Transformasi Pendidikan di Era AI: Menko PMK Ajak Kampus Melek Hadapi Disrupsi Teknologi

Malanginspirasi.com – Disrupsi teknologi yang seolah semakin cepat mendorong dunia pendidikan untuk bergerak lebih adaptif dan visioner. Hal ini disampaikan oleh Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Republik Indonesia Pratikno, dalam kunjungannya ke Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Senin (14/7/2025).

Di hadapan jajaran rektorat, dekan serta ketua program studi, Pratikno menyampaikan gagasan tentang transformasi pendidikan untuk menyongsong Indonesia Emas 2045.

“Kita tidak bisa menghindar dari AI. Tapi kita bisa memilih bagaimana menyikapinya dengan bijak dan cerdas,” tegasnya.

Menurut Pratikno, pemanfaatan AI (Artificial Intelligence) dalam dunia pendidikan membawa dua sisi yang sama penting, yakni potensi dan risiko.

Di satu sisi, AI dapat memperkuat sistem pembelajaran melalui personalized education, mempercepat riset, serta menjangkau siswa dalam skala luas dengan efisiensi tinggi. Tetapi di sisi lain, penggunaan tanpa literasi yang memadai bisa mengikis kemampuan berpikir kritis, kreativitas, hingga interaksi antarmanusia dalam proses belajar.

Dunia Pendidikan Tak Lagi Sama

Data terbaru menunjukkan, Indonesia kini menjadi pengguna AI terbesar ketiga di dunia. Bahkan, 35 persen anak usia dini telah terbiasa mengakses internet. Kondisi ini menunjukkan betapa masifnya adopsi teknologi digital, termasuk dalam ruang pendidikan.

Pratikno menjelaskan jika Kemenko PMK telah merumuskan tiga pilar strategi dalam menghadapi era AI, yaitu literasi dan edukasi, riset dan inovasi, serta promosi penggunaan bijak.

Fokus utamanya adalah mempersiapkan sumber daya manusia unggul yang mampu memanfaatkan teknologi secara manusiawi dan produktif.

“AI bukan untuk menggantikan manusia, melainkan memperkuat nilai-nilai kemanusiaan,” ujar Pratikno di sela-sela materinya.

Namun ia mengingatkan jika penggunaan AI secara instan oleh pelajar dan mahasiswa, seperti untuk menyelesaikan tugas tanpa proses berpikir, justru dapat menghambat pengembangan nalar dan tanggung jawab akademik.

Jajaran rektorat, dekanat, hingga kaprodi di UMM menyimak penjelasan Menko PMK Pratikno terkait tantangan disrupsi teknologi. (Janu)
UMM Tanggapi Serius Tantangan AI

Rektor UMM Dr. Nazaruddin Malik, merespons dengan menyatakan komitmen kampus dalam menghadapi dinamika tersebut. Ia menyebutkan bahwa UMM saat ini tengah memperkuat program Center for Future of Work, sebagai bentuk keseriusan dalam menyusun ulang pendekatan dan praktik pendidikan di berbagai bidang.

Menurutnya, kampus tidak boleh pasif.

“Kita perlu memikirkan kembali dan merekonstruksi ilmu yang kita tekuni agar menjadi keunggulan baru yang relevan bagi bangsa,” imbuhnya.

Disampaikannya juga, UMM membuka jalan untuk menjadi mitra pemerintah dalam implementasi program kesehatan preventif seperti cek kesehatan gratis bagi sivitas akademika, sebagai bagian dari strategi pembangunan manusia unggul.

Menko PMK Pratikno bersama Rektor UMM, Prof Nazaruddin Malik. (Janu)

Teknologi yang Memberdayakan

Lebih jauh, Pratikno menyoroti pentingnya AI sebagai alat pemberdayaan, bukan sekadar alat produksi. Dalam konteks ini, ia mendorong agar pemanfaatan AI tidak hanya dinikmati oleh perusahaan besar, tetapi juga oleh masyarakat lapis bawah seperti petani, nelayan, dan pelaku UMKM.

Di sinilah peran kampus seperti UMM menjadi sangat strategis, yakni sebagai jembatan antara teknologi dan masyarakat.

“UMM punya kekuatan di pemberdayaan masyarakat. Kita ingin teknologi justru memperkecil ketimpangan, bukan memperlebar jarak,” pungkasnya.

Ia menegaskan pendidikan tinggi bukan hanya dituntut untuk adaptif terhadap perkembangan teknologi. Tetapi juga menjadi garda depan dalam memastikan transformasi digital tetap berpihak pada nilai-nilai kemanusiaan dan keadilan sosial.

Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *