Malanginspirasi.com – Penulis novel best seller Re: dan peRempuan, sekaligus pegiat literasi nasional, Kang Maman Suherman, menegaskan pentingnya memandang perempuan sebagai manusia seutuhnya, bukan sekadar objek atau produk sosial. Hal tersebut disampaikannya dalam acara Ngaji Literasi bertema Perempuan dalam Karya Kang Maman dan Gerakan Literasi, yang digelar di Gramedia Kayutangan, Kota Malang, Senin (15/12/2025).
Ulas Penggambaran Perempuan
Dalam forum literasi yang berlangsung hangat dan penuh refleksi itu, Kang Maman mengulas bagaimana perempuan kerap digambarkan kuat sekaligus rapuh dalam karya-karyanya.

Menurutnya, penggambaran tersebut bukan sekadar pilihan artistik, melainkan cerminan realitas sosial yang masih terjadi di masyarakat.
“Saya berusaha menyerap fakta-fakta di lapangan. Kita masih sering mendepersonalisasi perempuan, melihat perempuan sebagai barang. Sebagai produk yang dihargai karena cantik atau bernilai ekonomi. Buat saya, itu melecehkan kemanusiaan,” ujar Kang Maman kepada jurnalis Malang Inspirasi.
Baca Juga:
Book Tour Henry Manampiring di Malang: Novel ‘Filsafat Punya Bakat’ Disambut Antusias Pembaca
Ia berpendapat bahwa kodrat paling luar biasa dari perempuan adalah sebagai manusia, yang memiliki hak, ruang, dan kesempatan yang setara dengan laki-laki.
Pesan tersebut secara konsisten ia hadirkan dalam karya-karya sastra yang ditulisnya.
Banyak narasi tentang perempuan dalam karyanya berangkat dari pengalaman nyata, termasuk kisah hidup ibunya yang pernah menjadi orang tua tunggal.
Dari pengalaman tersebut, ia menyaksikan secara langsung bagaimana perempuan harus menghadapi stigma sosial yang kerap merendahkan martabatnya.

“Saya melihat sendiri betapa kuatnya perempuan. Stigma yang menempatkan perempuan sebagai nomor dua itu sangat menghinakan kemanusiaan. Cara berpikir seperti ini yang harus kita ubah,” tegasnya.
Nilai Kesetaraan
Kang Maman menegaskan bahwa nilai-nilai kesetaraan sejatinya selaras dengan ajaran agama, yang mengajarkan saling memuliakan sesama manusia tanpa memandang jenis kelamin.
Oleh karena itu, ia berharap perempuan semakin berani bersuara dan menolak perlakuan yang melanggar hak-haknya.
Ia menilai, meningkatnya kesadaran perempuan terhadap hak-haknya tidak boleh dipandang sebagai ancaman, melainkan sebagai kemajuan peradaban.
“Perempuan harus berani berkata tidak, berani bersuara ketika haknya dilanggar. Tingginya angka perceraian belum tentu buruk. Bisa jadi karena perempuan sudah tahu haknya dan tidak mau lagi diam dalam kekerasan,” ujarnya.

Ia menambahkan, tujuan utama kehidupan rumah tangga adalah mencapai ketenangan, kebahagiaan, dan kasih sayang.
Jika di dalamnya terdapat kekerasan dan penghinaan, maka tujuan tersebut telah gagal dicapai bersama.
“Ini bukan persoalan perempuan semata, tapi persoalan kemanusiaan. Perempuan tidak boleh diperlakukan tidak adil di mana pun dan oleh siapa pun,” pungkas Kang Maman.
Acara Ngaji Literasi tersebut menjadi ruang refleksi bersama bagi peserta untuk memaknai ulang relasi laki-laki dan perempuan secara lebih setara.
Sekaligus menegaskan peran literasi sebagai sarana membangun kesadaran sosial yang lebih manusiawi.








