Rinik Odaci, Pengrajin Abon Kelinci dari Desa Pagelaran

  • Whatsapp
Rinik Odaci, Pengrajin Abon Kelinci dari Pagelaran
(Rinik Odaci, tak hanya aktif di Kelompok Tani Wanita (KWT) di Desa Pagelaran, Kecamatan Pagelaran, Kabupaten Malang. Namun ia juga peternak sekaligus pengrajin abon kelinci. Foto : TON/Malang Inspirasi)
Malanginspirasi.com, Desa Pagelaran – Dari sekian banyak makanan olahan abon, abon berbahan dasar kelinci belumlah terlalu populer di masyarakat. Masih kalah dengan abon sapi, ayam atau bahkan abon lele.

Namun bagi Rinik Odaci, belum populer bukan berarti tidak ada potensinya. Abon kelinci bahkan sangat berpotensi untuk berkembang. Karena tak hanya baik bagi kesehatan, bahan baku untuk membuatnya menjadi abon juga relatif melimpah.

Rinik Odaci, mengelak dengan halus menyebut nama aslinya, adalah seorang pelaku usaha kecil dan menengah yang membuat makanan olahan abon kelinci. Ia memproduksi abon kelincinya di tempat tinggalnya di Desa Pagelaran, Kecamatan Pagelaran, Kabupaten Malang.

“Sudah lebih dari tiga tahun saya membuat abon kelinci. Cara membuatnya tak beda dengan abon-abon daging lainnya. Cuma karena daging kelinci rendah lemak dan seratnya lebih halus, pengolahannya untuk jadi abon juga harus agak hati-hati,” kata Rinik saat ditemui di rumahnya beberapa waktu lalu.

Kelinci Bahan Baku Abon
(Kelinci yang sudah tidak produktif menjadi bahan baku abon.)

Rinik mengakui, awalnya memang tidak mudah memproduksi produk abon dari daging kelinci. Bukan soal teknis pembuatannya, namun lebih ke pemasarannya. Tidak semua orang mau mengkonsumsi kelinci, sekali pun itu sudah berupa makanan olahan seperti abon. Barangkali image kelinci sebagai hewan yang imut nan lucu membuat sebagian orang tak tega mengkonsumsinya.

“Dulu memasarkannya ya di sekitar Malang saja. Kalau pun ada yang pesen dari luar kota, paling-paling dari Surabaya atau Sidoarjo. Tapi Alhamdulillah sekarang tambah banyak yang kenal produk saya. Beberapa hari lalu saya baru saja kirim ke Jakarta. Ada pesanan dari sana,” ujar Rinik.

Baca Juga : Pengrajin Keripik Buah Amstirdam Siap Jadi Sentra Produksi

Meski mempunyai peternakan kelinci sendiri, namun tidak semuanya diolah menjadi abon. Ada juga yang dijual anakan. Sedangkan untuk memenuhi kebutuhan produksi, selain dari ternaknya sendiri, Rinik juga mendapat pasokan dari para peternak kelinci yang hendak meremajakan indukannya. Kelinci-kelinci yang sudah tidak produktif alias sudah lewat masa suburnya itulah yang menjadi bahan baku pembuatan abon.

“Kelinci-kelinci afkiran (sudah tidak produktif lagi) ini sayang kalau hanya dijual sebagai kelinci potong. Kan lebih baik diolah jadi abon. Selain daya tahannya lebih lama, juga mudah dikemas,” terangnya.

Abon kelinci “Odaci”
(Abon kelinci “Odaci”)

Rinik mengakui dibandingkan abon sapi, abon kelinci harganya sedikit lebih mahal. Penjualannya pun tak secepat abon sapi. Kecuali ada pesanan khusus, ia tak mau membuat terlalu banyak dalam satu kali produksi. Paling banter sekali produksi ia hanya memotong 5-6 kelinci. Namun tidak menutup kemungkinan yang dipotong lebih banyak lagi jika abon kelinci nantinya betul-betul bisa semakin diterima pasar layaknya abon-abon daging lainnya.

“Kendala yang sering dihadapi pelaku usaha kecil seperti saya ini ya memang di pemasaran. Karena itu saya aktif ikut kalau ada pameran UMKM, khususnya yang diadakan di wilayah Malang Raya. Ya sekalian promosi lah,” tambah Rinik seraya tersenyum.

Baca Juga : Desa Jatisari di Pakisaji Potensial Jadi Sentra Peternakan Sapi

Lebih jauh Rinik menjelaskan, keuntungan dari budidaya kelinci adalah limbahnya bisa dimanfaatkan untuk penyubur tanaman. Jika mau sedikit bersusah payah mengolahnya, urin dan kotoran kelinci bahkan memiliki nilai tambah.

“Sebelumnya urin kelinci yang masih murni dihargai seribu rupiah per liternya. Tapi setelah difermentasi, harganya bisa mencapai dua puluh ribu per liter. Kalau kotorannya (feses) saya manfaatkan sendiri untuk pupuk tanaman sayur-sayuran saya,” lanjut Rinik.

Selain budidaya kelinci dan membuat aneka abon seperti abon sapi, abon tuna dan abon ayam, Rinik juga aktif di Kelompok Tani Wanita (KWT) di Desa Pagelaran. Ia mengorganisir sejumlah tetangganya untuk menanam aneka sayuran. Hasil panen sayur-sayuran tersebut kemudian disetorkannya ke Hari, seorang petani organik di kawasan Sukun, Kota Malang.

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *