fbpx
Pengusaha Keripik Jamur dari Pakisaji
Malanginspirasi.com, Pakisaji – Sebuah keluarga di wilayah pinggiran Malang, menggantungkan kehidupan ekonominya dari jamur. Mulai dari budidaya jamur, membuat keripik jamur hingga menciptakan aneka kuliner berbahan dasar jamur. Karena dikerjakan dengan sungguh-sungguh, usaha mereka kini berkembang pesat. Tak salah jika keluarga ini bisa disebut sebagai keluarga jamur.

Bagi Suhartini, bergelut dengan jamur bukanlah sesuatu yang asing. Sebelum mengolahnya menjadi keripik, ia terlebih dahulu menekuni usaha budidaya jamur di halaman samping rumahnya yang berada di daerah Pakisaji, Kabupaten Malang.

Namun usaha budidaya jamur tersebut sering menemui kendala, terutama dari sisi penjualan paska panen. Tak semua panenan jamurnya terserap. Sebabnya macam-macam. Bisa karena hasil panenan yang kurang bagus, bisa juga karena harga jualnya yang terlalu mepet dengan ongkos produksi.

“Kalau pun panenan jamurnya bagus, bakul yang datang ke sini sering tidak mau ambil semua. Mereka cuma mau kulak sebagian. Kadang sedikit, paling pol separuh. Tidak pernah semua diambil. Lha, jamur kan umurnya terbatas. Telat dipanen beberapa hari saja bisa jadi barang apkir. Ga laku dijual,” ujar Suhartini tentang awal usaha budidaya jamurnya.

Tak mau panenan jamurnya banyak yang mubazir, perempuan yang akrab dipanggil Bu Har ini berusaha mengolahnya menjadi sesuatu yang memiliki nilai tambah secara ekonomis serta masa konsumsinya lebih panjang. Dibantu suaminya, Sudjito, ia kemudian mencoba membuat keripik dari bahan baku jamur yang ia budidayakan sendiri.

Keripik Jamur Curah dari Pakisaji
(Keripik jamur yang dijual curah tanpa kemasan. Keripik curah ini biasanya dibeli pedagang cemilan untuk dijual kembali. Foto : Ist)

Awalnya memang tak mudah. Ia musti berkali-kali mencoba aneka resep olahan keripik jamur sampai kompisisinya betul-betul pas, baik dari segi rasa maupun bentuknya. Setelah itu tercapai dan produksi keripik jamurnya mulai dikenal, masalah lain muncul.

“Waktu itu saya belum punya PIRT (Produk Industri Rumah Tangga). Tanpa PIRT, saya kesulitan mengembangkan perluasan usaha keripik jamur ini. Saya jadi tak bisa menitipkan keripik jamur bikinan saya ke toko-toko besar seperti toko oleh-oleh. Soalnya, syarat untuk menaruh barang ke sana harus ada PIRT-nya,” terang Suhartini.

Namun dari masukan sebuah paguyuban pelaku industri kecil di wilayah Malang Raya, ia segera mengurus PIRT untuk usaha keripik jamurnya. Ijin PIRT itu pun keluar tak lama setelahnya.

Baca Juga : Rinik Odaci, Pengrajin Abon Kelinci dari Desa Pagelaran

Dengan adanya ijin khusus penjualan olahan makanan dan minuman yang dikeluarkan oleh BPOM tersebut, ia menjadi lebih leluasa memasarkan produk keripik jamur olahannya. Pengemasan yang praktis ditambah dengan penyempurnaan cita rasa produknya, membuat usaha Suhartini semakin berkembang. Produk keripik jamur miliknya mulai merambah ke beberapa kota selain Malang seperti Sidoarjo dan Surabaya.

Menyiapkan Bahan Baku Keripik
(Para pekerja tengah menyiapkan bahan baku untuk pembuatan keripik. Foto : Ist)

Bahkan puncak produksi dialaminya saat pertengahan Ramadhan hingga menjelang Lebaran. Pesanan terus saja berdatangan.

“Saya pernah kirim hampir tiga kwintal ke Pakis, dekat Lanud (Lapangan Udara) Abd. Saleh,” tambah Sudjito, suaminya.

Mantan purnawirawan TNI AL ini mengaku beberapa hari terakhir ini ia musti pontang panting membantu istrinya memenuhi pesanan yang seolah tak ada habisnya. Melelahkan, namun sekaligus patut pula disyukuri karena usaha yang mereka rintis sejak dua tahun lalu itu menunjukkan hasil yang menggembirakan.

“Alhamdulillah. Meski rasanya badan copot semua saking capeknya kerja dari pagi sampai ke pagi berikutnya, tapi kami masih bisa memenuhi pesanan yang ada. Ini juga berarti produk olahan keripik jamur kami disukai konsumen,” tambah Sudjito.

Baca Juga : Pengrajin Keripik Buah Amstirdam Siap Jadi Sentra Produksi

Sebenarnya tak hanya keripik jamur, industri rumahan dengan bendera Cahaya Putra Jaya milik mereka juga memproduksi keripik pare. Pare yang asalnya pahit, diolah sedemikian rupa hingga menjadi cemilan yang gurih dan renyah. Tak heran jika kemudian keripik pare produksi mereka lambat laun juga kebanjiran pesanan.

Keripik Pare asal Pakisaji
(Keripik pare Cahaya Putra Jaya dari Pakisaji, Kabupaten Malang. Foto : Ist)

Walau memiliki produk makanan lain seperti keripik pare dan keripik usus, Sudjito dan istrinya tetap mengandalkan olahan jamur sebagai produk utama. Apalagi salah seorang anaknya, Kurnia Eka, mempunyai macam-macam kuliner dari bahan baku jamur.

“Anak perempuan saya membuat aneka makanan dari jamur. Ada tahu jamur, rendang jamur, bakso jamur, lumpia jamur dan nugget jamur, dan lain-lain. Beberapa kali ikut pameran produk usaha kecil dan responnya rata-rata bagus. Tak sedikit dari yang awalnya cuma tanya-tanya, kemudian berlanjut pesan untuk direseller (dijual lagi) di tempat usaha mereka,” tutur Sudjito.

Raffa Frozen
(Aneka kuliner dari olahan jamur yang diproduksi putri Sudjito dan Suhartini. Produksi kuliner jamur tersebut asal Pakisaji itu dilabeli Raffa Frozen. Foto : Ist)

Sedangkan sang istri menimpali bahwa anak laki-laki mereka juga mempunyai usaha budidaya jamur yang cukup besar di Ponco Kusumo. Bahkan sebagian besar bahan baku jamur untuk produk makanan olahan mereka, dipasok dari sana.

“Kehidupan kami banyak ditopang oleh jamur. Jadi boleh dibilang kami ini keluarga jamur,” pungkas Suhartini sembari setengah tergelak.