fbpx
Rektor dan Staf Pengajar ITN dengan Pakaian Adat
Malanginspirasi.com, ITN – Pemandangan unik dan berbeda terlihat dalam pelaksanaan upacara tanggal 17 di lingkungan Institut Teknologi Nasional (ITN) Malang. Jika di hari biasa para dosen dan karyawan mengenakan pakaian seperti pada umumnya, mulai bulan ini dan seterusnya setiap tanggal 17 diwajibkan untuk mengenakan pakaian adat daerah. Kebijakan tersebut diambil untuk mendukung kegiatan Forum Komunikasi Kebangsaan Pelangi Nasional.

Rektor ITN, Dr. Ir. Kustamar. MT, mengatakan, generasi muda sekarang ini begitu mudahnya memandang suatu perbedaan sebagai sebuah permasalahan. Padahal disisi lain bangsa Indonesia sejak dulu sudah terkenal dengan budayanya yang beragam.

“Mahasiswa di ITN Malang ini juga berasal dari berbagai daerah dan itu kalau tidak kita kondisikan rawan juga terjadi gesekan gesekan. Oleh karenanya kita buat forum komunikasi kebangsaan dengan harapan bisa menyatukan semangat mereka serta membangun karakter cinta bangsa dan rasa nasionalisme yang salah satu perwujudannya dengan mengenakan pakaian adat setiap tanggal 17,” ujarnya usai memimpin upacara di halaman depan ITN kampus 1, Senin (17/2).

“Kita ambil semangat 17 Agustus. Karena dengan adanya keragaman tersebut seharusnya justru bisa dijadikan sebagai sesuatu yang potensial untuk digunakan dalam menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia,” imbuhnya.

Dikatakan Kustamar, saat ini kebijakan memakai pakaian adat masih kepada dosen dan karyawan untuk mengawali. Namun untuk yang berikutnya, mahasiswa juga akan dilibatkan.

Upacara dengan Pakaian Adat
(Dosen dan karyawan ITN wajib mengikuti upacara setiap tanggal 17 dengan mengenakan pakaian adat. Hal ini demi mengukuhkan rasa cinta tanah air dan nasionalisme. Foto : ANC/Malang Inspirasi)

“Untuk mahasiswa memang baru disosialisasikan hari ini. Kalau langsung diserentakkan, takutnya nanti akan memberatkan. Saya ingin mereka senang dan bangga mengenakan pakaian adat daerahnya masing-masing,” terangnya.

Baca Juga : Pakaian Khas Daerah ASN Semarakkan Apel Pagi di Balai Kota

Kedepannya, mahasiswa yang tidak sedang kuliah bisa ikut upacara. Tapi yang ada kuliah tetap melaksanakan perkuliahannya dengan memakai pakaian daerah juga.

Memang, lanjut Kustama, tidak ada sanksi khusus bagi yang tidak mengenakan pakaian adat. Hanya saja manakala yang tidak memakai pakaian daerah pada tanggal 17, mereka tidak boleh berada di dalam kelas, silahkan di luar. Kemudian bagi mahasiswa yang tidak memakai pakaian daerah di tanggal 17, sementara tidak dilayani dan ditunda di hari berikutnya.

Rektor ITN, Kustamar
(Rektor ITN, Dr. Ir. Kustamar. MT.)

“Tujuannya agar semua kompak untuk bersama-sama mengkondisikan pendidikan karakter membangun semangat nasionalisme kebangsaan,” sebutnya.

Ia menyadari, awalnya mungkin mereka masih malu. Tapi lama kelamaan yang tidak pakai baju daerah akan merasa malu dengan sendirinya melihat temannya banyak yang sudah memakai pakaian adat.

Baca Juga : Berpakaian Daerah, Wawali Resmikan Gedung Laboratorium Baru SMA Kertanegara Malang

Sementara itu dekan Fakultas Teknologi Industri. Dr. Ellysa Nursanti, ST, MT, mengaku sangat senang sekaligus bangga bisa mengenakan pakaian adat dari Papua.

“Sesuai dengan arahan Pak Rektor yang mengangkat tema nusantara dimana semua menyatu menjadi satu kesatuan maka semua pulau, semua suku, semua bagian menjadi bagian dari kita juga. Jadi saya mulai memakai pakaian adat dari daerah paling Timur dulu. Baru kemudian akan bergerak ke barat,” ujarnya.

Ellysa menambahkan, ia sudah mempersiapkan pakaian adat Papua ini sejak dua hari yang lalu dengan cara menyewa.