Malanginspirasi.com – Brand ZAMA berhasil meraih Juara 1 UMKM Award Kota Malang 2025 di Malang Creative Centre (MCC) pada Kamis (27/11/2025).
Business Founder ZAMA, Srie Dewi Wirautami, mengaku masih tidak menyangka dapat membawa pulang penghargaan tertinggi tersebut.
“Surprise ya, nggak menduga bisa mendapatkan posisi juara pertama. Saya tidak menyangka karena teman teman nominator juga semuanya bagus. Saya harap ini bisa menginspirasi pelaku UMKM lain agar terus bekerja keras dan konsisten,” ujarnya penuh haru.
Kilas Balik
Dewi menjelaskan perjalanan ZAMA sejak lima tahun pertama, brand clothing ini dibangun sepenuhnya melalui platform digital.
“Teknologi itu memudahkan semuanya. Yang mahal jadi murah, yang lama jadi cepat, yang rumit jadi mudah,” jelasnya.
Strategi pemasaran digital ini membuat ZAMA dikenal luas di tingkat nasional bahkan sebelum dikenal di Malang sendiri.
Salah satu unggahan video pendek ZAMA pernah tembus setengah juta penonton dan langsung menarik perhatian konsumen dari berbagai daerah.
Memasuki tahun kelima, ZAMA mulai aktif mengikuti pembinaan pemerintah, bergabung dengan berbagai organisasi, dan terlibat dalam kompetisi.

Langkah itu membawa ZAMA ke panggung internasional, termasuk mewakili Indonesia dalam World Expo di Osaka, Jepang, pada Juli 2025.
Tidak hanya mengandalkan digitalisasi, Dewi juga mengangkat isu penting yang menjadi nilai utama ZAMA yakni penerapan komponen Sustainable Development Goals (SDGs). Dari 17 komponen SDGs, ZAMA telah menerapkan empat di antaranya.
Penerapan SDGs
Pertama, No Poverty, ZAMA membuka lapangan kerja bagi banyak orang.
“Dari 1-2 orang, kini tim kreatif kami sudah sekitar 100 orang. Semua tumbuh organik selama tujuh tahun,” jelasnya.
Kedua, Gender Equality, 96% tim ZAMA adalah perempuan. Dewi ingin memastikan perempuan mendapat kesempatan yang sama untuk berkarya tanpa meninggalkan kewajiban mereka di rumah.
Karena itu, ZAMA menggunakan sistem kemitraan dengan para pekerjanya yang diberi kebebasan untuk bekerja dari rumah.
Ketiga, Responsible Consumption and Production, ZAMA mengolah 80% limbah produksinya menjadi produk bernilai ekonomis.
“Kami ingin bersahabat dengan bumi. Sampah bisa diolah, jadi produk, bahkan bisa membuka lapangan kerja baru,” ujarnya.
Keempat, Partnership for Goals, ZAMA menggandeng kelompok-kelompok perempuan sebagai mitra produksi.
Sistem ini membuat proses produksi lebih padat karya, namun membutuhkan quality control berlapis hingga lima tahap.
“Effort yang dikeluarkan sangat besar, kami cek quality control hingga 5 tahap, tapi hasilnya membahagiakan. Kita bisa memberi manfaat untuk banyak orang,” tambahnya.
Baca Juga:
Talkshow UMKM Award Kota Malang 2025, Para Pelaku Usaha Digandeng Hingga Go Internasional
Meski menghadapi tantangan seperti perbedaan kualitas antar kelompok mitra dan proses QC yang panjang, Dewi tetap menganggap bahwa semuanya merupakan bagian dari perjuangan bisnisnya.
Sebagai penutup, Dewi berbagi pesan untuk pelaku UMKM pemula. Ia menegaskan bahwa membangun bisnis tidak bisa hanya sekadar membuat dan menjual produk tapi perlunya ilmu.
“Belajar atau ilmu itu nomor satu. Pelajari marketing, kualitas produk, manajemen keuangan, dan cara memimpin tim,” katanya.
Selain itu, Ia juga menekankan pentingnya berkomunitas dalam membangun bisnis.
“Jangan bangun bisnis sendirian. Cari teman yang bisa saling support dan berbagi pengalaman dan perkuat jaringan,” tutupnya
Dengan digitalisasi, pemberdayaan perempuan, hingga pengelolaan limbah, ZAMA menunjukkan bahwa UMKM lokal pun bisa ada di level global.
Kemenangan ini menjadi bukti bahwa bisnis yang peduli pada isu sosial dan lingkungan akan selalu punya tempat di hati masyarakat.
Telusuri lebih lanjut produk brand ZAMA hanya di @zama_homewear








