Siapa Bilang Gen Z Mager? Pemilik Mie Ngowoh Malang Ini Justru Berani Buka Bisnis Secara Mandiri

Malanginspirasi.com –   Zahra Atthiya menepis anggapan Gen Z adalah generasi mager (malas gerak) dengan menekuni bisnis kuliner kekinian yaitu Mie Ngowoh.

Lulusan Universitas Merdeka jurusan Psikologi ini bahkan memiliki gebrakan yakni menyewa sebuah ruko di kawasan strategis di Sawojajar, Malang untuk lebih memperluas pasar.

“Tujuan saya menyewa ruko ini adalah karena dari awal lulus kuliah sudah pingin buka usaha karena menurut saya dari bisnis ini adalah salah satu cara buat bertahan dan nyari peluang,” katanya kepada wartawan Malang Inspirasi.

“Resiko juga pasti ada. Tinggal gimana kita nawarin solusi yang pas dan terjangkau dalam bisnis ini,” lanjutnya.

Sebenarnya, Zahra sudah mulai bisnis ini sejak dua tahun lalu saat ia masih duduk di bangku kuliah. Awalnya ia menjual produknya melalui pesanan daring.

“Takut dan ragu itu pasti ada dan saya mengatasinya dengan mulai dari skala kecil, modal semampunya, dan fokus jalan dulu. Daripada kebanyakan mikir tapi nggak mulai, lebih baik jalan pelan sambil belajar dari kesalahan,” imbuh perempuan berusia 22 tahun ini.

Ia mengatakan tidak akan menyerah karena ini satu-satunya pekerjaan yang ia tekuni.

“Kalau saya berhenti atau malas, otomatis penghasilan berhenti. Selain itu, saya juga punya target jangka panjang biar hidup lebih stabil dan nggak bergantung ke orang lain,” tuturnya.

Mie Ngowoh tersedia dalam berbagai level. (Tri Sukma)
Alasan Utama Memiilih Bisnis Kuliner

Zahra tidak sembarangan memilih bisnis dimana ada beberapa alasan mengapa ia memutuskan untuk mempopulerkan mie kekinian.

“Saya menjalankan bisnis yang dekat dengan kebutuhan sehari-hari, misalnya di bidang makanan/minuman. Alasannya karena pasarnya jelas, bisa mulai dari modal kecil, dan masih punya banyak ruang buat inovasi dari rasa, harga, atau konsep,” jelas anak pertama dari tiga bersaudara ini.

Ia juga mengungkap beberapa langkah penting sebelum melebarkan pasar yakni melihat gebrakan kompetitor sekitar. Kemudian cek harga, porsi, rasa, dan respon pembeli.

“Aku juga perhatiin tren di media sosial dan dengerin langsung masukan dari calon pembeli. Dari situ aku cari celah biar punya pembeda,” papar Zahra.

Tetapi, ia juga menambahkan tak gegabah dalam berbisnis sebelum akhirnya memilih untuk menyewa ruko di Jalan Terusan Danau Kerinci Raya itu.

“Saya jaga pengeluaran supaya tetap efisien, nggak gegabah nambah biaya. Fokus ke kualitas biar pelanggan balik lagi. Saya juga menjual dengan harga yang sangat terjangkau dengan porsi yang sesuai,” ungkap perempuan yang berdomisili di Blimbing, Malang ini.

Zahra Atthiya saat menyiapkan pesanan di depot Mie Ngowoh yang terletak di Jln Terusan Danau Kerinci Raya no.2 blok c, Sawojajar Kota Malang. (Tri Sukma)

Menurutnya, tantangan terbesar dalam menjalankan bisnisnya adalah konsistensi dan manajemen waktu.

“Di awal bisnis, semuanya masih diurus bareng sama partner, dan saya juga berdua saja dari produksi sampai pemasaran. Kadang capek dan pengen nyerah, tapi pelan-pelan belajar buat lebih rapi dan teratur,” kenangnya.

Kini, Zahra berfokus pada hal yang terpenting yaitu kestabilan usaha.

“Kalau sudah konsisten, baru pelan-pelan nambah variasi produk, perbaiki branding, dan perluas pemasaran. Target jangka panjangnya punya usaha yang bisa jalan terus dan jadi sumber penghasilan utama yang aman,” pungkasnya.

Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *