Malanginspirasi.com – Warung Dhancuk menjadi salah satu destinasi kuliner murah bagi mahasiswa dan masyarakat umum di kawasan belakang UIN Malang Kampus 1.
Warung ini berlokasi di Jl. Sunan Kalijaga, Dinoyo, Kecamatan Lowokwaru, tepat di depan kedai kopi Koat dan Bento Kopi, yang sebelumnya digunakan Warung Genji.
Warung ini menarik perhatian karena mengusung nama unik “Dhancuk” yang umumnya dikenal sebagai ungkapan umpatan, serta didukung harga menu yang ramah di kantong.
Pemilik Warung Dhancuk, Jordi Muhammad Ervansyah, menjelaskan bahwa nama “Dhancuk” sekadar dipilih untuk menarik perhatian.

Menurutnya, nama tersebut memiliki makna filosofis yang berangkat dari menu utama warung tersebut, yakni pecel.
“Dhancuk itu singkatan dari Dandang di Pincuk. Dulu pecel disajikan menggunakan daun pincuk, nasi dari dandang ditaruh di pincuk. Dari situ kemudian disingkat menjadi Dhancuk,” ujar Jordi saat ditemui di lokasi pada pukul 11.00 WIB, Jum’at (9/1/2026).
Warung Dhancuk mulai beroperasi pada akhir 2024, sekitar Oktober atau November.
Sasar Mahasiswa
Sejak awal berdiri, warung ini memang menyasar segmen mahasiswa sebagai pasar utama.
Konsep yang diusung adalah tempat makan yang luas, sederhana, dengan menu rumahan yang murah namun tetap mengutamakan rasa.

Menu utama Warung Dhancuk adalah pecel yang dibanderol Rp6.000 per porsi.
Selain itu, tersedia pula beragam menu berkuah dan lauk pendamping dengan harga ekonomis.
Untuk makanan berat, Warung Dhancuk menyediakan rawon, soto, dan gultik sapi yang masing-masing dijual seharga Rp10.000 per porsi.

Pilihan lauk tambahan juga cukup beragam, di antaranya telur asin seharga Rp5.000, telur puyuh Rp4.000, tusuk usus Rp3.000, serta perkedel Rp2.000.
Sementara itu, aneka gorengan seperti menjes, tempe, dadar jagung, dan kerupuk dijual dengan harga Rp1.000 per item.

Untuk minuman, Warung Dhancuk menyediakan es jeruk dan jeruk hangat seharga Rp4.000, es teh dan teh hangat Rp3.000, serta kopi seharga Rp5.000.
Pembeli juga dapat memesan makanan untuk dibungkus dengan tambahan biaya Rp1.000.
Jordi menyebut, pemilihan menu berkuah dilakukan untuk menjaga kualitas makanan agar tetap nikmat meski disajikan dalam waktu tertentu.
“Kalau nasi kan bisa dingin, tapi kalau berkuah itu lebih terjaga kualitasnya dan tetap enak disantap,” jelasnya.
Resep Masakan Ibu
Dari segi rasa, Warung Dhancuk tidak meniru ciri khas pecel daerah tertentu. Resep disusun secara mandiri dan disesuaikan dengan harga jual.
Seluruh resep dan racikan bumbu dikelola langsung oleh sang ibu, Fanny, yang menjadi penanggung jawab dapur.
Strategi harga murah diterapkan dengan mengambil margin keuntungan yang relatif kecil, namun mengandalkan volume penjualan.
Dalam kondisi ramai, terutama saat masa aktif perkuliahan, warung ini dapat menghabiskan hingga 30–35 kilogram beras per hari.
Bahkan, pendapatan kotor tertinggi yang pernah dicapai mencapai Rp3,8 juta dalam sehari.
Baca Juga:
Legendaris, Warung Cak Tani Uniga, Siapa Yang Tidak Tahu?
“Daripada ambil untung besar tapi pembelinya sedikit, lebih baik untungnya kecil tapi perputarannya banyak,” ungkap Jordi.
Warung Dhancuk juga dikenal dengan jam operasional yang tidak biasa, yakni buka selama 26 jam atau non-stop.
Untuk metode pembayaran, warung ini melayani transaksi tunai, QRIS, hingga pembayaran berbasis aset digital seperti Bitcoin.
Meski demikian, tantangan tetap ada, terutama terkait fluktuasi harga kebutuhan pokok dan potensi kenaikan biaya sewa tempat.
Untuk menjaga harga tetap terjangkau, pihak warung aktif mencari pemasok dengan harga kompetitif dan menerapkan standar operasional prosedur (SOP) agar kualitas rasa tetap konsisten.
Selain fokus pada bisnis, Warung Dhancuk turut mengedepankan aspek sosial dengan memprioritaskan warga sekitar sebagai karyawan tanpa batasan usia, sebagai bentuk pemberdayaan masyarakat lokal.
Ke depan, Warung Dhancuk menargetkan ekspansi dengan membuka cabang di wilayah lain di Kota Malang.
Selain itu, pembenahan manajemen internal juga menjadi fokus agar pelayanan kepada pelanggan semakin optimal.
“Harapannya, Warung Dhancuk bisa berkembang dan dikenal lebih luas di Malang,” pungkas Jordi.








