Malanginspirasi.com – Upaya memperkuat budaya literasi bernalar di kalangan generasi muda terus digencarkan oleh Komunitas Literasi Kritis melalui kegiatan bertajuk “Literasi Nalar: Saat Buku Tak Hanya Dibaca, Tapi Diajak Bicara.”
Kegiatan ini digelar pada Kamis (15/1/2025) pukul 18.30 WIB di Lantai 2 Gramedia Kayutangan, Kota Malang, dan diikuti sekitar 80 peserta dari berbagai latar belakang.
Literasi publik ini dikemas dalam bentuk pembacaan buku dan diskusi terbuka yang menekankan dialog kritis antara pembaca, teks, dan penulis.

Acara diawali dengan pembacaan karya oleh Fitz melalui bukunya “Pak Mujar Menyir Awan Kinton? Bagaimana Mungkin?”, kemudian dilanjutkan dengan pembacaan karya Chiko berjudul “Museum Baca Obelisk”.
Kedua sesi ini menjadi pemantik diskusi mengenai pengalaman personal, narasi, dan makna tersembunyi di balik teks.
Literasi Kritis Tak Terbatas dari Bacaan
Ketua Komunitas Literasi Kritis, Ralditya Fito Viant Babo, menegaskan bahwa literasi kritis tidak berhenti pada aktivitas membaca semata.
Menurutnya, literasi juga mencakup kemampuan menalar informasi secara audio, visual, dan kontekstual. Agar masyarakat tidak mudah terjebak hoaks maupun kesimpulan prematur.

“Literasi kritis itu tidak hanya dimulai dari membaca, tapi juga dari menonton film. Dari situ kita mulai berliterasi secara audio dan visual. Ini mengajak teman-teman agar tidak cepat mengambil keputusan. Harus menyaring informasi dan tidak terpaku pada satu data saja,” ujar Ralditya.
Kegiatan ini terselenggara atas kolaborasi Komunitas Literasi Kritis dengan Kelas-Kelas Filsafat, Podcast Filsafat, serta Gramedia, sebagai upaya memperluas ruang diskusi publik yang inklusif.
Acara dihadiri peserta dari kalangan mahasiswa, pekerja muda, hingga akademisi.
Baca Juga:
Komunitas Literasi Kritis Gelar Mini Lecture, Dorong Berpikir Kritis dan Kreatif
Sebagai narasumber utama, Andri Fransiskus Gultom, pendiri Institut Filsafat Pancasila. Sekaligus Pembina Komunitas Literasi Kritis dan editor sejumlah jurnal nasional.
Ia menyampaikan materi mendalam mengenai konsep literasi nalar.
Ia menjelaskan perbedaan antara membaca buku secara pasif dan membaca dengan pendekatan dialogis, yang menempatkan pembaca sebagai subjek aktif dalam menafsirkan teks.
“Literasi nalar yang kita coba lakukan adalah membaca teks dan mengajak bicara teks. Kalau membaca buku biasa, kita akan pasif. Namun ketika mengajak bicara, terjadi dialog aktif terhadap inti buku yang dibaca,” ujar Andri.

Dalam pemaparannya, Andri menekankan pentingnya literasi nalar untuk membangun daya pikir kritis, menghindarkan masyarakat dari manipulasi informasi. Serta memperkuat partisipasi warga dalam kehidupan demokratis.
Pentingnya Kesadaran Ideologi Pembaca
Ia juga menyoroti pentingnya membaca dengan kesadaran konteks sosial, ideologi tersembunyi, dan relasi kuasa yang sering hadir dalam teks.
“Ada ideologi yang tersembunyi dalam suatu buku, ada manipulasi dari para penguasa. Dengan membaca kritis atau menggunakan nalar, kita terhindar dari misinformasi dan dapat menjalankan fungsi demokrasi dengan baik,” jelasnya.
Antusiasme peserta terlihat dari dinamika diskusi yang interaktif. Peserta tidak hanya menyimak materi, tetapi juga aktif dalam sesi tanya jawab dan berbagi pandangan.
Salah satu peserta, Chelsea, mengungkapkan bahwa kegiatan ini memberikan motivasi baru untuk membaca dan menulis secara reflektif.

“Kegiatan ini memberi motivasi kepada kami yang jarang membaca buku. Kami bisa melihat bahwa anak sekecil itu sudah bisa menulis. Jadi apa kabar dengan kita yang sudah dewasa? Disini, kami juga bisa memahami latar belakang suatu masalah lebih baik,” ujarnya.
Melalui kegiatan ini, Komunitas Literasi Kritis berharap dapat membangun ekosistem literasi yang sehat di Kota Malang.
Ke depan, komunitas berencana menggelar pertemuan rutin di berbagai ruang publik. Termasuk kampus dan pusat komunitas, sebagai upaya mencetak generasi muda yang kritis, reflektif, dan bertanggung jawab.
Ralditya menutup dengan pesan bagi mahasiswa yang masih enggan membaca buku:
“Buku memberikan kepuasan tersendiri jika kita benar-benar memiliki hasrat membaca. Dengan keinginan belajar dan memahami hal baru, kita bisa menghindari logika yang cacat.”








