Haedar Nashir Tekankan Pentingnya Pemikiran Kaum Muda Dalam Meyelesaikan Masalah Bangsa

  • Whatsapp
Haedar Nashir Tekankan Pentingnya Pemikiran Kaum Muda Dalam Meyelesaikan Masalah Bangsa
(Ketua Umum PP Muhammadiyah, Prof. Dr. Haedar Nashir, M.Si. Menghadapi persaingan global yang semakin sengit, sumbangsih pemikiran kaum muda sangatlah penting. Foto : ANC/Malang Inspirasi)
Malanginspirasi.com, Sengkaling – Ketua Umum PP Muhammadiyah, Prof. Dr. Haedar Nashir, M.Si, mengatakan, pemikiran intelektual kaum muda, dirasa sangat dibutuhkan dalam menyelesaikan berbagai persoalan-persoalan bangsa. Terlebih dalam menghadapi persaingan global yang luar biasa keras.

“Di saat isu kaum milenial yang terkesan seperti budaya populer, anak-anak muda Muhammadiyah justru ingin mencoba menghadirkan nuansa intelektualisme kebangsaan. Dimana bangsa ini juga memerlukan pemikiran-pemikiran intelektual dalam menghadapi persaingan global,” ujar Haedar Nashir saat menghadiri acara Kolokium Nasional Interdisipliner Cendekiawan muda Muhammadiyah di Convention Hall Sengkaling, Jumat (6/3).

Menurut Haedar, negara-negara ASEAN saat ini tumbuh menjadi negara yang leading dibanding Indonesia. Kemudian perlu juga dilihat kawasan sekitar seperti Australia maupun Tiongkok yang muncul sebagai sebagai negara adidaya baru.

Read More

Oleh karenanya, bangsa Indonesia tidak akan cukup mengandalkan infrastruktur dan kekayaan sumber daya alam tanpa sumber daya manusia yang unggul.

“Nah di kaum muda inilah yang akan menjadi aset penting bagi kapitalisasi kemajuan bangsa dalam menghadapi persoalan-persoalan baru yang memerlukan pemahaman yang komprehensif,” tuturnya.

Lebih lanjut disampaikan Haedar, ada beberapa persoalan bangsa yang juga membutuhkan pemikiran dari para cendekiawan muda dalam menyelesaikannya. Misalnya, persoalan kesenjangan sosial dan peran Indonesia di dunia internasional.

Meskipun di sila ke lima pada Pancasila berbunyi “Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia”, namun realitas yang terjadi sekarang masih kerap terjadi kesenjangan sosial yang luar biasa. Padahal di satu sisi para pendiri bangsa sejak dulu tidak pernah menghendaki terjadinya kesenjangan sosial. Sehingga lahirlah istilah dari Bung Hatta yakni ekonomi kerakyatan atau ekonomi tertinggi di mana negara hadir untuk mereka yang tidak beruntung.

“Saya pikir bahaya terbesar bangsa Indonesia bukan lagi radikalisme ekstrimisme tapi kesenjangan sosial. Oleh sebab itu langkah negara tidak boleh parsial. Harus langkah yang sistematis untuk mewujudkan keadilan sosial,” ucapnya.

Haedar Nashir Menjadi Pembicara di Kolokium
(Haedar Nashir saat menjadi pembicara di Kolokium Nasional Interdisipliner Cendekiawan muda Muhammadiyah di Convention Hall Sengkaling, Jumat (6/3). Foto : ANC/ Malang Inspirasi)

Baca Juga : Hadiri Pelantikan Rektor, Ketum PP Muhammadiyah Berpesan UMM Harus Jadi Kekuatan Penggerak

Haedar mengajak seluruh komponen bangsa, termasuk mereka para konglomerat dan mereka yang menguasai politik untuk duduk bersama. Mendialogkan bagaimana keadilan sosial itu bisa diwujudkan di Indonesia.

“Saya masih percaya pada niat baik seluruh komponen bangsa, baik yang mayoritas maupun yang minoritas bahwa mereka sebenarnya punya kecintaan berbangsa. Tapi perlu kehadiran negara yang bisa menjembatani itu,” ungkapnya.

Kemudian, dalam menghadapi problem internasional, kehadiran Amerika dan China sebagai negara adidaya tentu akan selalu ada perang dagang maupun perang politik. Namun dalam kondisi tersebut Indonesia harus tetap kokoh menjadi negara yang bebas aktif tetapi memainkan peran yang signifikan. Karena sebenarnya Indonesia adalah negara yang besar.

“Dalam konteks ini maka Indonesia tidak boleh masuk ke dalam arus politik global yang merugikan kepentingan bangsa dan negara maupun kedaulatan negara serta tidak menguntungkan bagi perdamaian dunia,” pungkasnya.

Baca  Juga : PT Muhammadiyah Siap Bantu Lakukan Kajian Akademis Multidispliner Cegah Maraknya Kasus Korupsi

Sementara itu, Rektor UMM, Dr. Fauzan, M.Pd. dalam sambutannya berpendapat bahwa Cendekiawan Muda Muhammadiyah harus punya resonansi dan tanggungjawab nasional serta mampu mengawal Muhammadiyah untuk terus berkebaruan.

“Bukan hanya pandai berpikir dan menggagas, tapi harus pandai mengeksekusi ide-ide brilian itu. Kolokium ini hanya awal,” ujarnya.

Menunjukkan Buku “Dari Muhammadiyah Untuk Bangsa”
(Acara Kolokium Nasional juga diikuti dengan peluncuran buku “Dari Muhammadiyah Untuk Bangsa”. yang diserahkan secara simbolis kepada Ketum PP Muhammadiyah dan jajaran petinggi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Foto : ANC/Malang Inspirasi)

Dalam acara tersebut juga diselingi dengan launching dan penyerahan secara simbolis buku “Dari Muhammadiyah Untuk Bangsa”. Buku tersebut diserahkan oleh Wakil Rektor II UMM Dr. Nazarudin Malik, M.Si. pada Ketua Umum Pusat Muhammadiyah Haedar Nashir. Buku ini adalah versi buku dari jurnal Muhammadiyah Studies.

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *