Malanginspirasi.com – Ditengah acara Indonesia Creative Cities Festival (ICCF) 2025 di Malang Creative Center (MCC), terdapat salah satu stan yang menarik pengunjung yakni Batik Tulis Niati.
Dibalik warna-warna yang indah dan motif khas malangan itu, berdiri sosok Kusniati.
Ia adalah seorang pengrajin sekaligus pemilik usaha yang lahir dari rasa penasaran sederhana, namun berbuah karya luar biasa.
Kisahnya bersama Batik Tulis Niati, berawal pada November 2019.
“Awalnya saya cuma suka batik. Saya penasaran, kok bisa ya satu pena bisa menghasilkan warna yang bermacam-macam,” ujar Kusniati.
Lahirnya Batik Niati
Rasa keingintahuannya inilah yang membuatnya mengikuti membatik selama sepuluh hari.
Hingga akhirnya pada Maret 2020 ia berani menciptakan merek sendiri.

Batik Tulis Niati resmi dirilis pada pertengahan 2022 dan sejak itu mulai dikenal luas di kalangan pecinta batik Malangan.
Kusniati tidak hanya menjadi pemilik, tetapi juga turun langsung sebagai pengrajin.
Dalam usahanya ia mengusung konsep custom made, jadi setiap kain akan dibuat dengan desain unik yang tidak akan ditemukan di tempat lain.
“Saya lebih banyak custom membuatnya, jadi di luar itu tidak bakal ketemu atau kembali lagi batik itu. Kalau bukan untuk seragam, saya tidak pernah bikin motif yang sama lagi,” jelasnya.
Salah satu karyanya yang paling mencuri perhatian adalah batik bertuliskan Mbois Malang, bermakna “Malang Keren” dengan motif aksara Jawa yang indah.
Makna Filosofis
Motif batik yang dihasilkannya kerap menampilkan simbol-simbol khas Malang, seperti topeng, tugu, dan teratai.
“Dulu sempat ramai soal topeng Malangan, akhirnya saya juga ikut melestarikannya lewat motif batik,” ujarnya.
Artikel Terkait:
Kolaborasi Malang Raya dalam ICCF 2025 Siap Bersinergi untuk Menuju Indonesia Kreatif
ICCF 2025 Malang Raya, Dinas Ekonomi Kreatif Siap Meluncur
Dari batik topeng malangan sendiri, salah satunya motif Topeng Panji, yang menggambarkan karakter manusia dengan pendekatan simbolik, tidak terlalu detail, tetapi penuh makna filosofis.
Dalam proses pembuatannya, Kusniati menerapkan ketelitian tinggi. Pola awal digambar di kertas khusus mirip kertas roti.
Lalu jika ingin penggambaran motif berulang, ia menyediakan seorang ‘master’ agar bentuknya konsisten.
Setelah itu barulah dilakukan proses nyanting hingga pewarnaan.
Jadi, dalam proses itu semua masing-masing batik memiliki nilainya tersendiri, tergantung dari tingkat kesulitan saat pembuatan batik tersebut.

“Kalau full motif dan full color, bisa tiga minggu baru jadi. Tapi kalau motif standar, tiga hari sudah selesai,” katanya.
Proses terakhir yang krusial adalah fiksasi, yakni pengikatan warna agar tidak mudah pudar.
“Kalau fiksasinya kurang takaran, warna pasti luntur. Tapi kalau pas, batik bisa tahan lama meski sudah dicuci berkali-kali,” imbuh Kusniati.
Untuk perawatan, ia menyarankan agar batik tidak dijemur langsung di bawah sinar matahari.
Selanjutnya cukup diangin-anginkan saja, serta dicuci menggunakan sampo tanpa warna atau sari lerak.
Menembus Pasar Dunia
Dari ketekunannya dalam dunia batik, kini berbuah hasil manis. Produk Batik Tulis Niati telah menembus pasar mancanegara, dibawa oleh pembeli dari Malaysia, Brunei, hingga Nigeria.
“Pernah ada mahasiswa Brunei yang beli di Malang lalu dibawa ke negaranya. Ada juga pembeli dari Nigeria yang suka warna-warna terang khas kain rayon. Mereka bilang cocok kalau dipadukan dengan gaya busana mereka,” ungkapnya dengan rasa bangga.
Meski perjalanan usahanya baru beberapa tahun, Kusniati tak ingin berhenti berinovasi.
Ia berharap Batik Tulis Niati bisa terus berkembang dan menjadi ikon batik tulis khas Malang yang dikenal luas.
“Harapan saya, semakin banyak orang mencintai batik, apalagi yang dibuat dengan tangan sendiri. Karena setiap goresan ada cerita dan ada cinta di dalamnya,” tutupnya.








