Peringati 16 Hari Anti Kekerasan terhadap Perempuan, Dosen Unmer Pertegas Perempuan Harus Dijaga dan Dimuliakan

Malanginspirasi.com – Setiap tanggal 25 November diperingati sebagai Hari Internasional untuk Penghapusan Kekerasan terhadap Perempuan.

Sekaligus menjadi titik awal Kampanye 16 Hari Anti Kekerasan terhadap Perempuan, yang berlangsung hingga 10 Desember.

Momentum ini digunakan untuk meningkatkan kesadaran publik mengenai pentingnya menghentikan berbagai bentuk kekerasan yang masih banyak dialami perempuan dan anak di berbagai daerah.

Perlindungan Serius Perempuan

Salah satu akademisi, Lutfi Hidayati Fauziah, S.Psi., M. Si., selaku dosen Psikologi Universitas Merdeka Malang (UNMER) mengungkapkan isi pikirannya.

Ia menegaskan bahwa perempuan memegang peran penting dalam membentuk generasi di masa depan.  Sehingga membutuhkan perlindungan yang serius, baik dalam keluarga maupun lingkungan sosial.

Peringati 16 Hari Anti Kekerasan terhadap Perempuan, Lutfi Pertegas Perempuan Harus Dijaga dan Dimuliakan
Lutfi Hidayati Fauziah, S.Psi., M.Si., selaku dosen Psikologi Universitas Merdeka Malang. (Riznima Azizah Noer)

“Dalam Islam, perempuan itu orang tua utama dalam pendidikan. Karena itu perempuan perlu dimuliakan dan dijaga,” ujarnya di Fakultas Psikologi UNMER.

Lutfi menjelaskan bahwa proses kehamilan hingga melahirkan dan menyusui sangat memengaruhi kondisi emosional ibu dan anak.

“Apa yang dirasakan ibu saat hamil, itu juga dirasakan janin. Kalau selama kehamilan ada konflik, tekanan, atau stres, itu bisa berdampak pada perkembangan emosional anak ke depannya,” jelasnya.

Bahkan, dari kasus yang ia tangani, banyak masalah anak ternyata berawal dari kondisi ibu saat masa kehamilan.

“Ada yang bertanya, ‘kok anakku emosinya seperti ini?’, setelah ditelusuri ternyata saat hamil ibunya berkonflik berat dengan suami. Dampaknya bisa sampai sejauh itu,” tambahnya.

Peringati 16 Hari Anti Kekerasan terhadap Perempuan, Lutfi Pertegas Perempuan Harus Dijaga dan Dimuliakan
Gambar kekerasan rumah tangga yang berdampak terhadap perempuan dan anak. (Pixabay/Prostock studio)

Karena itu, ia menilai perempuan perlu dijaga dan dimuliakan, bukan hanya demi kesejahteraan diri mereka, tetapi juga demi generasi yang akan mereka lahirkan.

Lutfi juga menyoroti peran institusi pemerintah yang kini semakin aktif memberi pendampingan.

“Di kota dan kabupaten sudah ada DP2KBP3A. Mahasiswa saya yang magang di sana menerima banyak aduan kekerasan pada perempuan dan anak,” tutur Lutfi.

Kasus Kekerasan Perempuan

Ia menyebut bahwa kasus kekerasan pada anak bahkan dilakukan oleh orang terdekat.

“Ada yang dilecehkan ayahnya, ada oleh kakeknya, oleh lingkungan sekitar. Mereka semua butuh dilindungi,” sambungnya.

Tidak hanya di rumah, kekerasan juga banyak terjadi di tempat kerja dan ruang publik.

Berdasarkan penelitiannya tentang work incivility, Lutfi menyebut tingkat ketidaksopanan di tempat kerja cukup tinggi.

“Angkanya 80%. Banyak yang awalnya bercanda, lama lama jadi pegang pegang, komentar yang tidak pantas, bahkan dari atasan sendiri,” imbuhnya.

Lutfi juga mengingatkan soal kasus yang menjerat para perempuan melalui aplikasi.

“Mereka kenal sebentar, lalu dipaksa. Kalau menolak, diancam disebarkan. Itu masih banyak terjadi,” katanya.

Peringati 16 Hari Anti Kekerasan terhadap Perempuan, Lutfi Pertegas Perempuan Harus Dijaga dan Dimuliakan
Ilustrasi siluet wanita yang mengalami pelecehan. (Pixabay/Lucky Kristianata)

Tentu saja dampak psikologis yang ditimbulkan tidak ringan. Karena itu, ia menegaskan bahwa korban tidak boleh diam.

“Mereka bisa ketakutan, cemas, depresi, bahkan tidak mau kuliah lagi. Itu sangat berat, maka dari itu segera cari bantuan. Kalau punya bukti, konsultasikan ke DP2KBP3A. Ini Gratis, dan kalau mau proses hukum, mereka bisa bantu,” tegasnya.

Lutfi juga menekankan pentingnya perempuan memperkuat diri.

“Wanita itu harus kuat, baik batin maupun fisiknya. Bapak saya dulu selalu menyuruh saya bawa pepper spray. Kita harus bisa menjaga diri,” ungkap Lutfi.

Bahkan dalam hubungan pacaran, ia meminta perempuan tetap berfikir logis.

Baca Juga:

Setelah Punya Anak, Bagaimana Menjaga Hubungan dengan Pasangan Tetap Harmonis?

“Dia belum memiliki kamu sepenuhnya. Kita sama sama belum jadi apa apa. Jangan sampai terlena cinta sampai tidak sadar sedang disakiti,” pesannya.

“Kalau sudah terlanjur kecemplung, susah. Maka harus berani bilang tidak, minta bantuan, atau cerita ke orang tua,” lanjutnya.

Melalui kampanye ini, Lutfi berharap masyarakat semakin peduli terhadap keselamatan perempuan.

“Kita harus logis, sadar, dan kuat. Karena kalau perempuan kuat, Insya Allah kejadian buruk bisa dicegah,” tutupnya.

Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *