Malanginspirasi.com – Tak sekadar melepas mahasiswa ke desa, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) juga menunjukkan keseriusannya dalam memastikan setiap program KKN-PMM benar-benar memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. Hal itu terlihat dari komitmen Dosen Pembimbing Lapangan (DPL), Wahid M. Shodiq, S.P., M.P., yang secara langsung melakukan dua kali pemantauan intensif terhadap sembilan kelompok mahasiswa bimbingannya di Kecamatan Wagir, Kabupaten Malang.
Sebanyak sembilan kelompok mahasiswa tersebar di empat desa, yakni Sidorahayu, Sumbersuko, Sidodadi, dan Sitirejo.
Pemantauan pertama dilaksanakan pada tanggal 2 Agustus 2025, dengan agenda kunjungan ke kelompok di Desa Sidorahayu dan Sumbersuko.
Di Desa Sidorahayu, DPL turut menyaksikan pelaksanaan program unggulan yang terintegrasi dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya pada aspek ketahanan pangan dan keberlanjutan lingkungan.
Mahasiswa melaksanakan pemasangan enam titik biopori, penanaman toga sebagai apotek hidup, dan penghijauan pekarangan rumah dengan tanaman hortikultura.
Sementara itu, di Desa Sumbersuko, perhatian difokuskan pada permasalahan lingkungan. Salah satu program utama kelompok di sana adalah pemasangan papan edukasi tentang waktu penguraian sampah anorganik.
Upaya ini diambil sebagai respon atas rendahnya kesadaran warga dalam membuang sampah pada tempatnya. Dengan pendekatan visual yang informatif, mahasiswa berharap dapat mendorong perubahan perilaku masyarakat terhadap pengelolaan sampah.
Pemantauan kedua dilakukan pada tanggal 6 Agustus 2025, yang difokuskan pada kegiatan monitoring dan evaluasi program.
Selain menilai keberlanjutan dan efektivitas pelaksanaan, kesempatan ini juga digunakan untuk menjalin silaturahmi dengan perangkat desa.
Dalam dialog hangat, DPL menyampaikan apresiasi atas keterbukaan desa dalam mendukung kegiatan mahasiswa. Tak hanya itu, UMM juga memperkenalkan lebih lanjut profil kelembagaannya melalui pembagian booklet, sebagai bentuk promosi dan ajakan kolaborasi lebih lanjut.
Di samping pemantauan lapangan, DPL juga melakukan pengawasan secara daring setiap hari melalui laporan harian yang dikirimkan oleh mahasiswa, serta laporan mingguan sebagai bagian dari mekanisme pelaporan rutin kepada LPPM-UMM. Hal ini memastikan bahwa program berjalan dengan kontrol dan pembinaan yang berkesinambungan.
Hasil monitoring menunjukkan capaian yang membanggakan dari tiap kelompok. Di Desa Sitirejo, mahasiswa sukses melaksanakan asesmen tumbuh kembang anak di lima dusun.
Selain itu, kelompok ini juga menyelenggarakan sosialisasi mengenai dasar-dasar hukum dalam kehidupan masyarakat sebagai upaya preventif untuk mencegah potensi konflik antarwarga dan meningkatkan pemahaman hukum secara umum.
Di Desa Sidorahayu, selain menyelesaikan kegiatan ketahanan pangan, mahasiswa juga telah memetakan 60% wilayah dusun, termasuk pencatatan rumah dan kepala keluarga.
Di Desa Sidodadi, pelatihan pembuatan sabun dari limbah jeruk telah sukses digelar. Selanjutnya, kelompok ini tengah bersiap mengadakan pelatihan ecoenzim dan ecoprint yang dijadwalkan berlangsung pada minggu ketiga Agustus.
Di Desa Sumbersuko, selain memasang papan edukasi sampah, kelompok mahasiswa juga aktif mendampingi UMKM untuk proses pengajuan Sertifikat Halal sebagai bentuk penguatan produk lokal.
Tak hanya berfokus pada program tematik, seluruh peserta PMM juga aktif mendukung kegiatan desa, seperti membantu persiapan dan pelaksanaan acara semarak kemerdekaan yang menjadi bagian dari kehidupan sosial masyarakat setempat.
Melalui rangkaian pemantauan ini, DPL Wahid M. Shodiq menegaskan bahwa kehadiran mahasiswa tidak hanya menjadi pelengkap aktivitas desa, tetapi justru menjadi penggerak perubahan melalui pendekatan edukatif, partisipatif, dan berkelanjutan.
“Kami berharap bahwa apa yang telah dilakukan mahasiswa bisa menjadi kontribusi nyata yang berkelanjutan, serta membuka ruang kolaborasi lebih luas antara desa dan kampus di masa mendatang,” ujarnya.
Dengan keterlibatan aktif dan pengawasan langsung oleh pembimbing lapangan, pelaksanaan KKN-PMM UMM di Kecamatan Wagir tidak hanya memenuhi kewajiban tridarma. Tetapi juga menjadi wujud nyata kontribusi kampus bagi pembangunan desa.









