Mengenal Anak Berkebutuhan Khusus, Bolehkah Menggugurkan Anak yang Mengalami Kelainan Sejak dalam Kandungan?

Mengenal Anak Berkebutuhan Khusus, Bolehkah Menggugurkan Anak yang Mengalami Kelainan Sejak dalam Kandungan?

Malanginspirasi.com – Anak adalah hal yang menjadi pelengkap keluarga bagi sebagian besar orang. Tak jarang, kehadirannya menjadi hal yang sangat dinanti dan membawa kebahagiaan.

Namun bagi sebagian orang lainnya, anugerah berupa keturunan ini juga membawa ujian. Seperti adanya ‘hal spesial’ yang dibawanya sejak dalam kandungan.

Lalu, bolehkah menggugurkan kehamilan bila memiliki anak dengan ‘hal spesial’ tersebut?

Melansir Instagram @taulebih.id, dalam Islam ulama membagi terminasi (aborsi kehamilan dengan cara meminum obat atau prosedur pembedahan sesuai aturan medis yang berlaku), menjadi 2 kondisi, yaitu:

1. Kelainan janin terdeteksi setelah peniupan ruh

Setelah 40 hari, janin telah tercipta dan tampak anggota-anggota tubuhnya. Semua ulama ahli fiqih (fuqaha’) sepakat bahwa hukum terminasi adalah haram menurut hukum syar’i bila dilakukan di masa ini.

Keharaman ini semakin tegas saat janin sudah berusia 120 hari (empat bulan). Karena di usia ini, ruh sudah ditiup pada janin.

2. Kelainan pada janin terdeteksi dini

Jika dokter memvonis janin sebelum ditiup ruh, akan mengalami kelainan yang berbahaya, tidak bisa disembuhkan, dan jika dibiarkan hidup akan mempersulit dirinya dan keluarganya, maka Islam membolehkan dilakukannya terminasi. Hukumnya adalah halal sebagaimana Undang-Undang No. 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan.

Janin terdeteksi mengalami kelainan
Kelainan dapat terdeteksi sejak dini melalui USG. Foto: Google Image

Hal ini karena adanya pertimbangan mudarat bagi hidup sang anak dan keluarganya. Namun perlu dicatat bahwa terminasi ini hanya boleh dilakukan dalam keadaan darurat.

Apa yang Harus Dilakukan Anak Berkebutuhan Khusus Agar Tetap Berbesar Hati?

Mengacu pada ayat dalam Al-qur’an, semua orang perlu menanamkan mindset bahwa Allah telah menciptakan manusia dengan bentuk yang sebaik-baiknya dan penciptaan yang sempurna. Hal ini sesuai dengan ayat Al-Qur’an:

“Sungguh, Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik- baiknya.” [QS. At-Tin: 4].

Sehingga anak dengan kebutuhan khusus bukanlah aib atau produk gagal. Sebaliknya, mereka adalah anak-anak yang istimewa. Karena kelak di yaumul hisab (hari perhitungan amal), mereka tidak perlu menjawab banyak pertanyaan seperti manusia normal lainnya.

Selama anak berkebutuhan khusus ini mengenal Allah, maka ia akan langsung masuk ke dalam surga. Selain itu, dengan mengenal Allah maka semua penderitaannya di dunia akan diganti dengan kenikmatan yang abadi di akhirat kelak.

Apa yang Harus Dilakukan oleh Orang Tua Bila Memiliki Anak Berkebutuhan Khusus?

1. Percaya bahwa ini adalah takdir Allah

“Sesungguhnya Allah, hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang Hari Kiamat; dan Dialah yang menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada dalam rahim…” [QS. Luqman: 34]

Sehingga dengan meyakini hal ini, kita akan menjadi lebih ikhlas bahwa apa pun terjadi pada janin adalah hak prerogatif Allah sebagai Al-Khaliq. Meskipun kita adalah orang tua anak tersebut, sebagai manusia, kita tidak memiliki daya apa-apa.

Tugas kita hanyalah terus berikhtiar semaksimal mungkin menjaga amanah ini karena bisa jadi anak istimewa adalah jalan pintas menuju surga-Nya kelak.

2. Tidak ada kesabaran yang sia-sia

Anak berkebutuhan khusus tentu memerlukan pendidikan dan dibesarkan dengan cara yang berbeda. Perlakuan sosial yang diterima anak pun mungkin juga bisa berbeda.

Sehingga dibutuhkan kesabaran yang besar untuk menghadapi hal ini. Di sisi lain, Allah menyatakan bahwa pahala atas orang yang bersabar itu tak batas, sebagaimana ayat dalam Al-Quran berikut.

“…Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.” [QS.Az-Zumar: 10]

Treatment anak dengan disabilitas
Pentinginya kesabaran untuk mengasuh anak dengan disablitas. Foto: UNICEF

3. Banyak bersyukur

Anak berkebutuhan khusus pada umumnya mengalami perbedaan dan hambatan secara fisik, kognitif, dan sosial dalam tumbuh kembangnya. Sehingga perlu rasa syukur yang besar bila orang tua dikarunia anak yang normal.

Karena sejatinya, anak yang bisa menangis, merangkak, berjalan, dan berbicara secara normal adalah anugerah yang tiada tara. Sebab beberapa saudara kita yang lain tidak bisa mengalami semua ini.

Sebaliknya, bila orang tua memiliki anak berkebutuhan khusus, bukan berarti Anda tidak perlu atau berhenti bersyukur. Karena apabila sang buah hati mengalami perkembangan fisik maupun kognitif, adalah bagian dari izin Allah, dan bukan usaha kita sebagai orang tua. Semua ini tentu merupakan nikmat.

Sehingga, kita harus mengimani takdirnya, perbanyak Syukur, dan sabar tanpa tepi atas segala ketetapannya.

Belajar Dari Anak ‘Istimewa’ yang Mampu Menghafal Al-Quran 30 Juz dengan Mutqin

Dia adalah Naja Hudia. Cerebral palsy tidak membuatnya berhenti menjadi penghafal Al-Quran. Hal ini tentu saja tak luput dari peran orang tua yang terus memperdengarkan ayat-ayat Allah sejak ia masih dalam kandungan. Tak hanya itu, setiap sebelum tidur, Naja juga selalu dibacakan ayat kursi hingga akhirnya ia bisa melafalkan ayat kursi sendiri.

Naja Hudia
Naja Hudia, Hafidz Cilik penderita cerebral palsy yang Bisa Hafalkan 30 Juz. Foto: Hafiz Indonesia/YouTube

Atas izin Allah, keajaiban dan kenikmatan pun datang pada Naja setelah ia menjadi tahfiz Al-Quran. Matanya yang juling sebelah sembuh dan kesulitannya dalam bernapas berangsur membaik.

Kisah Naja ini bisa menjadi motivasi dan satu bukti bahwa anak berkebutuhan khusus tidak menutup mereka dari prestasi, bahkan masih ada kemungkinan untuk sembuh.

Meski mengidap cerebral palsy, ia tetap bisa menjadi hafiz Al-Quran seperti anak-anak normal pada umumnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *