Malanginspirasi.com – Harga kedelai impor di Indonesia terus merangkak naik dalam beberapa pekan terakhir, seiring eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah dan tekanan eksternal lainnya. Per 8 April 2026, harga kedelai di tingkat grosir dan perajin tempe berada di kisaran Rp12.500 hingga Rp13.500 per kilogram.
Kenaikan ini tercatat sekitar Rp500 hingga Rp900 per kilogram dibandingkan posisi akhir Maret 2026 yang berada di kisaran Rp12.600–Rp12.700 per kg. Secara persentase, lonjakan tersebut mencapai sekitar 4 hingga 7 persen dalam waktu relatif singkat.
Tekanan harga dipicu oleh meningkatnya biaya logistik dan pengiriman akibat lonjakan harga minyak dunia, serta pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.
Indonesia yang masih mengandalkan impor hingga 80–90 persen kebutuhan kedelai, terutama dari Amerika Serikat dan Amerika Latin. Sehingga menjadi sangat rentan terhadap gejolak global.
Di pasar internasional, harga kedelai di Chicago Board of Trade (CBOT) pada 6 April 2026 tercatat sebesar US$1.166,75 per bushel, naik tipis 0,28 persen secara harian, meski menunjukkan fluktuasi sepanjang bulan terakhir. Kenaikan harga minyak mentah turut mendorong permintaan biodiesel berbasis minyak kedelai, sekaligus meningkatkan ongkos distribusi ke negara importir seperti Indonesia.
Di Malang, salah satu sentra produksi tahu dan tempe di Jawa Timur, dampak kenaikan harga sudah dirasakan langsung oleh pelaku usaha.
Kondisi ini memaksa sebagian perajin melakukan penyesuaian strategi produksi, termasuk memperkecil ukuran tempe guna menjaga harga jual tetap terjangkau. Langkah tersebut diambil di tengah keterbatasan daya beli masyarakat yang membuat kenaikan harga produk akhir tidak bisa dilakukan secara agresif.
Selain itu, pelaku usaha juga menghadapi tekanan ganda berupa kenaikan biaya bahan baku dan penurunan permintaan. Sejumlah perajin mengeluhkan penurunan omzet hingga 30 persen, seiring berkurangnya volume produksi dan melemahnya daya serap pasar.

Tekanan terhadap UMKM dan Inflasi
Kenaikan harga kedelai memberikan tekanan signifikan terhadap usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di sektor pangan, khususnya produsen tahu dan tempe. Struktur biaya yang semakin tinggi tidak sepenuhnya dapat diimbangi oleh kenaikan harga jual, sehingga margin keuntungan semakin tergerus.
Dalam jangka pendek, sebagian pelaku usaha memilih mengurangi volume produksi atau melakukan efisiensi bahan baku. Namun, jika tren kenaikan berlanjut, risiko penghentian produksi sementara hingga pengurangan tenaga kerja menjadi tidak terhindarkan.
Secara nasional, kedelai juga menjadi salah satu komoditas penyumbang inflasi pangan. Ketergantungan tinggi terhadap impor membuat harga domestik sangat sensitif terhadap dinamika global.
Dengan kondisi saat ini, perajin tempe di Malang dan daerah lain berada dalam posisi terjepit. Biaya produksi meningkat, namun ruang untuk menaikkan harga jual sangat terbatas.







