AI Bisa Deteksi Risiko Diabetes Tipe 2 Lebih Awal Lewat Tes Darah Sederhana

Malanginspirasi.com – Diabetes tipe 2 sering datang diam-diam. Banyak orang baru tahu dirinya sakit setelah kadar gula darah sudah tinggi. Padahal, perubahan di tubuh sebenarnya sudah mulai terjadi bertahun-tahun sebelumnya.

Kabar baiknya, ilmuwan kini memanfaatkan kecerdasan buatan (AI) untuk “membaca” tanda-tanda awal itu dari tes darah biasa. Tes yang sama yang biasa dilakukan saat medical check-up atau kontrol kesehatan rutin.

Penelitian terbaru dari German Center for Diabetes Research (DZD) di Jerman menemukan terobosan metode baru.

Mereka menggunakan AI untuk menganalisis penanda epigenetik di dalam darah orang yang sudah prediabetes (kondisi gula darah lebih tinggi dari normal tapi belum diabetes).

Hasilnya? AI bisa mengelompokkan orang ke dalam kelompok berisiko tinggi dengan akurasi sekitar 90 persen. Penanda ini terkait dengan peradangan kronis, risiko diabetes, serta penyakit jantung dan ginjal di masa depan.

Artinya, dengan tes darah sederhana plus bantuan AI, dokter bisa tahu siapa yang benar-benar berisiko tinggi mengalami diabetes atau komplikasi berat, bahkan sebelum kadar gula darah naik signifikan. Ini jauh lebih akurat dibanding tes HbA1c atau gula darah puasa biasa yang baru mendeteksi masalah saat sudah terlambat.

Studi lain juga menunjukkan hal serupa. Beberapa peneliti menemukan molekul kecil (metabolit) dalam darah yang berubah bertahun-tahun sebelum diabetes muncul.

AI membantu mengenali pola kombinasi molekul ini. Sehingga prediksi risikonya lebih baik daripada faktor risiko klasik seperti usia, berat badan, atau riwayat keluarga saja.

Monitoring Glukosa

Ada pula pendekatan lain yang menggunakan data dari alat pemantau gula darah terus-menerus (continuous glucose monitor/CGM).

AI menganalisis lonjakan dan penurunan gula darah sehari-hari, bahkan pada orang yang masih terlihat sehat. Cara ini bisa mengidentifikasi subtipe diabetes dan risiko lebih dini.

Mengapa ini penting? Karena diabetes tipe 2 dan komplikasinya (seperti serangan jantung, gagal ginjal, atau kebutaan) bisa dicegah atau ditunda jika diketahui sejak dini.

Baca Juga: 

Polusi Udara Tak Hanya Rusak Paru-Paru dan Jantung, Tapi Juga Picu Diabetes

Olahraga Untuk Penderita Diabetes, Bisa Atur Kadar Gula!

Dengan memperbaiki gaya hidup seperti olahraga rutin, makan sehat, dan menurunkan berat badan—orang berisiko tinggi bisa menghindari penyakit ini sepenuhnya atau setidaknya menundanya bertahun-tahun.

Kini, teknologi AI semacam ini masih dalam tahap penelitian dan uji klinis di beberapa negara. Namun, para ahli optimistis bahwa dalam beberapa tahun ke depan, tes darah biasa ditambah analisis AI bisa menjadi bagian standar skrining kesehatan. Terutama bagi orang yang punya faktor risiko seperti obesitas, riwayat keluarga diabetes, atau usia di atas 40 tahun.

Yang patut diperhatikan, AI tidaklah menggantikan dokter. Tetapi membantu dokter “melihat” lebih jauh ke masa depan kesehatan kita hanya dari setetes darah. Dengan demikian pencegahan dini menjadi lebih mungkin sehingga jutaan orang berpotensi terhindar dari diabetes tipe 2.

Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *