Hari Disabilitas Sedunia: 91% Penyandang Disabilitas di Indonesia Masih Minim Akses Kerja Formal

Malanginspirasi.com — Setiap tanggal 3 Desember, dunia memperingati Hari Disabilitas Sedunia sebagai upaya meningkatkan kesadaran publik.

Terlebih mengenai hak, kesejahteraan, dan partisipasi penyandang disabilitas dalam seluruh aspek kehidupan sosial.

Momen ini menjadi pengingat bahwa inklusi tidak sekadar dukungan moral, melainkan memerlukan kebijakan nyata dan akses yang setara.

Fasilitas Disabilitas

Peringatan tahun ini kembali menegaskan pentingnya menciptakan lingkungan yang ramah disabilitas.

Meliputi akses ruang publik, pendidikan, layanan kesehatan, literasi digital, hingga kesempatan kerja.

Secara global, lebih dari satu miliar orang di dunia merupakan penyandang disabilitas, menjadikan isu ini bukan persoalan minoritas, tetapi komponen penting pembangunan masyarakat modern.

Di era digital, inklusi teknologi menjadi sorotan utama. Penyediaan fitur pendukung seperti subtitle, screen reader, bahasa isyarat, hingga desain situs web yang aksesibel bukan lagi pelengkap.

Tetapi kebutuhan fundamental agar teknologi menjadi jembatan, bukan hambatan baru.

Akses internet, platform digital pemerintah, pendidikan daring, dan layanan kesehatan berbasis teknologi perlu memastikan penyandang disabilitas mendapatkan kemudahan yang setara.

Isu Ketenagakerjaan Disabilitas

Selain itu, isu ketenagakerjaan juga menjadi tantangan yang masih besar.

Menurut data terbaru dari International Labour Organization (ILO), mayoritas penyandang disabilitas di Indonesia masih bekerja di sektor informal, yakni mencapai sekitar 91% dari total pekerja disabilitas.

Angka ini menunjukkan bahwa akses menuju pekerjaan formal dengan dukungan fasilitas dan kebijakan yang adaptif masih sangat terbatas.

Temuan tersebut diperkuat oleh survei Universitas Nahdlatul Ulama Yogyakarta (UNU Jogja) bersama Komisi Nasional Disabilitas (KND).

Yang mencatat bahwa sekitar 75% penyandang disabilitas yang bekerja berada pada sektor informal dengan penghasilan tidak tetap, tanpa jaminan sosial, serta keterbatasan aksesibilitas.

Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa meskipun penyandang disabilitas terus berusaha mandiri secara ekonomi.

Keterbatasan fasilitas dan kesempatan membuat mereka lebih rentan dibanding pekerja non-disabilitas.

Buka Perspektif Baru

Peringatan Hari Disabilitas Sedunia tahun ini menjadi ajakan bagi masyarakat dan pemerintah untuk membuka perspektif baru.

Disabilitas bukan keterbatasan yang menghalangi seseorang untuk berkarya, melainkan keragaman kemampuan yang memperkaya sosial, profesional, dan budaya.

Melalui edukasi inklusif, teknologi yang aksesibel, dan kebijakan lapangan kerja yang berpihak.

Dunia diharapkan bergerak menuju masyarakat yang menghargai keberagaman tanpa meninggalkan siapa pun di belakang.

Karena pada akhirnya, inklusi bukan hanya tentang penyandang disabilitas. Tetapi tentang kemanusiaan dan tanggung jawab bersama dalam membangun masa depan yang setara.

Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *