fbpx
Produksi Kunyit Perlu Dikembangkan Mengingat Potensi Ekspornya Masih Sangat Besar
Malanginspirasi.com, Kepanjen – Seiring dengan terbukanya peluang pasar ekspor, produksi kunyit secara perlahan pun terus meningkat. Kunyit sebagai tanaman obat diperlukan sebagai bahan baku jamu dan fitofarmaka.

Data dari Biro Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Malang, pertumbuhan produksi kunyit periode 2016-2018 terus mengalami peningkatan. Di tahun 2016 produksinya adalah 1.124,3 ton, melonjak menjadi 1.704,5 ton di tahun 2017. Di tahun 2018, produksinya naik sedikit menjadi 1.708 ton.

Namun produksi kunyit ini sebagian besar untuk konsumsi lokal atau dikirim ke kota-kota lain. Padahal potensi ekspornya masih sangat luas. Umumnya pasar utama untuk ekspor kunyit adalah India dan Timur Tengah. Secara nasional, ekspor kunyit naik rata-rata 20 persen/tahun.

Kunyit sendiri merupakan tanaman obat yang menjadi bahan baku untuk jamu dan fitofarmaka. Sehingga pengembangan produksinya perlu terus dilakukan, baik itu untuk dimanfaatkan konsumsi dalam negeri maupun ekspor.

Sebagai informasi, fitofarmaka adalah obat tradisional dari bahan alam yang dapat disetarakan dengan obat modern karena diproduksi dengan standar tertentu. Optimalisasi tanaman obat tersebut diantaranya didorong dengan Inpres Nomor 6 Tahun 2016 tentang Percepatan Pengembangan Industri Farmasi dan Alat Kesehatan. Tindak lanjut Inpres itu dengan pengembangan obat tradisonal (fitofarmaka) setara dengan obat konvesional yang dapat diresepkan oleh dokter.

Jenis fitofarmaka yang akan dikembangkan salah satunya menggunakan bahan baku dari kunyit.

Baca Juga : 7 Komoditas Perkebunan Jadi Prioritas Peningkatan Ekspor

Dalam pengembangan tanaman obat tersebut, Kementerian Pertanian melalui Ditjen Hortikultura bersinergi dengan beberapa instansi terkait. Beberapa di antaranya seperti dinas pertanian (provinsi/kabupaten/kota), lembaga penelitian, kementerian terkait, perguruan tinggi, pelaku usaha serta asosiasi terkait.

Beberapa sentra produksi kunyit di Indonesia selain Jawa Timur adalah Jawa Tengah dan Jawa Barat. Untuk Kabupaten Malang, produksi tanaman yang juga dikenal dengan nama curcuma longa ini masih kurang optimal jika melihat luasan wilayahnya.

Selain itu, produktivitas produktivitas kunyit selama ini juga terbilang rendah. Dari potensi 30 ton/ha, panenan umumnya hanya berkisar separuhnya atau 15 ton/ha. Dengan permintaan dan peluang pasar ekspor yang terbuka lebar, diharapkan para petani berupaya lebih keras meningkatkan produktivitas tanaman kunyitnya.