Sensasi Ngopi di Sekitaran Jembatan Sengkaling, Sederhana Tapi Bikin Betah

Malanginspirasi.com – Di Malang, kopi tak hanya bisa dinikmati di kafe berpendingin ruangan atau tempat modern bergaya kekinian. Di sekitaran Jembatan Sengkaling, tepian Sungai Brantas, ngopi bisa dinikmati bersama suara air sungai dan suasana ramai warga melintas jembatan.

Terletak tepat di belakang Taman Rekreasi Sengkaling, jembatan ini sering dijadikan alterntafif warga sekitar dan mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) antara Tegalgondo dan Jalan Tlogomas.

Jembatan Sengkaling, jembatan penghubung Sengkaling dan Tlogomas. (Janu)

Di tepi sungai yang mengalir di bawahnya, terdapat sekitar enam warung yang sering dijadikan tempat nongkrong bagi masyarakat.

Tak hanya itu, salah satu warungnya ada yang berlantai dua. Dari lantai atas, pengunjung bisa memandang langsung aliran sungai dan aktivitas warga.

“Buat aku, nongkrong di sini itu sensasinya dapet. Bisa dengar suara air, lihat orang mancing, kadang ada sunset. Unik aja. Beda sama kafe yang suasananya itu-itu aja,” kata Ibnu, mahasiswa UMM yang kerap menghabiskan sore di tempat ini.

Dari lantai dua warung Swereg Point, terlihat aktivitas warga melintasi Jembatan Sengkaling. (Janu)
Harga Murah, Menu Lengkap

Warung-warung di sekitar jembatan ini menawarkan harga yang bersahabat. Mulai dari Rp4.000, pengunjung bisa memesan kopi, susu, atau minuman hangat lainnya.

Menu makanannya pun beragam, mulai dari bakso, pecel, hingga camilan ringan.

“Disini makanannya juga lengkap, itu alasan lainnya. Bakso ada, pecel ada, lengkap,” tambah Ibnu.

Punya Sensasi yang Berbeda

Bagi Ibnu, salah satu daya tarik Jembatan Sengkaling adalah suasana egaliter. Mahasiswa, warga sekitar, pekerja, dan para pemancing bisa duduk berdampingan di pondasi tepi sungai.

“Di sini nggak ada kelihatan hirarki sosial. Semua kelihatan sama dan sederhana,” ujar Ibnu.

Suasana tempat ngopi di sisi selatan Jembatan Sengkaling. (Janu)

Budaya tertib juga terlihat di sini. Saat melintasi jembatan yang hanya cukup untuk satu kendaraan roda dua, pengendara bergantian dengan rapi, 5 hingga 7 motor.

Menurut Ibnu, momen melihat orang memancing di sini punya makna tersendiri.

“Aku jarang liat mereka dapat ikan. Bagiku itu kayak absurd, tapi menunjukkan bahwa hidup itu layak terus dijalani karena sensasi. Itu kenapa aku suka ngopi di sini,” ungkapnya.

Meski suasana di jembatan ini begitu menenangkan, Ibnu menyayangkan masih adanya sampah kecil yang berserakan.

“Selain budaya antre, budaya membuang sampah juga harus diperhatikan,” tutup Ibnu.

Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *