Alasan Mengapa Makanan Cepat Saji Sangat Enak Meski Tidak Sehat

Malanginspirasi.com – The American Journal of Medicine melakukan studi terbaru dimana  orang dewasa yang mengonsumsi makanan cepat saji dalam jumlah lebih tinggi memiliki peningkatan risiko penyakit kardiovaskular hampir 47 persen.

Dikutip dari Forbes, studi ini melibatkan hampir 4.700 peserta, yang mewakili ukuran sampel populasi rata-rata.

Istilah itu mencakup spektrum penyakit yang berasal dari berbagai patologi yang memengaruhi jantung dan pembuluh darah.

Penyakit tersebut termasuk kondisi seperti tekanan darah tinggi, kolesterol tinggi, dan diabetes.

Jika tak ada penanganan, kondisi ini dapat menyebabkan konsekuensi fatal seperti  gagal jantung, sindrom metabolik jangka panjang, gagal hati dan ginjal, dan efek kesehatan kronis lainnya.

Makanan Cepat Saji Jadi Pemicu Munculnya Penyakit Kronis

Makanan cepat saji terbukti dapat meningkatkan  angka penyakit dan hasil kesehatan yang buruk di seluruh populasi global.

Pasalnya, jenis makanan seperti ini mengandung berbagai bahan dan produk untuk membuatnya lebih tahan lama, lebih enak, dan lebih menarik untuk dikonsumsi.

Apalagi banyak promosi yang menonjolkan bahwa makanan cepat saji seolah pas  untuk individu atau keluarga sibuk.

Padahal, jenis makanan tersebut hanya setengah matang sebelum penambahan penstabil.

Yang membuatnya enak adalah kandungan proporsi lemak, karbohidrat, dan natrium tertentu supaya tetap awet dan enak  beberapa minggu atau bulan setelah tanggal produksi.

Baca Juga:

Apakah Kopi Instan Sehat? Ini yang Perlu Diketahui

Lebih lanjut, penelitian telah menunjukkan bahwa metode yang sama untuk menarik konsumsi juga menyebabkan peningkatan konsumsi per makanan.

Sebuah studi yang diterbitkan dalam Cell Metabolism menemukan bahwa konsumsi makanan cepat saji dikaitkan dengan asupan kalori yang lebih tinggi.

Artinya orang tidak hanya semakin mencari makanan olahan ini, tetapi mereka juga mengonsumsinya dalam jumlah lebih banyak pada waktu tertentu.

Asupan kalori  lebih tinggi, terutama di luar tingkat pengeluaran energi harian total seseorang, dapat menyebabkan penurunan kesehatan yang signifikan melalui hiperlipidemia, penambahan berat badan, dan penyakit metabolik.

Selain itu, studi tersebut juga menunjukkan konsumsi makanan yang segar dibandingkan dengan makanan siap saji mengubah penanda peradangan sistemik dan stres oksidatif.

Keduanya berhubungan dengan peningkatan laju pergantian sel, kerusakan sistemik, dan penuaan secara keseluruhan.

Dampak kesehatan sporadis lainnya  termasuk peningkatan signifikan LDL atau kolesterol berbahaya dibandingkan dengan HDL atau kolesterol baik.

Selain itu juga perubahan hormonal yang menyebabkan metabolisme energi yang lebih rendah, spermatogenesis tryang lebih rendah, dan gangguan motilitas sperma.

Apakah Sepenuhnya Harus Dihindari?

Terlepas dari efek negatifnya, memang sulit menghindari jenis makanan ini.

Lebih baik membatasi konsumsi makanan tersebut dan fokus pada peningkatan konsumsi makanan segar sebisa mungkin.

Pola makan sehat harus berfokus pada makanan yang kaya protein, biji-bijian utuh, sayuran, produk susu, dan pembatasan gula tambahan.

Terbukti, perubahan bertahap terbukti berkelanjutan dalam jangka panjang.

Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *