Jurus Ampuh Mahasiswa Lawan Diskriminasi

Malanginspirasi.com – FIA UB menggelar Forum Moderasi Beragama yang salah satunya membahas strategi membangun toleransi. Tujuannya sebagai jurus ampuh mahasiswa untuk lawan diskriminasi.

Bertempat di Gedung A lantai 4 FIA UB, acara ini menghadirkan salah satu mahasiswa UB untuk dijadikan pemateri, yakni Marcello Kusuma Sanjaya dari jurusan Administrasi Bisnis.

Dalam pemaparannya, Marcello menekankan bahwa melalui dialog, merupakan salah satu kunci untuk menumbuhkan sikap toleransi untuk antarumat beragama.

“Dialog antara agama yang baik ataupun yang benar itu bisa melalui dari cara pandang kita, serupa pandang kita antara agama ini seperti apa, supaya tidak adanya miskomunikasi,” paparnya.

Selain dialog, kegiatan kolaboratif juga menjadi strategi untuk membangun toleransi.

Kolaborasi Nyata Lewat Pengalaman Pelayanan Sosial

Marcello menceritakan pengalamannya sewaktu menjadi petugas pelayanan di sebuah yayasan yang dihuni oleh anak-anak dengan latar belakang berbeda.

Menurutnya sikap toleransi itu adalah sikap yang saling menerima, tanpa memandang suku, ras, dan agama.

Jurus Ampuh Mahasiswa Lawan Diskriminasi
Marcello saat memaparkan materi tentang strategi membangun toleransi. (Riznima Azizah Noer)

“Kami tidak memandang bulu mereka mau dari ras apa, dari suku apa, dari agama apa. Karena di situ kami melayani teman-teman yayasan tersebut, kita melakukan sama seperti orang-orang di luar sana,” ungkapnya.

Selanjutnya edukasi, juga menjadi cara lain untuk membangun toleransi.

Menurut sudut pandangnya, pemberian pengetahuan sederhana akan pentingnya toleransi kepada masyarakat, dapat mempererat persatuan bangsa.

Peran Penting Mahasiswa dalam Melawan Diskriminasi

Ia menegaskan bahwa peran mahasiswa disini sangat penting sebagai generasi muda untuk mengedukasi dan melawan diskriminasi kepada masyarakat.

Marcello juga menekankan dua hal penting yakni kepemimpinan dan safe place.

Disini mahasiswa harus menjadi untuk memimpin, baik untuk suatu komunitas maupun dirinya sendiri.

“Pemimpin harus memiliki sudut pandang yang baik, memiliki pola pikir yang baik agar
dapat mengajarkan yang baik ataupun yang tidak itu seperti apa kepada orang tersebut,” tegas Marcello.

Sementara itu, safe place sendiri juga penting agar kegiatan ibadah atau keagamaan dapat dilakukan secara aman dan nyaman, baik di lingkungan kampus maupun masyarakat luas.

Dengan adanya ruang aman ini, mahasiswa dapat mengembangkan kegiatan yang menjunjung keberagaman tanpa adanya ketakutan akan pendiskriminasian.

Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *