Malanginspirasi.com – Di tengah maraknya minuman kekinian, es dawet tradisional masih memiliki tempat tersendiri di hati masyarakat. Salah satunya adalah Es Dawet Ayu “WINS”, yang dijajakan oleh Effendi di kawasan SPBU Bendungan Sutami, Kota Malang.
Usaha ini mengandalkan resep tradisional khas Banjarnegara yang telah diwariskan secara turun-temurun sejak tahun 2000.
Effendi mengaku baru enam bulan terakhir menekuni usaha berjualan es dawet secara mandiri.
Meski terbilang baru, ia bukan orang asing dengan dunia usaha ini.
Andalkan Resep Mertua
Resep es dawet yang digunakan merupakan warisan dari mertuanya, yang telah berjualan es dawet di Malang sejak 1999 sebelum akhirnya pensiun.
“Kan ini awalnya resep dari mertua. Makanya diterusin sama saya gitu,” ujar Effendi saat ditemui pada Senin (5/1/2025) pukul 15.30 WIB.
Keunikan Es Dawet Ayu “WINS” terletak pada penggunaan nangka sebagai isian tambahan, yang tidak umum ditemukan pada dawet lain.
Selain itu, gula yang digunakan merupakan gula aren asli Banjarnegara, sehingga menghasilkan cita rasa khas yang kuat dan alami.

Dalam proses pembuatannya, Effendi masih mempertahankan metode tradisional.
Daun pandan dirajang dan diblender, kemudian diperas airnya sebelum dicampur dengan tepung beras dan pati.
Adonan tersebut lalu dimasak hingga menjadi cendol.
Untuk menjaga kualitas, cendol dibuat setiap hari, sementara santan diolah menggunakan air matang hangat demi menjaga rasa dan kebersihan.
“Tiap hari bikin baru. Santannya juga pakai air matang, bukan air mentah. Itu terasa bedanya,” jelasnya.
Tantangan Pelanggan dan Lokasi
Awal merintis usaha, tantangan terbesar yang dihadapi Effendi adalah mencari pelanggan dan lokasi berjualan yang tepat.
Ia sempat berkeliling di sejumlah kawasan seperti Watugong, Kertosentono, dan Ketawanggede.
Baca Juga:
Tersembunyi Di Joyogrand, Es Teler Legendaris Yang Wajib Dicoba!
Saat ini, ia mangkal di depan SPBU Bendungan Sutami, menyesuaikan kondisi libur mahasiswa di sekitar Universitas Brawijaya.
Dari sisi pendapatan, Effendi menyebut omzet tertinggi yang pernah diraih mencapai sekitar Rp500 ribu per hari, sementara pendapatan harian rata-rata berada di kisaran Rp200–300 ribu.
Dengan harga jual Rp6.000 per porsi, es dawet ini dinilai terjangkau bagi berbagai kalangan.
Untuk menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman, Effendi telah menerapkan sistem pembayaran non-tunai menggunakan QRIS.
Rambah Marketplace Online

Selain itu, jaringan Es Dawet Ayu “WINS” juga telah merambah layanan marketplace melalui Shopee Food di beberapa titik lain.
Meski masih terbatas jam operasional dan menggunakan konsep berjualan keliling dengan motor.
“Yang pakai Shopee itu yang mangkal di Merjosari sama Landungsari. Itu pun paling sampai jam 12 siang aja apa jam 3 sore udah tutup marketplace Shopee-nya itu,” terangnya.
Ke depan, Effendi berharap usahanya terus berkembang dan mendapat kemudahan dalam hal lokasi berjualan.
Ia menilai dukungan pemerintah berupa penyediaan atau kemudahan akses lahan berjualan akan sangat membantu pelaku UMKM kecil seperti dirinya.
“Yang penting jualan dipermudah, bisa mangkal dengan aman,” katanya.
Dengan menjaga kualitas dan beradaptasi dengan teknologi, Es Dawet Ayu “WINS” membuktikan kuliner tradisional tetap potensial berkembang di tengah dinamika zaman.








