Malanginspirasi.com – Mujahadah Kubro menjadi bagian utama dalam peringatan Harlah (hari lahir) Nahdlatul Ulama (NU) yang dipusatkan di Stadion Gajayana, Malang, pada 7-8 Februari 2026. khususnya saat organisasi ini memasuki usia satu abad pada 2026. Kegiatan ini bukan sekadar ritual, melainkan ikhtiar batiniah massal yang melibatkan puluhan hingga ratusan ribu warga Nahdliyin dalam doa bersama untuk keberkahan umat dan bangsa.
Secara etimologi, “Mujahadah” berasal dari akar kata “jihad”, yang dalam konteks spiritual berarti perjuangan melawan hawa nafsu dan pendekatan diri kepada Allah melalui zikir, doa, munajat, serta amalan-amalan batin lainnya. Sementara “Kubro” berarti “besar” atau “agung”, sehingga Mujahadah Kubro diterjemahkan sebagai perjuangan spiritual skala besar yang dilakukan secara kolektif.
Dalam tradisi NU, terutama di Jawa Timur, Mujahadah Kubro sering menjadi puncak rangkaian Harlah NU. Acara ini biasanya digelar di lokasi terbuka seperti stadion, dengan partisipasi ribuan jamaah dari berbagai daerah.
Kegiatan intinya meliputi:
- Istighosah bersama untuk memohon pertolongan Allah.
- Zikir massal.
- Pembacaan shalawat.
- Doa kolektif untuk keberkahan NU, keselamatan bangsa, ketenteraman umat, serta kemaslahatan negara.
Mujahadah Kubro dirancang sebagai momentum spiritual untuk memperkuat keimanan dan persatuan warga NU, mempererat silaturahmi antar-Nahdliyin, serta memohon ridha Allah agar NU tetap menjadi penjaga tradisi Ahlussunnah wal Jamaah. Juga berkontribusi bagi bangsa sesuai prinsip Islam rahmatan lil ‘alamin.
View this post on Instagram
Baca Juga:
Puncak Harlah 1 Abad NU di Stadion Gajayana Malang, Berikut Jadwal Lengkapnya
Pada peringatan Harlah Satu Abad NU tahun 2026. Pengurus Wilayah NU (PWNU) Jawa Timur menggelar Mujahadah Kubro di Stadion Gajayana, Kota Malang, pada 7–8 Februari 2026.
Acara ini diperkirakan diikuti lebih dari 100.000 jamaah, yang disebut sebagai “lautan doa” dan perekat solidaritas Nahdliyin.
Persiapan intensif dilakukan, termasuk penyediaan 200 titik air (sebagian siap minum), 11 videotron untuk siaran langsung, dan 100 posko relawan untuk menampung lonjakan peserta.
Stadion yang berkapasitas sekitar 25.000 orang ini akan dibanjiri jamaah, dengan fasilitas pendukung seperti MCK dan kran wudhu.
Makna Historis dan Perkembangan
Mujahadah Kubro bukan ritual tahunan biasa, melainkan evolusi dari tradisi spiritual pesantren NU. Ia memperkuat dimensi batiniah di tengah perjuangan lahiriah seperti politik, sosial, dan kebangsaan; menjaga kesinambungan sanad keilmuan dari ulama salaf seperti Ki Ageng Muhammad Besari hingga KH Hasyim Asy’ari; serta menjadi perekat warga Nahdliyin menghadapi tantangan zaman.
Dalam konteks Satu Abad NU, acara ini menekankan kontribusi organisasi bagi persatuan NKRI dan peradaban mulia.
Catatan penting: Ada tradisi serupa bernama Mujahadah Kubro di lingkungan Sholawat Wahidiyah sejak 1964, yang dimulai dari peringatan Ekawarsa di Kedunglo, Kediri. Namun, ini terpisah dari Mujahadah Kubro mainstream NU yang dikelola oleh PWNU atau PCNU.
Secara keseluruhan, Mujahadah Kubro NU adalah warisan spiritual yang terus berkembang, semakin massif sejak 2022 menjelang dan pasca-Satu Abad NU. Kegiatan ini mewakili doa kolektif terbesar warga Nahdliyin untuk keberkahan organisasi, umat, dan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).







