UM Gelar Workshop Pengembangan E-Modul Sejarah Berbasis Pendidikan Multikultural Tingkat SMA

Malanginspirasi.com – Guna membekali guru-guru sejarah SMA/SMK di Malang Raya dalam menghadapi tantangan intoleransi dan menanamkan nilai nasionalisme, Universitas Negeri Malang (UM) menyelenggarakan Workshop Pengembangan E-Modul Sejarah Berbasis Pendidikan Multikultural Tingkat SMA. Kegiatan ini berfokus pada inovasi pembelajaran sejarah yang lebih inklusif dan relevan dengan keberagaman Indonesia.

Pendidikan Sejarah: Pilar Nasionalisme dan Toleransi di Tengah Tantangan Modern

Fenomena intoleransi dan kekerasan yang masih terjadi di dunia pendidikan Indonesia menjadi perhatian serius. Tergerusnya budaya asli dan derasnya pengaruh asing dikhawatirkan dapat melunturkan jati diri bangsa.

Dalam konteks ini, pendidikan karakter menjadi krusial, dan pendidikan sejarah memegang peranan penting dalam menumbuhkan kesadaran berbangsa serta menanamkan rasa nasionalisme.

Meskipun pemerintah telah berupaya melakukan program deradikalisasi, efektivitasnya belum maksimal tanpa partisipasi aktif masyarakat.

Studi UNESCO (1995) dan Sang Han (1995) menunjukkan bahwa pendidikan, khususnya pendidikan sejarah, dapat menumbuhkan toleransi terhadap perbedaan agama, budaya, dan hak asasi manusia. Sayangnya, materi pendidikan sejarah di tingkat SMA masih seringkali terbatas pada fakta, hafalan tokoh, tahun, dan tempat kejadian, serta kurang menekankan pada keberagaman yang menyatukan Indonesia.

Inilah yang melatarbelakangi urgensi pengembangan pendidikan sejarah berbasis multikultural.

Solusi Inovatif: E-Modul Sejarah Berbasis Multikultural

Menjawab permasalahan tersebut, solusi yang diusulkan adalah penyelenggaraan workshop pengembangan E-modul sejarah berbasis pendidikan multikultural. Kegiatan ini bertujuan untuk:

Memfasilitasi guru dan kepala sekolah dalam menyusun E-Modul Sejarah yang disesuaikan dengan kondisi dan latar belakang budaya peserta didik.

Menyusun contoh E-Modul Sejarah berbasis pendidikan multikultural untuk memastikan peserta didik memperoleh layanan pendidikan dan dukungan psikososial secara optimal.

Diharapkan, E-modul ini dapat menjadi bahan ajar alternatif yang mampu menciptakan lingkungan belajar yang inklusif dan menyenangkan. Sehingga peserta didik dapat mencapai hasil pembelajaran sejarah yang maksimal.

E-modul hasil workshop ini nantinya akan disebarluaskan melalui artikel jurnal, media sosial, dan poster.

Melibatkan Berbagai Pihak untuk Dampak Luas

Workshop ini diselenggarakan pada Rabu, 21 Mei 2025, pukul 08.00 WIB hingga selesai di SMAN 4 Malang. Acara ini melibatkan 3 narasumber ahli, 2 anggota tim pengabdian, dan 51 peserta yang terdiri dari guru-guru MGMP Sejarah SMA/SMK dari Kota Malang (25 guru), Kabupaten Malang (21 guru), dan Kota Batu (5 guru), baik dari sekolah negeri maupun swasta di Malang, Provinsi Jawa Timur.

Kegiatan diawali dengan registrasi, pembukaan, menyanyikan lagu Indonesia Raya, doa, dan sambutan dari Ketua Panitia, Dr. Aniek Handajani, S.Pd., M.Ed., serta Kepala Sekolah.

Materi workshop disampaikan oleh para narasumber terkemuka:

Dr. Aniek Handajani, S.Pd., M.Ed. membahas “Meningkatkan Rasa Nasionalisme Melalui Pengembangan E-Modul Berbasis Multikultural untuk Siswa SMA”.

Wahyu Djoko Sulistyo, M.Pd. menyampaikan materi “Modul Ajar Bagi Guru & Modul Pembelajaran Untuk Siswa”.

Drs. Slamet Sujud Purnawan Jati, M.Hum. menjelaskan “Silang Budaya Nusantara: Kajian Multikulturalisme Dalam Sejarah”.

Workshop UM yang dihadiri guru sejarah SMA/SMK di Malang Raya. (Ist)

Setelah sesi materi dan diskusi, para peserta dibagi menjadi 10 kelompok untuk sesi workshop. Mereka diberikan tugas untuk membuat rencana E-modul ajar yang sesuai dengan kondisi sekolah dan kebutuhan peserta didik.

Mengingat keterbatasan waktu dan padatnya jadwal mengajar, pengumpulan tugas workshop diberikan batas waktu seminggu setelah pelaksanaan kegiatan.

Kegiatan ini sepenuhnya didukung oleh Dana Internal UM Tahun 2025 untuk kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat. Menunjukkan komitmen Universitas Negeri Malang dalam berkontribusi bagi kemajuan pendidikan di Indonesia.

Melalui inisiatif ini, diharapkan kesadaran akan Bhinneka Tunggal Ika semakin tertanam kuat di kalangan masyarakat, mengurangi prasangka buruk, kebencian, dan permusuhan yang disebabkan oleh perbedaan suku, adat istiadat, budaya, dan agama.

Secara tidak langsung, kegiatan ini juga membantu pemerintah dalam menanamkan identitas nasional Indonesia kepada peserta didik dan pendidikan keberagaman dalam masyarakat.

Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *