Putu Pojok Lawas, Jajanan Tradisional yang Bertahan dari Generasi ke Generasi di Kota Malang

Malanginspirasi.com – Kota Malang dikenal memiliki beragam kuliner tradisional yang masih bertahan di tengah gempuran makanan modern. Salah satunya adalah Putu Pojok Lawas, jajanan pasar legendaris yang hingga kini tetap diminati masyarakat, khususnya pada malam hari.

Usaha kuliner ini dikelola oleh Iwan, generasi penerus yang mulai menekuni bisnis keluarga sejak 2018.

Meski demikian, jejak Putu Pojok Lawas telah ada sejak 1982, dirintis oleh orang tuanya.

Konsistensi rasa menjadi komitmen utama yang terus dijaga hingga saat ini.

“Rasanya InsyaAllah tetap sama, karena yang mengajarkan dulu juga turun-temurun,” ujar Iwan saat ditemui di lokasi berjualan, Selasa (06/01/2026).

Tawarkan Beragam Jajanan Tradisional
Putu Pojok Lawas, Jajanan Tradisional yang Bertahan dari Generasi ke Generasi di Kota Malang
Aneka jajanan tradisional yang dijual Putu Pojok Lawas. (Ananda Putri Noviana)

Putu Pojok Lawas menawarkan beragam jajanan pasar seperti putu, lupis, klepon, ketan, horok-horok, hingga ongol-ongol.

Harga yang ditawarkan relatif terjangkau, mulai dari Rp6.000 per item, Rp7.000 untuk campuran, hingga Rp10.000 per porsi putu berisi delapan buah.

Keunikan Putu Pojok Lawas terletak pada waktu operasional dan varian produk putunya.

Berbeda dengan kebanyakan jajanan pasar yang dijual pagi hari. Iwan memilih berjualan pada malam hari, mulai selepas Maghrib hingga pukul 23.00 WIB.

Strategi ini menjadikannya pilihan kuliner malam bagi warga sekitar.

Selain itu, putu yang dijual memiliki varian original dan pandan dengan harga yang sama.

Seluruh bahan baku yang digunakan berasal dari wilayah Malang, khususnya Kasembon, dengan komposisi utama beras dan ketan tanpa tambahan pengawet.

Putu Pojok Lawas, Jajanan Tradisional yang Bertahan dari Generasi ke Generasi di Kota Malang
Putu Pojok Lawas menyediakan Putu varian original (putih) dan varian pandan (hijau). (Ananda Putri Noviana)

Proses pengolahan dilakukan secara tradisional dan disiplin terhadap tahapan produksi, termasuk penggunaan daun pandan sebagai pengharum yang tidak boleh terlewat.

“Tantangan paling besar kalau dagangan tidak habis, karena ini murni tanpa pengawet,” jelasnya.

Meski demikian, respons pelanggan dinilai sangat positif.

Putu Pojok Lawas memiliki pelanggan setia dan penggemar yang terus bertambah. Dalam sehari, omzet yang diperoleh berkisar antara Rp800 ribu hingga Rp1,2 juta saat kondisi ramai.

Putu Pojok Lawas, Jajanan Tradisional yang Bertahan dari Generasi ke Generasi di Kota Malang
Iwan saat membuat putu dengan mencampurkan beras dan ketan secara manual. (Ananda Putri Noviana)
Tersedia di Marketplace Online

Seiring perkembangan zaman, Iwan juga mulai beradaptasi dengan teknologi.

Selain menerima pembayaran non-tunai melalui QRIS, Putu Pojok Lawas kini dapat dipesan melalui berbagai platform layanan pesan antar seperti ShopeeFood, GrabFood, dan GoFood.

Baca Juga:

Warisan Resep Mertua, Es Dawet Ayu ‘WINS’ Tawarkan Rasa Tradisional Asli Banjarnegara di Malang

Nama Putu Pojok Lawas sendiri memiliki nilai historis.

Sebelumnya, usaha ini dikenal sebagai Putu Pojok Gajayana karena berjualan di pojok lampu merah Jalan Gajayana.

Seiring perpindahan lokasi, nama tersebut disesuaikan tanpa meninggalkan identitas lamanya.

Putu Pojok Lawas, Jajanan Tradisional yang Bertahan dari Generasi ke Generasi di Kota Malang
Iwan, pemilik Putu Pojok Lawas, saat berbicara dengan wartawan Malang Inspirasi. (Ananda Putri Noviana)

Ke depan, Iwan berharap dapat memiliki tempat usaha sendiri.

Selama ini, ia masih menyewa lokasi berjualan dengan biaya sekitar Rp900 ribu per bulan dan beberapa kali harus berpindah tempat akibat kontrak yang tidak diperpanjang.

“Harapannya bisa punya tempat sendiri agar lebih stabil,” ujarnya.

Putu Pojok Lawas dapat ditemui setiap malam di depan ruko toko kue “Mbak Anik”, Jalan Gajayana Nomor 572, Kelurahan Dinoyo, Kecamatan Lowokwaru, Kota Malang.

Keberadaannya menjadi bukti bahwa kuliner tradisional tetap memiliki ruang untuk bertahan dan berkembang di tengah perubahan zaman.

Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *