Malanginspirasi.com – Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) melalui organisasi kemanusiaannya, MAHARESIGANA, sukses menyelenggarakan Training of Facilitator SPAB (Satuan Pendidikan Aman Bencana) selama tiga hari, mulai Senin hingga Rabu, 14–16 Juli 2025. Bertempat di GKB IV UMM, pelatihan ini diikuti oleh anggota aktif dari Maharesigana yang telah disiapkan untuk menjadi fasilitator program SPAB yang akan diterjunkan langsung ke lapangan.
Tujuan utama kegiatan ini adalah untuk meningkatkan kapasitas relawan mahasiswa dalam bidang kebencanaan. Lebih dari sekadar pelatihan, ToF SPAB juga menjadi langkah awal untuk membentuk jaringan fasilitator yang akan mendampingi 30 sekolah di 3 kabupaten/kota dengan fokus pada sekolah tingkat SMA/SMK sederajat.
SPAB merupakan program nasional yang bertujuan menjadikan sekolah sebagai lingkungan yang aman, siap menghadapi bencana, serta memiliki sistem tanggap darurat yang baik.
MAHARESIGANA sebagai garda depan relawan kemanusiaan kampus, mengambil peran strategis dalam menyukseskan implementasi SPAB di daerah.
“Para fasilitator SPAB yang telah kami bentuk akan diturunkan untuk melakukan pendampingan di 3 kabupaten/kota dengan target 30 sekolah, khususnya SMA/SMK sederajat. Ini adalah bentuk kontribusi nyata Maharesigana dalam membangun ekosistem pendidikan yang tanggap dan aman dari bencana,” ujar Indra Ferry, selaku Pembina MAHARESIGANA UMM.

Pengenalan Materi Kebencanaan
Selama pelatihan, peserta menerima berbagai materi mulai dari pengenalan risiko bencana, metode fasilitasi, penyusunan rencana di lingkungan sekolah, hingga simulasi evakuasi. Kegiatan ini menggabungkan pendekatan teoritis dan praktis agar peserta tidak hanya paham, tetapi juga mampu mengaplikasikan langsung di lapangan.
Pelatihan ini juga dirancang agar menyenangkan dan interaktif. Diskusi kelompok, simulasi, dan refleksi menjadi bagian penting yang membuat peserta lebih aktif dan terlibat.
Salah satu peserta, Bella Virgitania Afifa, membagikan pengalamannya yang sangat berkesan.
“Sangat bermanfaat karena saya rasa apa yang disampaikan benar-benar memuaskan dan bisa dipahami. Ditambah, suasananya juga menyenangkan,” katanya.
“Harapannya untuk ke depan bisa dipertahankan dan ditingkatkan sesuai perkembangan zaman. Karena ini pengalaman pertama saya, saya jadi lebih terbuka soal pentingnya pendidikan bencana di sekolah. Saya juga mulai peka bahwa di sekolah, banyak hal yang bisa jadi potensi bahaya seperti tangga curam, kurangnya tim siaga, atau fasilitas yang tidak aman. Ini harus dibenahi jika ingin sekolah benar-benar jadi tempat aman,” sambungnya.
Regenerasi
Pelatihan ini juga menjadi langkah awal regenerasi fasilitator di tubuh MAHARESIGANA untuk periode 2025–2027.
Ketua pelaksana kegiatan, Muhammad Sulthon Faiz Husein, menyebutkan bahwa mereka ingin menciptakan relawan yang tak hanya tahu. Tapi juga mampu menyebarkan pengetahuan itu secara aktif.
“ToF SPAB ini sangat penting untuk membangun kapasitas relawan dan mahasiswa agar dapat menjadi agen perubahan di lingkungan sekolah dan kampus, khususnya dalam pengurangan risiko bencana. Mengutip Presiden BJ Habibie, ‘Berikan aku 10 pemuda, akan kuguncangkan dunia’. Tapi saya percaya, berikan aku anak-anak MAHARESIGANA, maka akan kubawa menjaga dunia,” ungkap Sulthon
Kegiatan ditutup dengan simulasi kebencanaan dan sesi refleksi mendalam, yang menguatkan pemahaman dan komitmen para peserta untuk menjalankan perannya sebagai fasilitator di tengah masyarakat.







