Bahas Akar Terorisme, Webinar Moderasi Beragama PC IMM Malang Raya

Malanginspirasi.com – Pimpinan Cabang Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (PC IMM) Malang Raya menggelar Webinar Moderasi Beragama bertajuk “Mengurai Akar Terorisme: Perspektif Sosial, Ekonomi dan Ideologi di Balik Aksi Kekerasan”, Rabu (20/8/2025). Kegiatan ini merupakan respons terhadap peran strategis mahasiswa dan organisasi keagamaan Islam dalam penguatan moderasi beragama, sebagaimana yang telah dirumuskan oleh Kementerian Agama Republik Indonesia.

Webinar ini, yang diikuti oleh puluhan kader IMM Malang Raya dan Jawa Timur. Menjadi wadah dialog penting bagi kader, pakar, dan elemen masyarakat untuk bersama-sama menganalisis akar masalah terorisme dari berbagai sudut pandang.

Hadir sebagai narasumber, Prof. Gonda Yumitro, M.A., Ph.D., seorang pakar terorisme dari Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), dan Nafik Muthohirin, S.Pd.I., MA.Hum., Dosen Fakultas Agama Islam (FAI) UMM.

Prof. Gonda Yumitro dalam paparannya menjelaskan bahwa isu terorisme dan radikalisme bukanlah fenomena yang muncul secara tiba-tiba. Ia menekankan terorisme merupakan produk dari berbagai faktor kompleks, termasuk faktor global, regional, nasional, dan kultural.

“Agama hanya menjadi alat justifikasi terorisme. Jika ditelisik lebih jauh, motif terorisme sangatlah beragam. Ada yang karena faktor kemiskinan, ketidakadilan, rasa tidak aman, psikological disorder, atau bahkan ajang eksistensi diri,” katanya.

Sementara itu, Nafik Muthohirin mengutip analisis dari Bassam Tibbi, yang menyatakan bahwa pasca runtuhnya Uni Soviet dan Turki Utsmani, Barat cenderung tidak memiliki musuh yang sepadan. Oleh karena itu, menurut Tibbi, Barat kemudian menciptakan musuh baru, yaitu komunitas umat Islam.

“Sebagian umat Muslim merasa termarginalisasi, merasa tersubordinasi dalam berbagai bidang. Sehingga ideologi yang mengedepankan kekerasan dianggap sebagai alternatif dalam membalikkan kedigdayaan umat Islam seperti pada masa Turki Utsmani dulu,” terangnya.

Peran Media Sosial

Nafik juga menyoroti pemanfaatan media sosial oleh kelompok radikal sebagai cara baru untuk menyebarkan ideologi ekstremisme. Artikel, gambar, dan video yang mengandung pesan intoleran menjadi alat propaganda dan sarana rekrutmen anggota.

“Hari ini ideologi ekstremisme bisa menyasar siapapun dan melalui sumber apapun. Baik melalui kajian dan halaqah di masjid, kampus atau kompleks perumahan. Ataupun melalui narasi keagamaan yang dipublikasikan di media sosial,” pungkasnya.

Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *