fbpx
Lonjakan Harga Cabai Bakal Picu Inflasi
Malanginspirasi.com, Pasar Madyopuro – Selama dua pekan terakhir, komoditas cabai mengalami kenaikan harga yang sangat signifikan. Lonjakan harga cabai hingga lebih dari tiga kali lipat tersebut besar kemungkinan bakal mengerek inflasi di bulan Januari 2020.

Meski sempat menurun tipis dibandingkan sehari sebelumnya, namun harga cabai di sejumlah pasar di Kota Malang masih relatif sangat tinggi. Di Pasar Madyopuro, misalnya. Harga cabai rawit masih bertengger di kisaran Rp 75-80 ribu/kg. Harga yang sama juga berlaku untuk cabai merah.

Menurut seorang pedagang di Pasar Madyopuro, lonjakan harga cabai sangat dipengaruhi oleh pasokan yang berkurang drastis.

“Pasokan jauh berkurang. Sering terlambat dan barangnya juga banyak yang kurang bagus. Mungkin karena sudah masuk musim hujan sehingga panenannya tak sebagus di musim kemarau. Ini yang bikin harga cabai terus naik,” ujar si pedagang.

Ia menambahkan, lonjakan harga cabai yang mulai terasa sejak awal tahun baru lalu membuatnya tak berani kulakan dalam jumlah besar. Jika biasanya ia kulakan sekitar 20 kg/hari, saat ini paling banter hanya 5 kg/hari.

“Kalau banyak-banyak kuatir ga laku. Pembeli sekarang belinya on-onan (100 gram, red). Jarang yang beli langsung setengah atau satu kilo. Kalau begitu terus, ya lama habisnya. Lagipula kalau harganya mahal seperti ini, butuh modal lebih besar untuk kulakannya,” tuturnya.

Baca Juga : Akhir Tahun 2019, Kota Malang Alami Inflasi 0,50 Persen Bulan Desember

Tingginya harga cabai ini sangat berpotensi memicu inflasi. Berdasarkan pengalaman yang sudah-sudah, cabai termasuk komponen utama penyumbang inflasi. Pasalnya, cabai merupakan komoditas yang banyak dicari masyarakat, seberapa pun mahalnya.

Selain itu, konsumsi cabai yang sulit dikendalikan ini otomatis sedikit banyak akan mengurangi pengeluaran masyarakat untuk membeli komoditas bahan-bahan pokok lainnya.