fbpx
Produksi Kopi di Kabupaten Malang Terkendala Cuaca Ekstrem
Malanginspirasi.com, Kepanjen – Dampak cuaca ekstrim produksi kopi di wilayah Kabupaten Malang, Jawa Timur tak bisa maksimal. Penyuluh pertanian wilayah Ampelgading, Tirtoyudo, dan Dampit (Amstirdam), Jajang Slamet mengatakan budidaya tanaman kopi saat ini terkendala cuaca ekstrim.

“Sebab tanaman kopi membutuhkan kondisi cuaca yang stabil. Terlalu kering maupun terlalu basah tidak bagus untuk tanaman pada cuaca seperti saat ini,” ungkap Jajang, Senin (3/2), menjelaskan produksi kopi yang fluktuatif.

Menurutnya, hujan terus menerus mempengaruhi hasil tanaman kopi. Kini produksi kopi petani dalam satu hektar hanya 900 kilogram sampai satu ton. Padahal di tahun sebelumnya dalam satu hektar mampu menghasilkan 1,2 ton.

“Memang kalau dibanding tahun lalu naik, tetapi dibanding tahun 2016 lalu produksinya turun,” terangnya.

Apalagi pada tahun lalu, hujan turun mundur yang biasanya hujan terjadi pada bulan Oktober mundur ke bulan Desember, sehingga proses pembungaan dan proses penuaan tanaman kopi otomatis terdampak.

Akibatnya, petani kopi di wilayah Kabupaten Malang belum mampu memenuhi kebutuhan eksport ke 55 negara di dunia. Kata dia, para petani kopi di wilayah Amstirdam belum melakukan eksport sendiri. Tetapi bekerjasama dengan PT Asal Jaya untuk melakukan eksport kopi ke negara negara di dunia.

“Dalam setiap tahun eksportir melakukan ekspor kopi sebanyak 45 ribu ton.Tetapi kopi produksi petani di Kabupaten Malang hanya 15 ribu ton,” urainya.

Baca Juga : Belum, Kopi Dampit Belum Miliki Indikasi Geografis

Sisanya, lanjut Jajang, eksportir mendatangkan kopi dari Jawa Tengah, Lampung dan Bali. Penyebab petani tidak bisa memenuhi kebutuhan eksport karena luasan lahan kopi belum memenuhi 45 ribu hektar, hanya 20 sampai 25 ribu hektar saja.

Jajang Slamet menambahkan, solusi agar petani mampu memenuhi kebutuhan eksport, para petani perlu diikutkan sekolah lapang budidaya tanaman kopi agar produksi kopi meningkat.

“Kalau perluasan lahan tanaman kopi tidak mungkin bisa dilakukan untuk meningkatkan produksi tersebut karena lahannya tidak ada,” tegasnya.

Harapannya dengan sekolah lapang, petani bisa berproduksi 1,5 sampai 2 ton perhektar, selama ini hanya satu ton perhektar.