Malanginspirasi.com – Hari AIDS Sedunia yang jatuh setiap 1 Desember kembali menjadi momentum global untuk meningkatkan kesadaran tentang HIV/AIDS.
Selama lebih dari tiga puluh tahun, peringatan ini menjadi simbol komitmen dunia dalam mencegah penyebaran HIV.
Juga mendukung para penyintas dan mengajak masyarakat melawan stigma dan diskriminasi.
Tahun 2025, kampanye internasional mengangkat tema “Overcoming Disruption, Transforming the AIDS Response.”
Tema ini menjadi pengingat bahwa berbagai tantangan seperti berkurangnya pendanaan.
Di sisi lain juga aturan yang diskriminatif, hingga hambatan hukum masih menghalangi upaya penanganan HIV/AIDS di banyak negara.
Oleh karena itu, semua pihak mulai dari pemerintah, organisasi, hingga masyarakat perlu untuk berinovasi, memperkuat kolaborasi, dan menjaga solidaritas agar target mengakhiri AIDS pada 2030 tetap bisa dicapai.
Perbedaan HIV dan AIDS
Sebelum melihat kondisi terkini, penting memahami perbedaan antara HIV dan AIDS.
Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), HIV adalah virus yang menyerang sistem kekebalan, terutama sel darah putih, sehingga tubuh menjadi lebih rentan terhadap penyakit.

Sementara AIDS adalah fase paling berat dari infeksi HIV yang terjadi bila seseorang tidak mendapatkan pengobatan.
Hingga kini memang belum ada obat yang benar benar menyembuhkan HIV, namun infeksi ini dapat dikendalikan melalui terapi antiretroviral (ARV).
Di Kota Malang, Dinas Kesehatan mencatat ada sekitar 500 pasien HIV aktif yang sedang menjalani terapi ARV di dua fasilitas utama.
Yakni Puskesmas Dinoyo melayani sekitar 400 pasien dan Puskesmas Pandanwangi menangani sekitar 100 pasien.
Dari total tersebut, hanya 31 persen yang merupakan warga Kota Malang. Mayoritas pasien datang dari luar daerah.
Faktor Penyebaran
Kepala Dinas Kesehatan Kota Malang, Husnul Muarif, menyebutkan bahwa penularan HIV melalui ibu ke anak jumlahnya kecil.
Justru dari gaya hidup terutama kelompok laki-laki seks laki-laki (LSL).
“Faktor penularan terbesar berasal dari perubahan perilaku, khususnya pada kelompok laki laki seks laki laki (LSL). Sementara penularan dari ibu ke anak jumlahnya sangat kecil,” ujarnya, dikutip dari momentum.com.
Layanan Pemeriksaan di Kota Malang

Dinkes Kota Malang terus memperluas layanan pemeriksaan dan konseling melalui Voluntary Counseling and Testing (VCT).
Layanan ini tersedia di seluruh fasilitas kesehatan dan juga melalui Mobile VCT yang diarahkan ke titik titik tertentu bersama komunitas.
“VCT itu sebelum pemeriksaan dilakukan konseling dulu. Pengobatan ARV juga harus dijalani seumur hidup, jadi penting bagi klien menjaga diri dan mencegah penularan,” tambah Husnul.
Baik WHO maupun Kementerian Kesehatan RI kembali mengingatkan bahwa HIV tidak menular lewat aktivitas sehari hari.
Layaknya seperti berpelukan, berjabat tangan, makan bersama, atau memakai toilet yang sama.
Penularan hanya terjadi melalui hubungan seksual tanpa kondom, penggunaan jarum suntik tidak steril, serta dari ibu ke bayi.
Melalui ini, diharapkan dapat mengurangi kesalahpahaman dan membangun lingkungan yang lebih inklusif dan bebas stigma bagi para penyintas HIV.








