Malanginspirasi.com – Memasuki awal bulan Juni 2026, masyarakat di kawasan Malang Raya mulai merasakan penurunan suhu udara yang cukup signifikan, terutama pada malam hingga dini hari. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengonfirmasi bahwa kondisi ini menandai dimulainya fenomena tahunan yang dikenal masyarakat Jawa sebagai mbediding.
Berdasarkan data prakiraan cuaca terkini dari BMKG Stasiun Klimatologi Jawa Timur pada Senin (8/6/2026), kondisi cuaca di wilayah Malang sepanjang siang hari didominasi oleh langit cerah berawan hingga berawan (partly sunny). Suhu permukaan pada siang hari dilaporkan berada di kisaran maksimal 27-28°C dengan tingkat kelembapan udara mencapai 68%.
Namun, kontras suhu udara mulai terasa tajam menjelang malam hari. BMKG memproyeksikan suhu minimum di wilayah Malang Raya anjlok hingga mencapai 17°C. Bahkan menyentuh angka 15°C di dataran tinggi seperti kawasan Poncokusumo dan Kota Batu. Selain penurunan suhu, wilayah perkotaan dilaporkan mengalami kondisi udara kabur (haze) hingga kabut tipis akibat penguapan yang minim.
BMKG menjelaskan, fenomena mbediding atau penurunan suhu ekstrem di musim kemarau ini dipicu aktifnya Angin Monsun Timur yang bertiup dari benua Australia menuju Asia. Angin tersebut membawa massa udara yang bersifat kering dan dingin melewati wilayah sirkulasi Indonesia, termasuk Jawa Timur.
Kondisi dingin yang “menggigit” ini diperparah oleh minimnya tutupan awan di langit pada musim kemarau. Absennya awan menyebabkan energi panas matahari yang diserap bumi pada siang hari langsung terlepas bebas kembali ke angkasa pada malam hari tanpa ada penghalang. Sehingga memicu penurunan suhu permukaan secara drastis pada dini hari.
Warga disarankan menggunakan jaket atau selimut tebal pada malam hari dan menjaga asupan cairan tubuh. Pantau terus update BMKG untuk perubahan cuaca mendadak di kawasan pegunungan.









