Malanginspirasi.com – Bisnis burger kian menjamur di Kota Malang seiring meningkatnya minat masyarakat terhadap kuliner cepat saji dengan harga terjangkau. Di tengah persaingan tersebut, UMKM burger Le Bun Frais mencuri perhatian publik setelah viral di media sosial Threads.
Le Bun Frais merupakan usaha burger milik Pesona Pelangi Lazuardi, warga Kota Malang, yang mulai aktif berjualan sejak akhir Oktober 2025.
Nama Le Bun Frais diadaptasi dari bahasa Prancis yang berarti roti segar, sesuai dengan konsep burger homemade yang diusung.
Eksposur Le Bun Frais mulai meningkat setelah salah satu konten promosi menyebar luas di Threads dan mencatat puluhan ribu penayangan.
Dampak viral tersebut berpengaruh langsung terhadap peningkatan jumlah pembeli.

“Awalnya dari Instagram, lalu ramai di Threads karena promosi istri saya. Views-nya hampir 40 ribu,” ujar Lazuardi saat ditemui jurnalis Malang Inspirasi, Senin (15/12/2025).
Selain meningkatkan penjualan, viral di Threads juga berdampak pada pertumbuhan akun media sosial Le Bun Frais.
Lonjakan Pengikut dan Pesanan
Jumlah pengikut yang semula berkisar 300–400 akun, kini meningkat menjadi lebih dari 700 pengikut.
Namun, tingginya antusiasme tersebut juga membawa tantangan. Lazuardi mengaku lonjakan pesanan, terutama dari layanan pemesanan daring. Membuatnya kewalahan karena keterbatasan sumber daya manusia.
“Banyak pesanan dari online sampai saya kewalahan. Karena masih belum ada SDM, akhirnya penjualan online saya nonaktifkan sementara,” ungkapnya.

Saat ini, Le Bun Frais memfokuskan penjualan secara langsung dengan menggelar pop up di Los Fuelos, Jalan Bogor, Kota Malang, pada 14–26 Desember 2025 pukul 09.00–21.00 WIB.
Setelah sebelumnya beroperasi dari rumah di kawasan Gading Kasri.
Dari sisi produk, Le Bun Frais menawarkan berbagai varian burger dengan harga terjangkau mulai Rp16.000.
Baca Juga:
Cissipizza, Sensasi Pizza Khas Italia dengan Harga Ekonomis
Lazuardi mengungkapkan, menu double beef cheese menjadi varian paling laris. Sementara Hawaiian beef dengan tambahan nanas juga menarik perhatian konsumen karena keunikannya.
“Yang paling laku itu double beef dan cheese beef. Kalau Hawaiian, banyak yang penasaran pengen coba karena pakai nanas,” jelas Lazuardi.
Meski dibanderol dengan harga terjangkau, Lazuardi menegaskan Le Bun Frais tetap menjaga kualitas bahan. Patty burger dibuat secara homemade tanpa pengawet.

“Patty burger kita bikin sendiri. Bukan patty pabrikan atau ultra-proses,” tegasnya.
Ke depan, ia tidak menutup kemungkinan untuk mengembangkan Le Bun Frais lebih jauh, termasuk membuka cabang atau kerja sama franchise.
Namun untuk saat ini, ia memilih fokus membangun usaha secara bertahap.
Keberadaan Le Bun Frais menunjukkan bahwa UMKM kuliner cepat saji lokal memiliki peluang besar untuk bersaing dengan merek-merek ternama.
Dengan kualitas produk, harga terjangkau, serta pemanfaatan media sosial secara tepat, pelaku usaha lokal mampu membangun kepercayaan konsumen dan memperluas pasar di tengah ketatnya persaingan industri kuliner.








