Malanginspirasi.com – Di tengah geliat pembangunan perkotaan yang terus meluas, keberadaan lahan pertanian di Kota Malang semakin menyusut. Namun, di Desa Merjosari, Kecamatan Lowokwaru, masih terdapat sosok petani perempuan tangguh yang setia mengelola sawahnya.
Suwarni, seorang petani lansia, menjadi contoh nyata bagaimana perempuan mempertahankan tradisi bertani sekaligus menopang kehidupan keluarga.
Sejak pagi, Suwarni menanam padi di empat bidang sawah yang ia sewa dari pemerintah sejak lama.
Meski usia tidak lagi muda, semangatnya untuk bertani tetap tinggi.
“Oh, sudah lama, sudah lama,” ujar Suwarni ketika ditanya sejak kapan ia menjadi petani pada Senin (22/12/2025).
“Ini saya tanam sendiri, dari dulu sudah begitu. Nyewa lahan itu dari pemerintah, kontraknya satu tahun satu tahun gitu,” tambahnya.

Ia menanam padi dua kali setahun, baik pada musim hujan maupun kemarau, dengan air yang bersumber dari irigasi sungai setempat.
Bibit padi sebagian besar dibeli sendiri, sementara pupuk kadang menggunakan subsidi pemerintah.
“Ini beli sendiri, kadang ya cuma dapat, kadang-kadang dikasih, tapi nggak mesti. Lah kalau pupuk itu subsidi,” jelasnya.
Keterbatasan Tenaga
Dalam keseharian bertani, Suwarni dibantu anak laki-lakinya.
Persiapan lahan seperti membajak atau menyiapkan sawah biasanya dilakukan oleh anggota keluarga laki-laki, sementara ia fokus menanam.
“Anak saya itu yang nyerolas, saya cuma nanam tok. Iya cuma nanam tok,” ujarnya sambil tersenyum.
Bahkan untuk mencabut rumput setelah beberapa minggu menanam, ia tetap aktif mengerjakan sendiri.

Keberadaan buruh tani di Kota Malang kini sangat terbatas.
Beberapa mahasiswa sempat memberikan bantuan alat pertanian seperti jaring, tetapi jumlahnya terbatas dan bersifat temporer.
“Iya, kayak anak tujuh ke sini, kayak anak kuliah gitu, iya anak UB katanya. Tapi tetap di sana saya sendiri yang tanam. Nggak ada orang makanya saya nggak boleh kerja ke pabrik lagi,” kata Suwarni.
Menurutnya, upah buruh tani pun bervariasi, tergantung luas tanah dan waktu pengerjaaan.
“Sekarang itu kalau sampai jam 11 itu Rp 50.000. Kadang-kadang itu anak saya itu mbayar orang karena nggak ada orang, cari orang Landungan orang Sengkaling dibayar 100 sama anak saya,” ujarnya.
Urbanisasi Pekotaan
Ia menambahkan bahwa lahan pertanian semakin berkurang karena banyak yang beralih menjadi perumahan.
Selain tantangan tenaga dan urbanisasi, dukungan pemerintah juga dibutuhkan, terutama perlindungan tanaman dan alat pertanian.

“Kalau padinya, sudah tua kan butuh jaring,” kata Suwarni.
Meski menghadapi keterbatasan, perempuan seperti Suwarni tetap memegang peranan penting dalam mempertahankan produksi pangan di kota.
Aktivitasnya tidak hanya mengelola sawah, tetapi juga menegaskan bahwa peran perempuan dalam pertanian tetap vital, terutama ketika lahan pertanian semakin terbatas dan buruh tani hampir punah.
“Ya, hasilnya cukup untuk kebutuhan sehari-hari, karena jika tidak bekerja, penghasilan tidak menentu dan tidak setiap hari,” ujar Suwarni, perempuan yang suaminya sudah meninggal itu.
Di balik kesibukan dan tantangan, semangat perempuan petani di Kota Malang tetap hidup, menjadi simbol ketekunan dan keberlanjutan pertanian di tengah modernisasi perkotaan.








