Malanginspirasi.com – Filsuf muslim sekaligus penulis kajian filsafat islam Dr. H. Fahruddin Faiz, S.Ag., M.Ag berbagi tips mengatasi cemas secara sehat.
Filsuf kondang itu membagikan tips tersebut saat pembicara dalam Cafe Ramadhan bertajuk “Cemas itu Manusiawi, Tawakal itu Solusi” di Masjid Raden Patah (MRP) Universitas Brawijaya Malang.
Faiz menilai saat ini banyak generasi mengelami kelelahan karena kecemasan yang berlebihan atau istilah populernya overthinking.
Ciri-cirinya yakni kecewa luar biasa dengan dirinya sendiri. Tetapi tidak tahu cara mengatasinya dan tidak tahu meluapkan pada siapa, atau menangis tanpa sebab.
“Jika kelelahan dibiarkan dan berlanjut, akan menjadi depresi. Tidak gampang meredakannya. Sehingga, pentingnya cemas yang sehat. Salah satunya dengan memegang konsep stoikisme. Lakukan yang ada di dalam kuasamu dan sisanya tawakal pada Allah SWT,” jelas Faiz pada acara yang berlangsung pada Senin 9 Maret itu.
Lima Lapisan Yang Berkaitan Dengan Akal, Hati dan Rasa Cemas
Menurut Faiz, terdapat lima lapisan dalam diri manusia yang perlu diperhatikan karena berkaitan dengan akal, hati, dan rasa cemas.
Pertama, jasad. Menurutnya, lebahagiaan dan keseimbangannya terletak pada cukup, yaitu penuhi asupan makan dan minum secara cukup.
“Karena kalau kurang atau lebih menjadi masalah,” kata Faiz.
Kedua, akal. Kebahagian dan keseimbangannya terletak pada luas. Semakin luas wawasan seseorang, semakin tenang hidupnya. Karena akal itu gelisah ketika tidak tahu.
“Sehingga jangan berhenti belajar,” paparnya.
Setelah itu, kata Faiz, adalah masalah hati.
“Ini rajanya. Bahagia dan seimbangnya terletak pada bersih. Ketika hati seseorang sombong, maka ilmu yang ada hanya dipakai untuk jalan sombong,” jelas Faiz.
Keempat, nafsu dimana ia katakan wajar manusia punya keinginan, karena jika tidak maka dunia akan berhenti.
“Tapi, kalau tidak hati-hati, keinginan ini bisa jadi blunder, idealnya tidak terkendali,” begitu dia memberikan penjelasan.
Kelima, ruh, dimana bahagia dan seimbangnya terletak pada dekat dengan Tuhan.
Faiz menyarankan untuk melakukan aktivitas yang mendekatkan diri pada Tuhan.
“Cemas tadi muncul ketika terjadi ketidakseimbangan dari aspek-aspek ini. Mungkin pikiran buntu, hatinya kurang jernih, keinginannya tidak terkendali, dan jauh dari Allah SWT,” tambah Faiz.
Baca Juga:
Pesan Rektor UB Tentang Puasa Sebagai Sekolah Pengendalian Diri
Lebih lanjut, Faiz juga menyadari bahwa ketidakpastian jaman di era sekarang dapat memicu cemas berlebih.
Ia menyarankan untuk sementara ini, kita sibuk dengan apa yang di dalam kuasa.
Untuk sisanya pasrahkan kepada Allah SWT. Namun, tetap didahului dengan ikhtiar.
Tak hanya itu, ia menyampaikan sebagai manusia yang diberi akal budi oleh Allah SWT, cemas adalah manusiawi dimana seseorang memikirkan hidupnya akan secara otomatis .
“Bahkan, di dalam ayat Al-Qur’an disebutkan ‘hendaklah engkau takut dan cemas kalau meninggalkan generasi yang lemah’. Dalam konteks ini dianjurkan cemas atau serius memikirkan hidup, jangan tenang-tenang saja. Tapi, jika berlebihan akan menjadi negatif, sebagaimana optimis berlebihan,’ ujar Faiz.







