Rektor Nazaruddin Malik Lepas 3.010 Mahasiswa KKN UMM Berdampak

UMM Siap Perkuat Ketahanan Pangan melalui Pengabdian Mahasiswa

Seremoni pelepasan burung merpati  di Helipad Unversitas Muhammadiyah Malang (UMM), Senin (21/7/2025) oleh Rektor Prof. Dr. Nazaruddin Malik, SE., M.Si., menjadi simbol dilepasnya 3.010 mahasiswa dalam Program KKN UMM Berdampak.

Pelepasan Mahasiswa KKN UMM Berdampak
Pelepasan 3.010 mahasiswa program KKN UMM Berdampak. (Janu)

Ribuan mahasiswa ini akan disebar ke 53 kabupaten/kota di 12 provinsi se-Indonesia, dari Sumatera hingga Sulawesi dan Kalimantan untuk melaksanakan pengabdian.

Rektor Nazaruddin Malik menjelaskan KKN UMM Berdampak merupakan transformasi dari program KKN reguler tahun-tahun sebelumnya. Tahun ini, dua fokus utama yang diangkat adalah ketahanan pangan dan pelestarian lingkungan.

“Mahasiswa harus menjadi alat untuk mempelopori agar masyarakat mulai peduli pada upaya kita memperkuat ketahanan pangan dan menjaga kelestarian lingkungan, dengan metode-metode yang mereka telah dibekali di dua bidang pokok itu,” terangnya.

Rektor UMM Nazaruddin Malik. (Janu)

Program ini juga menjadi bagian dari lanjutan seruan Kemendikbudristek agar keberadaan kampus lebih dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.

Mahasiswa dituntut untuk tidak sekadar formalitas, tetapi benar-benar memberi solusi dan menciptakan proyek unggulan berbasis kebutuhan lokal.

Gandeng Kementerian ATR/BPN, Percepat Sertifikasi Tanah

Tahun ini, KKN UMM berkolaborasi dengan Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN) untuk menangani percepatan sertifikasi tanah wakaf.

Wakil Rektor IV UMM Muhamad Salis Yuniardi mengatakan, melalui kerja sama yang akan dilakukan selama dua tahun ini,  mahasiswa diharapkan dapat bekerja sama dengan petugas ATR/BPN dalam pemetaan lahan publik, seperti masjid dan sekolah.

“Nanti kita bantu BPN ATR untuk percepatan tadi proses. Karena dalam penyelesaian masalah administrasi tanah wakaf itu tenaganya ATR kan tidak mencukupi kalau harus turun, penyelesaian konflik, ukur tanah, dan sebagainya itu,” jelas Salis.

Wakil Rektor IV UMM, Muhamad Salis Yuniardi. (Janu)

Pemetaan dilakukan bukan hanya di lokasi-lokasi Muhammadiyah, tetapi juga mencakup tanah wakaf lintas agama dan organisasi. Bahkan, wilayah terjauh yang dijangkau hingga Riau, Sulawesi, dan Kalimantan.

Meski belum sampai Papua, distribusi peserta memperhatikan keterlibatan mahasiswa asal daerah setempat untuk memperlancar adaptasi dan keberlangsungan program.

Salis juga menambahkan, kegiatan seperti mengajar TPA atau membantu acara 17 Agustus bukanlah program inti. Setiap kelompok ditantang membuat proyek unggulan yang berdampak langsung. Salah satu contohnya adalah inovasi pengolahan hasil pertanian agar lebih bernilai ekonomis.

Dijelaskan, melaui program ini mahasiswa mendapatkan bekal keterampilan praktis serta pengalaman lintas sektor. Mereka juga telah menerima pembekalan khusus dari ATR/BPN, mulai dari hukum pertanahan hingga teknis pengukuran dan administrasi wakaf.

Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *