Malanginspirasi.com – Sektor ekonomi kreatif di Kota Malang menunjukkan tanda kebangkitan melalui pelaku UMKM kriya yang terus berinovasi.
VGB Craft, kelompok perajin asal Villa Gunung Buring, turut meramaikan acara Iki Malang Ker! 2025 di Taman Krida Budaya pada Sabtu (29/11/2025).
Mengusung produk ramah lingkungan seperti rajut, sulam, dan boneka sock doll, para perajin berupaya memperluas pasar.
Serta menjaga keberlanjutan usaha di tengah kondisi ekonomi yang masih menantang.
UMKM Ramah Lingkungan
Sri Kurnia Mahiruni, pemilik brand Davayu Sockcute Craft, menilai tren Zero Waste justru meningkat beberapa tahun terakhir.
Ia memanfaatkan kain perca dan limbah fashion menjadi sock doll serta patchwork dengan karakter unik.

“Masyarakat semakin sadar menjaga lingkungan. Produk handmade yang ramah lingkungan semakin diminati,” ujarnya.
Meski makin banyak UMKM yang mengolah bahan serupa, ia tetap percaya diri bersaing berkat desain unik dan kualitas jahitan yang rapi.
Namun, perempuan yang dipanggil Nia tersebut tak menampik bahwa turunnya daya beli masyarakat berdampak pada penjualan.
Baca Juga:
Menurutnya, pelaku UMKM kini lebih membutuhkan kegiatan nyata yang langsung membuka pasar.
“Lewat bazar atau pameran, produk bisa langsung terjual, atau setidaknya kita bisa menjaring calon pembeli baru yang sebelumnya belum mengenal produk kami,” tegasnya.
Ia pun berharap pemerintah memperbanyak event dan pameran UMKM yang memberi ruang bagi para pelaku usaha menjangkau pembeli lebih luas.

Berbeda dengan Nia, Eko Handayani, perajin rajut dan amigurumi dari Safied Craft, menilai pelatihan tetap penting, terutama yang berkaitan dengan pencatatan keuangan.
“Pelatihan yang saya butuhkan itu soal keuangan,” jelasnya.
Ia menilai dukungan ideal dari pemerintah adalah kombinasi antara pelatihan yang relevan dan penyediaan bazar rutin.
Sorotan Pelaku UMKM
Sementara itu, Wiwit Sawitri dari Sulamkoe and Craft menyoroti kebijakan batasan usia pada program pelatihan UMKM.
Ia menilai aturan tersebut menghambat perajin senior yang masih aktif dan produktif.

“Batasnya 45 tahun, padahal banyak yang ikut usianya 55 ke atas,” ungkapnya.
Wiwit yang kini berusia 60 tahun berharap pelatihan dibuat lebih inklusif agar semua perajin dapat berkembang dan berbagi keterampilan.
Dengan perluasan akses pasar, pelatihan tanpa batasan usia, serta pendampingan berkelanjutan dari pemerintah dan pengelola UMKM Kota Malang.
Sektor kriya dinilai memiliki peluang besar untuk menguat kembali.
Dukungan yang tepat sasaran menjadi kunci agar kreativitas para perajin terus tumbuh di tengah dinamika ekonomi.








