Kemenkes Berbagi Tips Menghindari Penyebaran Virus Nipah

Malanginspirasi.com – Wabah virus Nipah di India, menimbulkan kekhawatiran di sejumlah negara Asia, termasuk Indonesia.

Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Republik Indonesia (RI) juga turut meningkatkan kewaspadaan, terutama di pintu masuk bandara.

Penerapan protokol kesehatan juga dilakukan secara ketat

Dikutip dari situs resmi Kemenkes RI, Kepala Biro Komunikasi Kemenkes Aji Muhawarman mengatakan bahwa warga dapat melakukan antisipasi.

Antisipasi tersebut adalah dengan menghindari buah yang terkena bekas gigitan kelelawar.

“Buah-buahan itu dicuci dulu baru dikupas.  Daging juga seperti itu,” katanya. “Mungkin ada beberapa orang yang konsumsi daging harus dimasak dengan baik.”

Selain itu, Kemenkes juga berbagi tips untuk mencegah penularan virus nipah.

Selain menghindari buah dengan tanda gigitan kelelawar, konsumsi daging ternak apapun harus dilakukan secara matang.

Kontak dengan hewan ternak juga perlu dihindari karena kemungkinan terinfeksi virus Nipah.

Khusus bagi petugas pemotong hewan, maka mereka harus menggunakan sarung tangan dan pelindung untuk menyembelih atau memotong hewan.

Virus HMPV dari Cina Sudah Masuk Indonesia, Bukan Pandemi!

Sedangkan bagi  tenaga kesehatan (nakes) dan keluarga yang merawat serta petugas laboratorium yang mengelola spesimen pasien terinfeksi, harus menerapkan pencegahan dan pengendalian infeksi (PPI) dengan benar.

Masyarakat juga diminta menerapkan etika batuk dan bersin dan juga mengenakan masker jika mengalami gejala.

Tak terkecuali penerapan protokol kesehatan seperti cuci tangan pakai sabun atau menggunakan hand sanitizer.

Kenali Virus Nipah

Virus Nipah dapat mematikan dan tertular melalui beberapa jalur, termasuk dari hewan ke manusia.

Paparannya terutama melalui kelelawar buah, atau melalui makanan yang terkontaminasi, atau juga langsung antar manusia.

Virus ini dapat menyebabkan berbagai penyakit.

Awalnya bisa infeksi tanpa gejala hingga penyakit pernapasan akut dan ensefalitis fatal, begitu dari kutipan situs resmi Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

Penularan dari manusia ke manusia terjadi melalui kontak dekat dengan cairan tubuh orang yang terinfeksi.

WHO menyebutkan virus ini menginfeksi berbagai macam hewan dan menyebabkan penyakit parah dan kematian pada manusia.

Virus Nipah memiliki tingkat kematian berkisar antara 45 hingga 75 persen. Hingga ini belum ada vaksin atau pengobatan medis yang tersedia untuk hewan atau manusia.

Pada Desember 2025, para peneliti di Universitas Oxford, bekerja sama dengan Pusat Internasional untuk Penelitian Penyakit Diare, Bangladesh, meluncurkan uji klinis fase dua pertama di dunia untuk vaksin virus Nipah yang melibatkan 306 peserta sehat berusia 18 hingga 55 tahun.

Sebagian besar orang yang selamat dari ensefalitis akut, peradangan jaringan otak, pulih sepenuhnya.

Namun demikian WHO telah melaporkan kondisi neurologis jangka panjang pada para penyintas.

Beberapa orang mungkin juga mengalami meningitis.

Sekitar 20 persen pasien yang pulih dari virus Nipah mengalami gejala neurologis residual, seperti gangguan kejang.

Pengobatan utama untuk manusia adalah perawatan suportif. WHO menggambarkan sebagai penyakit prioritas dengan  kebutuhan mendesak untuk percepatan penelitian dan pengembangan.

Nipah pertama kali diidentifikasi selama wabah tahun 1999 di Malaysia.

Sejak itu, wabah telah dilaporkan di beberapa bagian Asia Selatan, termasuk Singapura, serta di India timur laut dan Bangladesh.

Virus Nipah belum pernah dilaporkan atau ditemukan di Kanada.

Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *