Malanginspirasi.com – Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (STIKES) Maharani memberikan penyuluhan bertema ‘Berani Bicara, Berani Bertindak-Stop Kekerasan’ kepada para siswa kelas VII Sekolah Menengah Pertama Katolik (SMPK) Mardi Wiyata Kota Malang yang terletak di Jln. Semeru 36.
Puluhan siswa yang hadir tampak antusias dengan penjelasan tentang fenomena yang tengah marak terjadi itu. Terlebih, para mahasiswa semester IV jurusan Keperawatan Kesehatan Jiwa dan Psikososial membawakannya dengan gaya anak muda sehingga mudah dimengerti.
Kegiatan ini merupakan salah satu program mata kuliah dari jurusan tersebut dimana implementasinya adalah di semester IV dan semester V.
Ns. Ridwan Sofian, M. Kep sebagai dosen pembimbing di jurusan Keperawatan Kesehatan Jiwa dan Psikososial mengatakan bahwa program tersebut digelar secara rutin.
“Para mahasiswa menggelar acara penyuluhan ini di semester IV dan juga enam bulan kemudian saat mereka masuk di semester V,” paparnya kepada wartawan Malang Inspirasi.

Ia melanjutkan bahwa penyuluhan yang diberikan terkait dengan jurusan yakni Keperawatan Jiwa.
“Temanya bisa bermacam-macam dan bukan hanya pelecehan seksual saja. Tetapi juga beberapa topik populer lainnya seperti bullying atau kecanduan game, dan sebagainya. Intinya kami memang menyasar pada siswa jenjang SMP,” jelasnya.
Penyuluhan Disertai Kuis dan Game
Pada kesempatan tersebut, ketua panitia penyelenggara Gabriella Damai Scavia menyampaikan beberapa materi terkait definisi dan berbagai bentuk pelecehan seksual.
Ia mengatakan bahwa seringkali para korban tak menyadari bahwa dirinya adalah korban, bahkan meskipun tak ada kontak fisik.
“Jadi bentuk kekerasan seksual tak hanya fisik. Tetapi juga dalam bentuk verbal dan juga teknologi informasi dan komunikasi, yang dalam hal ini adalah kekerasan verbal melalui media sosial,” kata Gabriella.
“Kalau ada yang mengalami apa yang harus dilakukan? Lebih baik langsung ‘report’ akun atau mungkin screenshot dulu lalu laporkan,” lanjutnya.
Selain membahas tentang bentuk-bentuk pelecehan seksual, pemateri juga memaparkan penyebab terjadinya pelecehan seksual. Ia menyebutkan bahwa selain karena budaya patriarki yang kuat, juga karena minimnya.
“Salah satu penyebab terjadinya pelecehan seksual adalah karena ada budaya victim-blaming atau menyalahkan korban sehingga korban tak mau speak up atau mengungkapkannya,” begitu jelas mahasiswa semester IV ini.

Bahkan juga peserta mendapatkan materi tentang bagaimana mendengarkan keluhan korban tanpa harus menghakimi.
“Sebagai pencegahan, memang kita harus menegaskan batasan pribadi kepada orang lain dan jangan takut menolak dan meninggalkan situasi yang membuat diri kita tidak nyaman,” imbuhnya.
Acara ini tak sekadar memberikan penyuluhan tetapi juga kuis dan game untuk makin menarik para siswa turut berpendapat, menjawab pertanyaan dan bahkan juga mengajukan berbagai pertanyaan tentang topik pelecehan seksual.







