata oleh sebagian orang. Itu pula yang dialami oleh seorang tukang sampah hingga kini menjadi Pengelola Pasar Madyopuro.

Siapa sangka Koordinator Pengelola Pasar Madyopuro dulunya hanyalah seorang tukang atau juru pungut sampah. Perjalanan nasiblah yang kemudian membawanya menjadi seperti sekarang.

Akan tetapi bagi Imam Fauzi, pekerjaan yang ia lakoni dulu bukanlah aib, sehingga tak ada yang perlu disembunyikan. Malah ia bangga karenanya.

“Juru pungut sampah sangat penting bagi pasar seperti Pasar Madyopuro ini. Keberadaan mereka sama pentingnya dengan yang lain di sini. Tanpa mereka, pasar akan cepat kukut ditinggal pembeli. Pedagang pun pasti juga tak betah berjualan di tempat yang jorok, yang tak terawat kebersihannya,” tutur Imam Fauzi saat ditemui di kantor Pengelola Pasar Madyopuro, Kota Malang, beberapa waktu silam.

“Jadi kenapa harus malu (pernah) jadi juru pungut sampah?” imbuhnya.

Pasar Madyopuro

(Di pasar inilah Pak Ji menghabiskan masa mudanya hingga menyongsong pensiun. Image : Ton/Malang Inspirasi)

Pria yang kerap dipanggil Pak Ji ini menuturkan sudah menjadi petugas kebersihan sejak tahun 1985. Kala itu pasar yang sekarang dikenal sebagai Pasar Madyopuro tak lebih dari lokasi sederhana tempat bertemunya penjual dan pembeli. Bahkan tak sedikit para pedagang yang menggelar barang dagangannya di pinggir jalan. Mirip-mirip pasar tumpah.

Dengan kondisi yang demikian, bisa ditebak sampah banyak berceceran di mana-mana. Adalah tugas Pak Ji muda ketika itu untuk sesegera mungkin membereskan sampah-sampah yang ada agar tak sampai mengganggu masyarakat yang lalu lalang atau tinggal di sekitar kawasan tersebut.

Selang beberapa tahun kemudian, Pemerintah Kota Malang membenahi aktivitas perdagangan warga ini dengan membangunkannya sebuah pasar yang lebih representatif dan layak. Februari 2004, Pasar Madyopuro yang berbatasan langsung dengan wilayah Kabupaten Malang, mulai beroperasi.

Meski demikian, peruntungan tak serta merta menghampiri Pak Ji. Ia masih harus menunggu tiga tahun lagi sebelum statusnya dinaikkan sebagai karyawan resmi Pemkot Malang.

“Tahun 2007 saya diangkat jadi Pegawai Negeri. Lebih dari dua puluh tahun sejak saya kerja di pasar ini. Tapi itu tetap saya syukuri karena apa yang saya lakukan mendapat perhatian pemerintah,” ujar Pak Ji.

Berdialog dengan Pedagang

(Setiap hari Pak Ji berkeliling pasar dan menyempatkan berinteraksi dengan para pedagang. Image : Ton/Malang Inspirasi)

Dedikasinya bekerja di pasar yang berada di Kecamatan Kedungkandang tersebut kian dihargai. Bapak dua anak ini sejak tahun 2010 diangkat menjadi Pengelola Pasar Madyopuro. Posisi yang mungkin tak pernah dibayangkannya tiga puluh tahun lalu.

“Saya menjalani hidup apa adanya. Nggak neko-neko. Mulai digaji Rp 15 ribu ketika pertama kali kerja di sini sampai akhirnya jadi Kepala Pasar, saya syukuri saja. Rejeki sudah ada yang ngatur. Alhamdulillah,” demikian kata Pak Ji.

Baca Juga : Mbah Warimun, Jualan Pisang Hingga Usia Renta

Membawahi delapan petugas pasar plus mengelola ratusan pedagang, tentu bukan pekerjaan yang datar-datar saja. Ada kalanya ia mengalami masa-masa yang menguras pikiran dan energi. Misalnya saat ramai-ramainya kasus flu burung tahun 2011 silam.

Kendati Pasar Madyopuro relatif aman dari penyebaran penyakit mematikan tersebut, namun ia tetap harus pontang panting meyakinkan dan mengontrol para pedagang, utamanya pedagang unggas, agar ekstra waspada. Lebih baik langkah antisipasi dilakukan semaksimal mungkin daripada menyesal nantinya.

“Faktor menjaga kebersihan ini yang tak bosan-bosannya saya tekankan kepada para pedagang di pasar. Bahkan sampai hari ini. Kadang ada juga pedagang yang ndableg. Suka sembrono dengan sampah sisa-sisa dagangannya. Itu saya tegur,” terangnya.

Siaran di Radio Pasar Madyopuro

(Selain untuk menyampaikan informasi-informasi penting, radio di Pasar Madyopuro kerap digunakan Pak Ji untuk menyelipkan pesan agar para pedagang menjaga kebersihan. Bahkan saat wabah flu burung beberapa tahun lalu, radio ini berjasa besar mengedukasi pedagang melakukan tindakan preventif mencegah penyebarannya. Sayang, radio tersebut kini sangat jarang lagi difungsikan karena banyak yang harus diperbaiki. Padahal bejibun manfaat jika radio ini kembali berfungsi seperti semula. Image : Ton/Malang Inspirasi)

Menurut Pak Ji, ada atau tidak ada wabah penyakit, kebersihan mutlak menjadi tanggung jawab bersama. Pasalnya, selain berkaitan langsung dengan kesehatan, pasar yang terawat kebersihannya akan menjadi pasar yang nyaman baik bagi mereka yang mencari nafkah atau pun mereka yang datang untuk berbelanja.

“Saya sudah dekat masa pensiun. Mungkin karena mulainya pekerjaan sebagai tukang sampah di sini, saya ingin hingga pensiun nanti Pasar Madyopuro dikenal sebagai pasar yang bersih, rapi, aman dan nyaman untuk dikunjungi. Mudah-mudahan,” pungkas Imam Fauzi alias Pak Ji mengungkapkan harapannya.