Malanginspirasi.com – Upaya menanamkan kesadaran lingkungan sejak usia dini terus diperkuat melalui kegiatan Talkshow Literasi Anak bertajuk “Belajar dari Bumi: Literasi Anak & Lingkungan” yang digelar dalam rangkaian Festival Literasi Anak, Rabu (24/12/2025), di Malang City Point.
Talkshow ini menegaskan bahwa literasi tidak semata berkaitan dengan kemampuan membaca dan menulis.
Tetapi juga menjadi sarana strategis untuk membangun kepedulian anak terhadap bumi dan keberlanjutan lingkungan.
Kegiatan tersebut terbuka untuk umum dan dihadiri peserta lomba, orang tua, pengunjung mal, serta perwakilan berbagai komunitas.
Acara menghadirkan sejumlah narasumber lintas latar belakang.
Antara lain Maria, relawan asal Denmark; Nina Amelia, Education & Outreach Coordinator iLitterless Indonesia; serta Kayla Zee, penerjemah cilik dari English Youth Spark.
Diskusi dipandu oleh Ari Setiawan, relawan Literasi Malang.
Gabungan Talkshow dan Rangkaian Perlombaan

Ketua Pelaksana sekaligus Founder Lesgo Project, Nisa, menjelaskan bahwa talkshow ini merupakan bagian integral dari Festival Literasi Anak.
Yang secara konsisten menggabungkan kegiatan perlombaan anak dengan diskusi edukatif untuk masyarakat umum.
“Talkshow ini satu rangkaian dengan festival. Temanya sama, yaitu Literasi untuk Ibu Bumi. Kami ingin berbagi wawasan tentang kondisi lingkungan saat ini. Bagaimana kita bisa bergerak bersama melalui langkah-langkah kecil yang berdampak,” ujarnya.
Baca Juga:
Bertabur Hadiah, Festival Literasi Anak di Malang City Point Disambut Antusias Peserta
Ia menambahkan, kegiatan tersebut mendapat dukungan dari berbagai pihak. Termasuk Relawan Literasi Masyarakat (RELIMA), sponsor, UMKM lokal, serta komunitas peduli lingkungan.
“Kami merangkul semua aspek, mulai dari anak-anak, orang tua, hingga masyarakat luas,” imbuhnya.
Pentingnya Perkenalkan Literasi Lingkungan
Dalam sesi diskusi, Nina Amelia menekankan bahwa literasi lingkungan seharusnya diperkenalkan sejak anak masih sangat dini, bahkan sejak dalam keluarga.
Menurutnya, literasi dapat menjadi sarana efektif untuk mengenalkan isu lingkungan melalui cara yang sederhana dan sesuai usia.
“Budaya literasi sebenarnya sudah bisa dikenalkan sejak anak masih sangat kecil. Literasi menjadi salah satu jalan untuk memperkenalkan isu lingkungan kepada anak sedini mungkin. Misalnya melalui cerita atau dongeng yang berkaitan dengan alam dan kebersihan,” jelas Nina.

Ia juga menegaskan bahwa literasi lingkungan tidak terbatas pada anak-anak.
Untuk remaja dan orang dewasa, pendekatan yang digunakan dapat berupa pemaparan data dan fakta nyata yang terjadi di sekitar mereka.
Nina memaparkan kondisi persampahan di Kota Malang, di mana sekitar 700 ton sampah masuk ke TPA setiap hari.
Fakta tersebut, menurutnya, perlu disampaikan dengan bahasa yang mudah dipahami sesuai usia.
“Untuk anak-anak, tentu tidak bisa langsung disampaikan dalam angka besar. Maka kami menggunakan perumpamaan, misalnya 700 ton itu setara dengan 700 mobil,” ujarnya.
Tantangan Memilah Sampah
Dalam diskusi tersebut, Nina juga menyoroti tantangan utama masyarakat Indonesia dalam memilah sampah. Yaitu belum terbentuknya kebiasaan sejak kecil serta minimnya aturan yang mengikat.
“Sebagian masyarakat masih memiliki mindset ‘buang saja, nanti ada yang membersihkan’. Padahal sekarang seharusnya bukan lagi ‘buang sampah pada tempatnya’, tetapi ‘buang sampah sesuai jenisnya’,” tegasnya.
Ia berbagi pengalaman pribadi tentang awal mula kesadarannya memilah sampah, yang berangkat dari kepedulian terhadap limbah kemasan skincare.
Dari kebiasaan kecil tersebut, ia kemudian terbiasa memilah jenis sampah lain hingga menjadi bagian dari gaya hidup.

Menurutnya, masyarakat dapat memulai dari langkah paling sederhana, seperti memilah botol plastik, kemasan skincare, kertas, dan kardus.
“Langkah kecil yang dilakukan secara konsisten akan menjadi kebiasaan dan berdampak besar di masa depan,” tambahnya.
Literasi Lingkungan di Denmark
Sementara itu, Maria, relawan asal Denmark, berbagi pengalaman tentang literasi lingkungan di negaranya yang telah dibangun melalui sistem, kebiasaan, dan edukasi sejak dini.
Ia menuturkan bahwa anak-anak di Denmark telah terbiasa memilah sampah karena adanya fasilitas dan dukungan kebijakan dari pemerintah.
“Masalah lingkungan adalah masalah global, tetapi dampaknya berbeda di setiap negara. Di Denmark, kami dibiasakan memilah sampah sejak kecil, baik di rumah, sekolah, maupun ruang publik,” ungkap Maria.
Ia juga menceritakan pengalaman di ruang publik yang dirancang interaktif untuk anak-anak. Seperti instalasi tempat sampah dengan visual menarik dan permainan edukatif.
Sehingga proses memilah sampah menjadi aktivitas yang menyenangkan.
Menurutnya, perubahan kebiasaan membutuhkan waktu panjang dan dimulai dari rumah.
“Motivasi harus datang dari dalam diri. Tindakan kecil seperti memilah sampah dapat memberi kehidupan baru pada benda yang sebelumnya dianggap tidak bernilai,” katanya.

Pembentukan Karakter Anak oleh Keluarga
Diskusi juga menyoroti peran keluarga sebagai ruang paling awal dalam membentuk karakter dan kebiasaan anak.
Nina menjelaskan tahapan pembiasaan memilah sampah berdasarkan usia anak, mulai dari pengenalan bersih dan kotor pada usia 2–4 tahun. Hingga pemahaman sebab-akibat dampak sampah terhadap lingkungan pada usia sekolah.
“Anak belajar dari apa yang dilakukan orang tuanya. Keteladanan menjadi kunci utama,” ujarnya.
Selain itu, konsep 3R (Reduce, Reuse, Recycle) juga menjadi pembahasan penting.
Baik Nina maupun Maria sepakat bahwa reduce atau mengurangi konsumsi menjadi langkah awal yang paling realistis untuk diterapkan, diikuti dengan reuse dan recycle.
Dalam sesi lanjutan, Nina memaparkan bahwa sampah yang terpilah sebenarnya memiliki nilai ekonomi.
Melalui bank sampah atau komunitas daur ulang, masyarakat dapat menyetorkan sampah plastik, khususnya jenis HDPE, untuk kemudian diolah menjadi produk baru.
“Memilah sampah bukan hanya berdampak bagi lingkungan, tetapi juga bisa menghasilkan nilai ekonomi. Ini bisa menjadi motivasi tambahan bagi masyarakat,” jelasnya.
Pesan Reflektif

Di penghujung acara, para narasumber menyampaikan pesan reflektif kepada peserta agar tidak berhenti pada pemahaman semata, tetapi mulai melakukan tindakan nyata.
“Mulailah dari hal paling mudah. Jika dilakukan terus-menerus, itu akan menjadi kebiasaan tanpa terasa,” ujar Nina.
Sementara itu, Maria menekankan pentingnya tanggung jawab individu dalam menjaga bumi.
“Planet ini satu-satunya yang kita miliki. Menjaganya adalah tanggung jawab bersama,” tuturnya.
Melalui talkshow ini, Festival Literasi Anak diharapkan tidak hanya menjadi ajang perayaan kreativitas.
Tetapi juga menjadi gerakan berkelanjutan dalam membangun generasi yang literat, peduli lingkungan, dan siap menghadapi tantangan masa depan.








