Malanginspirasi.com – Kurikulum yang diterapkan Prodi Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) memperoleh apresiasi dari Prodi Komunikasi Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya. Hal ini disampaikan ketika Komunikasi Untag berkunjung ke Komunikasi UMM, Jumat (22/8/2025).
“Akhirnya kami memperoleh jawaban dan gambaran yang kami butuhkan setelah berdiskusi dengan Komunikasi UMM,” kata Wakil Dekan FISIP Untag, Mohammad Insan Romadhan.
Insan bersama tiga pimpinan Prodi Komunikasi Untag berdiskusi dengan Kaprodi Komunikasi UMM, Nasrullah. Turut hadir Sekretaris Prodi Jamroji dan Isnani Dzuhrina, Kepala Lab Widiya Yutanti dan Humas Prodi Rahmania Santoso.
Sebelum ke UMM, Untag juga telah melakukan bench mark ke Universitas Brawijaya dan Universitas Ciputra. Insan mengaku justru dari UMM pihaknya memperoleh inspirasi mengembangkan kurikulum yang adaptif terhadap perubahan.
“Kami sudah lama mendengar tentang praktikum dan lab Komunikasi UMM. Ini sudah semacam menjadi legend, dikenal di mana-mana,” tambahnya.
Itulah sebabnya Untag merasa perlu diskusi dan melihat langsung kurikulum dan lab Komunikasi UMM.
Kurikulum dan Laboratorium
Hal senada diakui Kepala Prodi Komunikasi Untag, Hajidah Fildzahun Nadhilah Kusnadi.
Menurut Kaprodi yang baru seminggu menggantikan Insan ini, wajar saja Komunikasi UMM dikenal sangat unggul.
“Ternyata kekuatannya ada di kurikulum dan laboratorium,” ungkap Hadijah.
Apa keunggulan kurikulum Komunikasi UMM? Nasrullah menerangkan pihaknya merancang kurikulum berdasarkan penciri creative digital communication.
Selain itu, kurikulum harus menjamin tercapainya profil lulusan yang hendak menjadi akademisi, praktisi, enterpreneur, maupun sebagai gig professional.
“Kami mencermati bahwa lulusan S1 Komunikasi harus mencapai level 6 dalam standar SKKNI, di mana kompetensi konseptual dan manajerial harus ditopang dengan operational skill,” imbuhnya.
Untuk menjaga kualitas lulusannya, Komunikasi UMM menekankan praktikum semirip mungkin dengan budaya kerja yang sesungguhnya.
“Mahasiswa diberi tantangan kerja yang mendekati riil di dunia kerja komunikasi. Jadi tidak sekedar simulasi atau moke up,” tambah Jamroji.

Selain praktikum yang menjadi andalan, Komunikasi UMM juga menyediakan jalur khusus Center of Excellent (CoE). Mahasiswa yang berminat dan terseleksi jalur ini akan mengikuti kelas khusus berbobot 40 sks dengan kurikulum yang sudah disusun bersama mitra kerja Prodi.
Tiga tahun terakhir kelas CoE yang dibuka adalah Social Media for Branding.
“Setelah satu semester kuliah kelas, dilanjutkan internship di mitra DUDI yang sejak awal dilibatkan baik dalam penyusunan kurikulum, sebagai instruktur maupun mentor magang,” terang Widiya.
Skema CoE ini, menurut Widiya, menjadi alternatif menyiasati kekakuan kurikulum. Sebab dengan CoE inilah mahasiswa bisa memilih sesuai minatnya. Jika trendnya berubah, kurikulum dan mitra DUDI program ini juga bisa dengan mudah digeser atau diubah.
Pihak Untag mengaku sangat tertarik dengan cara UMM ini. Namun diakuinya tidak mudah meniru sebab masing-masing kampus memiliki birokrasi yang berbeda.
“Terima kasih kepada Komunikasi UMM yang telah menerima kami. Semoga dapat bekerjasama lebih lanjut lagi,” pungkas Insan.







