Malanginspirasi.com – Dokter spesialis anak, Rumah Sakit Universitas Brawijaya (RS UB), dr. Laurentia Ima Monica, Sp. A. M. Biomed menyampaikan pentingnya memperhatikan tahapan pencegahan campak, penyakit menular yang sedang marak di Indonesia.
Data Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) 2025 menunjukan kasus campak Indonesia berada di posisi kedua setelah Yaman dan diatas India.
Kasus di Yaman menembus angka 11.288, di Indonesia 10.744 kasus, dan di India 9.666 kasus.
“Sementara di Indonesia sejak Februari 2026, kasus suspek sudah mencapai 10 ribuan. Jika melihat data tahun 2025, kasus suspek mencapai 60-63 ribuan dengan angka kematian 69 kasus,” ujar dr. Laurentia.
“Bisa dibayangkan, jika angka suspeknya sudah setinggi ini, dan ketika kita tidak melakukan apapun, angkanya pasti akan jauh lebih tinggi,’ tegasnya.

Ia mengungkapkan perlunya membuat tahapan komprehensif yang efektif dalam pencegahan campak.
Menurutnya, penyebab tingginya angka suspek adalah rendahnya cakupan vaksinasi yang masih di angka 83 persen, seharusnya di atas 95 persen.
Rendahnya cakupan vaksin ini terjadi salah satunya karena resistensi dari masyarakat untuk divaksin.
“Padahal kekebalan komunitas (herd immunity) melalui cakupan vaksin sangat penting. Apabila cakupan imunisasi di suatu kelompok atau komunitas tinggi, maka kekebalannya juga akan tinggi. Hal ini dapat melindungi diri sendiri dan kelompok rentan yang tidak bisa divaksin karena kondisi tertentu,” jelas dr. Laurentia.
Baca Juga:
Dosen FK UB Ingatkan Kewaspadaan Terhadap Ancaman Virus Nipah
Beberapa kondisi seseorang yang tidak bisa menerima vaksin dan rentan terkena campak seperti pasien dengan penyakit kronis, mengonsumsi obat-obatan tertentu misal steroid, penderita penyakit jangka panjang, kemudian usia rentan lainnya yakni bayi kecil dan ibu hamil.
Bagi para orang tua dan masyarakat, dr. Laurentia merekomendasikan beberapa hal yang perlu dilakukan untuk meningkatkan kekebalan tubuh guna mencegah penyakit yang menular lewat udara ini.
Pertama, vaksinasi campak secara rutin yang bisa dilakukan sejak anak usia 9 bulan.
Selain itu juga penerapan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS), rutin mencuci tangan dan jangan berkerumun jika tidak perlu.
Apabila sakit dan sudah ada gejala campak, maka perlu melakukan isolasi diri.
“Ciri-ciri kondisi klinis campak dapat dilihat berdasarkan fasenya yaitu fase inkubasi, prodromal, dan erupsi,” tambah dr. Laurentia.
Fase Inkubasi
Fase inkubasi adalah masa seseorang terpapar hingga timbul sakit dalam waktu 10-14 hari sebelum fase prodromal.
Fase prodromal ditandai munculnya trias campak seperti demak, pilek, dan mata merah, fase ini berlangsung 4 hari.
Kemudian, muncul bintik putih di pipi bagian dalam, 1-2 hari sebelum fase erupsi.
Fase erupsi, pasien mengalami kemerahan merata, dan bintil dari kepala, belakang telinga, menyebar keseluruh tubuh, terakhir tangan kaki.
Fase ini terjadi dalam kurun waktu 4-10 hari.
Terakhir, fase konvalesen, dimana titik merah di tubuh berkurang bukan hilang, dan berganti menjadi kecoklatan, bersisik, jika mengalami diare gejalanya menurun.
Fase ini terjadi dalam kurun waktu 4-10 hari.
Selain itu, dr. Laurentia juga menjelaskan bahwa kondisi campak dibagi menjadi ringan dan berat.
Kondisi berat dapat disertai pneumonia, sesak, gagal nafas, infeksi otak, penurunan kesadaran, hingga kejang.
“Meski demikian, penyakit ini bisa sembuh. Tapi karena disebabkan oleh virus dan kita belum ada antivirus, jadi sangat bergantung pada kekebalan tubuh kita. Serta apabila sudah mengalami gejala diatas, segera diperiksakan seawal mungkin. Karena, jika sudah terlambat akan susah penangannya,” pungkasnya.







