fbpx
Cabai Rawit Sumbang Inflasi Terbesar di Kota Malang Awal Tahun 2020
Malanginspirasi.com, BPS – Kota Malang kembali mencatatkan inflasi sebesar 0,41 persen pada bulan Januari 2020. Angka tersebut masih lebih rendah dibandingkan dengan Jawa Timur yang mengalami inflasi  0,50 persen. Melonjaknya harga cabai rawit sejak beberapa pekan terakhir berandil besar pada inflasi awal tahun.

Terjadinya inflasi di kota Malang di dorong akibat kenaikan pada kelompok pengeluaran. Dari 11 kelompok pengeluaran, hanya sembilan kelompok yang mengalami inflasi.

“Dari sembilan kelompok pengeluaran yang mengalami inflasi, kelompok makanan, minuman dan tembakau menunjukkan inflasi signifikan, disusul kemudian kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya,” jelas kepala Badan Pusat Statistik (BPS) kota Malang, Sunaryo, saat menyampaikan rilis inflasi Kota Malang di kantornya, Senin (3/2).

Pada kelompok makanan, minuman dan tembakau penyebab inflasinya terjadi dari kenaikan beberapa komoditas yaitu antara lain yang cukup tinggi dan andilnya cukup besar adalah kenaikan harga cabai rawit sebesar 44,72 persen dengan andil sebanyak 0,1006 persen.

Baca Juga : Lonjakan Harga Cabai Bakal Picu Inflasi

Selanjutnya adalah kenaikan harga cabai merah sebesar 40,77 persen dengan andil 0,0588 persen serta kenaikan harga daging ayam ras sebesar 3,26 persen dengan andil 0,0385 persen.

“Di beberapa tempat sebetulnya daging ayam ras sudah menurun, namun di Kota Malang masih tercatat mengalami kenaikan,” sebutnya.

Kemudian kenaikan harga tembakau pada rokok kretek filter 6,97 persen dan rokok kretek 6,15 persen turut memberikan andil inflasi di kota Malang berturut-turut sebesar 0,0978 persen dan 0,0229 persen.

Meski demikian menurut Sunaryo, ada dua kelompok yang menurunkan inflasi yaitu kelompok perlengkapan, peralatan dan pemeliharaan rutin rumah tangga, serta kelompok transportasi.

“Dari 11 kelompok pengeluaran ada dua kelompok yang mengalami penurunan, yakni perlengkapan, peralatan, dan pemeliharaan rutin rumah tangga, turun sebesar 0,17 persen, dan kelompok transportasi sebesar 0,14 persen,” tuturnya.

Sementara itu, di wilayah Jawa Timur sebanyak delapan kota tercatat mengalami inflasi, dengan inflasi tertinggi terjadi di Sumenep yang mencapai 0,84 persen. Sedangkan inflasi terendah terjadi di Kota Madiun sebesar 0,35 persen.