Malanginspirasi.com – Umat Islam mulai memasuki bulan Rajab 1447 Hijriah, salah satu dari empat bulan haram yang dimuliakan dalam ajaran Islam. Bulan ini dentik dengan berbagai amalan sunnah bulan Rajab.
Bulan Rajab memiliki kedudukan khusus sebagaimana ditegaskan dalam Al-Qur’an dan hadis Nabi Muhammad SAW.
Sehingga menjadi momentum penting untuk meningkatkan kualitas ibadah dan ketakwaan kepada Allah SWT.
Ayat Al Quran dan Hadis Mengenai Bulan Rajab
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
اِنَّ عِدَّةَ الشُّهُوْرِ عِنْدَ اللّٰهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِيْ كِتٰبِ اللّٰهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمٰوٰتِ وَا لْاَ رْضَ مِنْهَاۤ اَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ۗ ذٰلِكَ الدِّيْنُ الْقَيِّمُ ۙ فَلَا تَظْلِمُوْا فِيْهِنَّ اَنْفُسَكُمْ ۗ وَقَا تِلُوا الْمُشْرِكِيْنَ كَآ فَّةً كَمَا يُقَا تِلُوْنَكُمْ كَآ فَّةً ۗ وَا عْلَمُوْۤا اَنَّ اللّٰهَ مَعَ الْمُتَّقِيْنَ
“Sesungguhnya jumlah bulan menurut Allah ialah dua belas bulan, (sebagaimana) dalam ketetapan Allah pada waktu Dia menciptakan langit dan Bumi, di antaranya ada empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menzalimi dirimu dalam (bulan yang empat) itu, dan perangilah kaum musyrikin semuanya sebagaimana mereka pun memerangi kamu semuanya. Dan ketahuilah bahwa Allah beserta orang-orang yang takwa.”
(QS. At-Taubah 9: Ayat 36)
Baca Juga:
Hindari Melakukan 5 Hal Ini Saat Puasa, Bisa Berakibat Buruk untuk Kesehatan!
Penegasan mengenai empat bulan haram juga disampaikan Rasulullah SAW melalui hadis dari Abu Bakrah radhiyallahu ‘anhu:
عن أبي بكرة -ضي الله عنه- مرفوعاً: «إِنَّ الزمانَ قَدِ اسْتَدَارَ كَهَيْئَتِهِ يَوْمَ خَلَقَ اللهُ السَّمَاوَاتِ والأَرْضَ: السنةُ اثنا عَشَرَ شَهْرًا، منها أربعةٌ حُرُمٌ: ثلاثٌ مُتَوَالِيَاتٌ: ذُو القَعْدَةِ، وذُو الحَجَّةِ، والمحرمُ، ورَجَبُ مُضَرَ الذي بين جُمَادَى وشَعْبَانَ
“Sesungguhnya zaman itu telah kembali sebagaimana keadaannya ketika Allah menciptakan langit dan bumi. Setahun itu ada dua belas bulan, di antaranya empat bulan haram. Tiga bulan berturut-turut, yaitu Dzulqa’dah, Dzulhijjah, dan Muharram, serta Rajab Mudhar yang berada di antara Jumada dan Sya’ban.” (HR. Bukhari No. 3197 dan Muslim No. 1679)
Mengutip laman NU Online, umat Islam di Indonesia mulai memasuki bulan Rajab 1447 H pada Senin, 22 Desember 2025.
Sementara itu, berdasarkan kalender yang dirilis oleh Kementerian Agama RI dan Muhammadiyah, 1 Rajab 1447 H bertepatan dengan Ahad, 21 Desember 2025.
Amalan Sunnah di Bulan Rajab
Dilansir dari laman resmi Universitas Islam Indonesia, para ulama menegaskan bahwa tidak terdapat hadis shahih yang secara khusus menyebutkan keutamaan puasa atau ibadah tertentu di bulan Rajab.
Imam Ibnu Rajab menyatakan bahwa hadis-hadis tentang keutamaan khusus bulan Rajab adalah lemah bahkan bathil.
Namun demikian, bulan Rajab tetap menjadi momentum untuk meningkatkan amal saleh secara umum, terutama karena termasuk bulan haram. Beberapa amalan yang dianjurkan antara lain:
Puasa Sunnah Bulan Haram

Salah satu amalan yang dapat dilakukan di bulan Rajab adalah puasa sunnah di bulan-bulan haram.
Puasa ini tidak dikhususkan pada tanggal tertentu, namun dilakukan dengan niat puasa sunnah bulan haram.
Sejumlah ulama salaf seperti Ibnu Umar, Hasan Al Bashri, dan Abu Ishaq As Subai’i dikenal berpuasa di bulan-bulan haram. Rasulullah SAW bersabda:
صُمْ مِنَ الحُرُمِ وَاتْرُكْ، صُمْ مِنَ الحُرُمِ وَاتْرُكْ، صُمْ مِنَ الحُرُمِ وَاتْرُكْ
“Berpuasalah di bulan haram, lalu jangan puasa (kecuali ramadhan)…, Berpuasalah di bulan haram, lalu jangan puasa…, Berpuasalah di bulan haram, lalu jangan puasa.” (HR. Ahmad, Abu Daud, Al-Baihaqi dan yang lainnya).
Hadis ini dinilai sahih oleh sebagian ulama dan dinilai dhaif oleh ulama lainnya).
Lafal niat puasa sunnah Rajab pada malam hari:
نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ أَدَاءِ سُنَّةِ رَجَبَ لِلّٰهِ تَعَالَى
Nawaitu shauma ghadin ‘an adâ’i sunnati Rajaba lillâhi ta‘âlâ.
Artinya: Aku berniat puasa sunnah Rajab esok hari karena Allah SWT.
Bagi yang belum sempat berniat pada malam hari, diperbolehkan berniat di siang hari selama belum melakukan hal-hal yang membatalkan puasa, dengan lafal:
نَوَيْتُ صَوْمَ هٰذَا الْيَوْمِ عَنْ أَدَاءِ شَهْرِ رَجَبَ سُنَّةً لِلّٰهِ تَعَالَى
Nawaitu shauma hâdzal yaumi ‘an adâ’i syahri Rajaba sunnatan lillâhi ta‘âlâ.
Artinya: Aku berniat puasa sunnah Rajab hari ini karena Allah SWT.
Selain itu, bagi umat Islam yang masih memiliki tanggungan puasa Ramadan, diperbolehkan menggabungkan niat qadha puasa dengan puasa sunnah Rajab.
Pendapat ini disampaikan oleh Sayyid Bakri Syatha’ dalam Hasyiyah I’anatut Thalibin.
Memperbanyak istighfar
Umat Islam dianjurkan membaca istighfar sebanyak 70 kali pada pagi dan sore hari di bulan Rajab dengan bacaan:
رب اغفرلي وارحمني و تب عليَّ
Rabbighfirli warhamni wa tub ‘alayya.
Artinya: “Ya Tuhan, ampunilah aku dan kasihanilah aku dan terimalah pertobatanku.”
Memperbanyak Shalawat kepada Nabi Muhammad SAW
Selain istighfar, amalan yang dianjurkan untuk diperbanyak di bulan Rajab adalah membaca shalawat kepada Nabi Muhammad SAW.
Shalawat memiliki keutamaan besar dan dapat diamalkan kapan saja, baik siang maupun malam hari.
Dari Abdurrahman bin Auf radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah SAW bersabda bahwa Jibril pernah datang dan menyampaikan kabar kepadanya:
مَنْ صَلَّى عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَاحِدَةً صَلَّى الله عَلَيْهِ وَمَلَائِكَتُهُ سَبْعِينَ صَلَاةً
Artinya: “Barangsiapa yang bershalawat kepada Nabi Muhammad shallallâhu ‘alaihi wa sallam sekali maka Allah dan para malaikatnya bershalawat kepadanya tujuh puluh kali.” (Abdullah Sirajudin Al-Husaini, As-Shalâtu ‘alan Nabiyyi Shallallâhu ‘Alaihi wa Sallam, [Damaskus: Maktabah Darul Falah, 1990], hal. 97-98)

Berbagai bacaan shalawat dapat diamalkan, mulai dari bacaan singkat seperti shalawat Jibril, hingga bacaan yang lebih panjang seperti shalawat nariyah dan shalawat badar.
Memperbanyak Doa dan Zikir
Melansir laman NU Online, disebutkan bahwa Rasulullah SAW membaca doa saat memasuki bulan Rajab seperti berikut:
اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي رَجَبَ وَشَعْبَانَ وَبَلِّغْنَا رَمَضَانَ
Allâhumma bârik lanâ fî Rajaba wa Sya’bâna wa ballighnâ Ramadhânâ
Artinya, “Ya Allah, berkatilah kami pada Bulan Rajab dan Bulan Sya’ban. Sampaikan kami dengan Bulan Ramadhan.”
Bulan Rajab menjadi fase awal dalam mempersiapkan diri menyambut Ramadan.
Dengan memperbanyak ibadah, menjaga diri dari perbuatan zalim, serta meningkatkan kualitas spiritual.
Umat Islam diharapkan dapat memasuki bulan suci Ramadan dengan kesiapan iman dan amal yang lebih baik.








