Malanginspirasi.com – Kehadiran Komunitas Peri Elang atau Persatuan Pengrajin Kreatif Kabupaten Malang menjadi salah satu daya tarik dalam Festival Kepandjen Djaman Mbiyen di Stadion Kanjuruhan, Kepanjen.
Melalui satu stan khusus, komunitas ini menampilkan beragam produk kerajinan tangan khas buatan pengrajin lokal dari berbagai kecamatan di Kabupaten Malang.
Wadah Para Pengrajin Kabupaten Malang
Anggota Peri Elang, Ayu Agustina Irianti, menjelaskan bahwa Peri Elang merupakan wadah berkumpulnya para pengrajin dari seluruh wilayah Kabupaten Malang.
Saat ini, komunitas tersebut memiliki lebih dari 50 anggota yang berasal dari berbagai latar belakang dan kecamatan.
“Sebetulnya ini semua adalah produk dari Peri Elang. Peri Elang itu perkumpulan pengrajin Kabupaten Malang. Anggotanya lebih dari 50 orang, dan semuanya handmade. Produk produk ini kami kumpulkan jadi satu karena memang ini hasil karya teman teman pengrajin,” ujar Ayu saat ditemui di lokasi festival.
Ia menambahkan, Peri Elang merupakan komunitas binaan Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kabupaten Malang.
Artikel Terkait:
Rayakan Hari Jadi Kabupaten Malang, Festival Kepandjen Djaman Mbiyen Hidupkan Nuansa Tempo Dulu
Melalui pembinaan tersebut, komunitas pengrajin kerap dilibatkan dalam berbagai event, termasuk Festival Kepandjen Djaman Mbiyen.
“Kami binaan dari Disperindag Kabupaten Malang. Dikasih stan dan diminta mengisi acara. Anggota kami itu dari berbagai kecamatan, jadi satu di Peri Elang,” katanya.
Menariknya, keanggotaan Peri Elang tidak terbatas pada perempuan saja. Ayu menegaskan bahwa komunitas ini terbuka untuk siapa saja selama memiliki keterampilan sebagai pengrajin.
“Anggota Peri Elang tidak hanya perempuan. Yang penting itu pengrajin. Ada juga anggota laki laki,” jelasnya.
Produk Komunitas

Produk yang ditampilkan pun sangat beragam. Mulai dari sulam, bordir, rajut, ecoprint, lukisan, decoupage, aksesoris, hingga kerajinan berbahan daur ulang dan kulit.
“Ada ecoprint dari daun daunan dan bunga bungaan. Ada yang ditumbuk, ada yang di steam. Kalau baju muslimah itu lebih ke bordir dan sulam. Ada juga kain tenun, songket, rajut, sampai gantungan STNK dari bahan kulit,” ungkap Ayu.
Ia menambahkan bahwa untuk satu jenis produk, biasanya dikerjakan oleh beberapa orang.
Misalnya, produk batik dikerjakan oleh tiga hingga empat pengrajin, sementara rajutan melibatkan lebih dari sepuluh orang.
Dalam setiap acara, Peri Elang selalu menyiapkan stok barang jauh hari sebelumnya.
“Kami selalu punya stok barang. Jadi kalau ada event, barang sudah siap dan selalu baru,” katanya.
Tembus Pasar Luar Negeri
Lebih lanjut ia mengungkapkan bahwa beberapa produk Peri Elang telah menembus pasar luar negeri, seperti Singapura, khususnya untuk produk aksesoris.
Meski demikian, Ayu mengakui bahwa kendala utama yang dihadapi para pengrajin adalah pemasaran, terutama secara daring.
Menurutnya, keterbatasan sumber daya membuat pengrajin harus memilih antara fokus produksi atau penjualan.
“Kalau kami fokus produksi, pemasaran online jadi kesulitan karena tidak punya admin khusus. Tapi kalau fokus jualan, produksinya terbengkalai. Kendalanya memang di pemasaran,” tuturnya.
Melalui keikutsertaan dalam festival ini, Ayu berharap UMKM lokal semakin mendapat perhatian serius dari pemerintah kabupaten malang.
“Semoga lewat event ini UMKM lebih diperhatikan. UMKM itu yang memajukan ekonomi daerah. Kalau dirawat dan diperhatikan pemerintah, kami yakin UMKM Kabupaten Malang bisa lebih maju,” tutupnya.








